Selasa, 06 Januari 2026

Humor versus Lawak

 


๐—•๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ ๐—›๐˜‚๐—บ๐—ผ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—Ÿ๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐—ธ


Lawak, yang kerap kita saksikan di televisi Indonesia tempo dulu (sekarang saya jarang menonton siaran lawak TV), adalah mengolok-olok, mencela, dan menertawai orang lain. Ada pihak yang dirundung secara sengaja untuk menciptakan lelucon. Ada pihak lain yang dikorbankan, dijadikan kobokan, objek penderita. Tentu orang tidak lupa pada Pak Bรจndot yang selalu menjadi korban lawakan Srimulat.


๐—›๐˜‚๐—บ๐—ผ๐—ฟ ๐—ท๐˜‚๐˜€๐˜๐—ฟ๐˜‚ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ผ๐—น๐—ฎ๐—ธ ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—น๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐—ธ. Humor justru mencela, mengolok-olok, dan menertawai diri sendiri, keluarga sendiri, kelompok sendiri, suku sendiri, bahkan bangsa sendiri. Humor mengalihrupa (๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ด๐˜ง๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ) tragedi hidup dirinya menjadi lelucon. Mark Twain mengatakan bahwa sumber humor adalah penderitaan, kebodohan, dan kesengsaraan diri sendiri. ๐—ฃ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ป๐˜†๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ๐˜ ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ธ-๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ธ ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—น๐—ฎ๐—ถ๐—ป, ๐˜๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—ถ ๐—ท๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐˜๐—ถ ๐—ท๐˜‚๐˜€๐˜๐—ฟ๐˜‚ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ผ๐—ป๐˜๐—ผ๐—ป๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ๐˜ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—ฑ๐˜‚๐—ป๐—ถ๐—ฎ. Presiden Gus Dur ketika didesak mundur oleh lawan politiknya dengan enteng beliau menjawab: “๐˜”๐˜ข๐˜ซ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ณ.”


Keterusterangan dan kejujuran memang menakutkan. Jenakawan sejati senantiasa mampu menemukan humor dalam momen yang serius, termasuk tragedi dalam hidupnya, dialihrupakan menjadi lelucon. Saya terus belajar bagaimana menghumor, menertawai diri sendiri. Tidak ada yang dibanggakan nilai sekolah saya. Di perguruan tinggi IPK saya megap-megap. Kerap rekan kerja saya bertanya mengenai sekolah saya.


“๐˜’๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข, ๐˜๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฏ?“ tanya rekan saya.

“๐˜Œ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฏ.“ jawab saya.

“๐˜’๐˜ฐ๐˜ฒ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข?”

“๐˜๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฉ๐˜ฐ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ.”


Ia tertawa ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ dan berhenti bertanya. Apa yang terjadi jika saya menjawab dengan alasan lain? Saya meyakini ia akan mengejar terus dengan pertanyaan tidak penting dan saya akan menguras energi melakukan pembelaan.


Saya dapat menunjukkan lagi bahwa humor bersumber dari penderitaan hidup. Ketika anda melakukan reuni mengapa anda bisa tertawa-tiwi tanpa henti saat bertemu sobat-sobat lama? Tentu saja anda menertawai penderitaan masa lalu entah itu kekonyolan saat sekolah, entah itu diusir guru dari kelas, entah itu ditolak oleh bakal calon pacar, entah itu jual celana jins demi bisa menonton ๐˜Ž๐˜ฐ๐˜ฅ ๐˜‰๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด, dan lain sejenisnya. Penderitaan bahkan tragedi saat sekolah anda alihrupakan menjadi lelucon yang menghibur diri anda dan orang lain. Dari  sini anda sebenarnya berbakat menjadi jenakawan sejati.


๐—›๐˜‚๐—บ๐—ผ๐—ฟ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ท๐˜‚๐—ธ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐˜„๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ป. Bangsa ini kurang waras karena lebih gemar melawak, yaitu sibuk mencari dan menunjuk cacat-cacat orang lain. Mereka lupa melihat cacat diri sendiri. Selama orang tidak bisa berhumor, selama itu pula orang tidak waras. 


Juga jangan berharap humor ada di surga karena sumber humor adalah penderitaan atau cacat diri sendiri. Konon surga itu isinya senang-senang, bahagia, jingkrak-jingkrak, tidak ada penderitaan, tidak ada cacat. Itulah sebabnya tidak ada humor di surga.


“๐˜Œ๐˜ท๐˜ฆ๐˜ณ๐˜บ๐˜ต๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ค. ๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ค๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ค๐˜ฆ ๐˜ฐ๐˜ง ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ช๐˜ต๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ง ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ต ๐˜ซ๐˜ฐ๐˜บ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ธ. ๐˜›๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฏ๐˜ฐ ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ท๐˜ฆ๐˜ฏ.” Mark Twain


MDS 

Dari akun fesbuk Efron Bayern