Kamis, 09 Juni 2016

Belajar Gender dan Orientasi Seksual dari Pernikahan Aming

Dicopas dari link ini.


Saya ucapkan selamat menempuh hidup baru untuk aktor Aming Supriatna Sugandhi yang menikah dengan dengan Evelyn Nada Anjani yang akrab disapa Kevin. Saya sendiri tidak kenal secara personal dengan Aming, tapi pernikahannya amat membantu saya untuk memberikan contoh yang tepat untuk memahami konsep-konsep dalam gender dan seksualitas. Khususnya hubungannya dengan negara dan masyarakat.
Tulisan ini akan membedah bagaimana masyarakat kita melihat gender dan seksualitas yang acap kali kabur dan membuat kita menyadari bahwa kita mempunyai standar norma tertentu terhadap hubungan antar manusia menyangkut seks.
Gender Sebagai Pertunjukan
Menurut Judith Butler, tak ada kondisi alamiah bagi seorang manusia selain penampakan tubuhnya. Pemikir post-strukturalis ini dikenal melalui beberapa bukunya seperti Gender Trouble dan Bodies that Matter. Dia menjelaskan bahwa gender adalah sebuah pertunjukan drag yang ditunjukkan dan diuji kepada keluarga, teman, dan masyarakat.
Masyarakat mengajarkan dan menguji agar manusia dengan penis yang dimiliki bersikap maskulin sebagai pria ataupun manusia bervagina untuk menjadi perempuan dan bersikap feminim. Dengan begitu, kita mampu melihat bahwa realitas biologis adalah sebuah “kodrat” dan peran gender adalah konstruksi.
Dalam dua foto Aming dan Kevin yang beredar di laman hiburan memperlihatkan dengan jelas bahwa gender bisa berubah dan sifatnya cair. Pada foto pernikahannya, kita dapat melihat bahwa Kevin alias Evelyn, yang sehari-harinya bersikap “tomboi”, menggunakan simbol untuk mengganti gendernya menjadi wanita, yakni dengan menggunakan pakaian wanita.
Sedangkan Aming, yang pernah berperan menjadi waria pada video clip Project Pop berjudul Jangan Ganggu Banci, terlihat menggunakan pakaian pria dan mereka terlihat bahagia. Foto kedua terlihat mereka bertukar gender: Aming menjadi wanita dan Kevin menjadi pria. Secara biologis mereka terlahir sebagai pria dan wanita, tetapi ternyata gender bisa berubah-ubah dan sifatnya cair karena memang gender adalah sebuah konstruksi sosial.
Pernikahan mereka dicatat secara resmi dan diakui negara. Hal itu terlihat dari foto buku nikah mereka berdua yang dipamerkan. Karena negara sudah disebutkan melalui representasi buku nikah tersebut, kita harus melihat bagaimana peraturan tentang menikah di Indonesia.
Dalam Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan tahun 1974 dijelaskan, “Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Mahaesa.”
Hal yang bisa ditekankan dalam pernyataan tersebut adalah negara mengatur gender untuk menikah, yakni wanita dan pria bukan alat kelamin atau seksnya.
Teori tentang Queer
Pernikahan ini juga memperlihatkan bahwa jenis kelamin, gender, dan orientasi seksual adalah tiga hal yang terpisah. Pria yang berpenampilan kemayu dan dianggap melambai selalu dipertanyakan orientasi seksualnya. Pria kemayu selalu diidentikkan dengan gay, anak laki-laki yang bersikap seperti perempuan juga kerap kali mengalami bullying dan diskriminasi oleh keluarga dan teman sepergaulannya. Padahal belum tentu pria bersikap kemayu itu gay.
Begitu pula wanita yang berpenampilan laki-laki sering dianggap tomboi dan dicap lesbian. Masyarakat sering meletakkan jenis kelamin, ekspresi gender, dan orientasi seksual dalam satu garis lurus. Seperti jika kamu mempunyai penis, kamu harus menjadi pria dan menyukai lawan jenisnya. Dan jika kamu memiliki vagina, kamu harus menjadi perempuan dan harus mempunyai hasrat kepada laki-laki yang memiliki penis.
Dikotomi wanita-pria, gay-lesbian, penis-vagina, feminim-maskulin juga menjerat kita pada pemahaman oposisi biner. Kenyataannya, ekspresi gender, jenis kelamin, dan orientasi seksual tidak sesederhana itu.
Pada kasus interseks misalnya, jika menyandarkan kategori wanita-pria terbatas pada konstruksi di masyarakat, maka manusia yang dilahirkan dengan dua jenis kelamin sulit mendapati dirinya cocok pada norma yang berlaku di masyarakat. Interseks dilahirkan dengan dua jenis kelamin dan “dipaksa” untuk memilih jenis kelamin berikut gendernya.
Untuk orientasi seksual tidak terbatas pada gay-lesbian dan heteroseksual, ada pula biseksual yang berhasrat pada jenis kelamin apa pun atau panseksual yang berhasrat pada beragam ekspresi gender.
Kenyataan yang ada di masyarakat tersebut melahirkan Queer Theory. Queer adalah istilah yang digunakan pada Gerakan Masyarakat Sipil di Amerika tahun 1980-an sebagai bentuk “merebut bahasa” istilah yang digunakan oleh akademisi Queer Indonesia, Hendri Yulius. Penggunaan kata Queer sebelum abad ke-20 mengandung makna peyoratif yang digunakan oleh kelompok atau individu yang homofobik dan tidak setuju dengan seksualitas non-normatif dengan tujuan menghina.
Heteronormativitas
Kurangnya pemahaman masyarakat bahwa jenis kelamin, ekspresi gender, dan orentasi seksual adalah hal yang berbeda menggiring masyarakat pada diskriminasi. Ketidaktahuan membuat kita bersikap tak adil pada orang lain yang berbeda. Pemahaman jenis kelamin, ekspresi gender, dan orientasi seksual yang berupa garis lurus dan hanya terbatas pada perempuan dan laki-laki menjebak kita pada suatu norma sosial yang diberi nama heteronormativitas.
Heteronormativitas merumuskan norma tidak hanya pada manusia yang dianggap berperilaku menyimpang terkait gender dan seksualitasnya, tapi juga norma lain yang terkait dengan pembentukan keluarga batih seperti menjadikan menikah heteroseksual sebagai suatu kewajiban. Ketakutan tidak beralasan atau fobia menjakiti masyarakat kita sehubungan dengan hetero sebagai norma utama yang tak bisa diganggu guggat.
Homophobia adalah terminologi yang digunakan untuk kelompok atau individu yang merasa ketakutan terhadap lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBTQ). Sebab, mereka merasa enggan untuk mengetahui bahwa gender adalah konstruksi sosial sehingga ketakutan dan kebencian dianggap sebagai cara terbaik untuk melindungi “tatanan sosial”. Padahal dalam realitas di Indonesia saja, Indonesia jauh lebih ramah dalam menerima gender shifting yang banyak ditemukan dalam pementasan tari tradisional di Indonesia.
Homophobia adalah warisan dari peradaban imperialisme Barat yang berasal dari tradisi Katolik. Tradisi imperialisme ini juga membakukan institusi pernikahan yang harus heteroseksual dan seagama.
Heteronormativitas juga merugikan wanita dan pria yang heteroseksual. Stigma perawan tua dan perjaka ting-ting adalah bagian dari budaya heteronormativitas ini. Begitu pula dengan pertanyaan bernada cibiran “kapan kawin” atau “bapak, kok, kerjanya di rumah tapi istrinya kelayaban”.
Heteronormativitas melahirkan stigma dan diskriminasi yang merugikan tidak hanya berbentuk dalam percakapan sehari-hari, tapi juga norma seperti wanita identik dengan dapur, sumur, kasur, dan laki-laki yang harus maskulin dengan tidak harus merepresi emosi dan perasaan sensitifnya.
Cibiran heteronormatif ini muncul pada komentar-komentar netizen terhadap pernikahan Aming dan Kevin yang dianggap “pernikahan sejenis”. Padahal secara biologis pasangan ini berbeda jenis hanya memiliki gender amat cair dan bertukar-tukar. Masyarakat yang terjebak pada heteronormativitas menjadikan heteroseksual sebagai norma kaku berikut dengan ekspresi gender dan jenis kelaminnya.
Netizen yang mencibir terperangkap dalam gender sebagai identitas final tanpa melihat kemungkinan partikular yang selalu bisa terjadi pada masyarakat yang beragam ini.
Terkait:

Sabtu, 13 Februari 2016

Homoseksual adalah variasi dari alam semesta

Diambil dari link ini.

JAKARTA, Indonesia—Dokter Roslan Yusni Hasan, ahli neurologi yang mendalami struktur, fungsi, dan penyakit dan gangguan pada sistem saraf, menawarkan penjelasan tentang keberadaan kaum lesbian, gay, dan biseksual dari sudut ilmu biologi.
Menurut dokter yang menempuh pendidikan di Universitas Airlangga, Surabaya pada 1985 ini, menentukan jenis kelamin seseorang tak semudah menuliskannya di Kartu Tanda Penduduk: Laki-laki atau perempuan.
“Sekarang menentukan seorang laki-laki atau perempuan itu sulit,” kata dokter yang akrab dipanggil Dokter Ryu ini dalam diskusi ‘LGBT: Mitos atau Fakta’ yang diselenggarakan oleh Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK), Selasa, 9 Februari.
Mengapa sulit? “Karena kalau kita melihat secara genetik, kromosom XY itu belum tentu laki-laki, dan XX belum tentu perempuan,” katanya. Dalam dunia kedokteran, laki-laki mempunyai kromosom XY, sedangkan perempuan XX.
“Terkadang bentuk kelamin itu meragukan. Misalnya, ada bentuk klitoris perempuan tapi tidak melekuk, kita bertanya ini perempuan atau laki-laki,” katanya lagi. Jenis kelamin itu bervariasi, tak hanya dualisme laki-laki dan perempuan.
Ada berbagai kasus yang dipaparkan Dokter Ryu terkait jenis kelamin ini. Ada yang memiliki penis berukuran kecil, tapi di bawahnya menempel klitoris yang tak bisa membelah. Ada juga yang memiliki klitoris tapi tak punya uterus atau rahim sehingga tak bisa menstruasi.
Mengapa bisa terjadi demikian?
Dokter Ryu menjelaskan bahwa pada awalnya semua dibentuk oleh hormon seks. “Otak seperti kita sekarang ini dipicu oleh hormon awal kehidupan kita saat menjadi janin, perilaku kita juga dikendalikan oleh hormon tersebut,” katanya.
Saat janin masih berusia 0-8 minggu, jenis kelaminnya adalah perempuan (baik yang berkromosom XX maupun yang XY). “Pada dasarnya kita semua perempuan, kemudian terjadi perubahan diferensiasi atau perbedaan yang menjadikan kita tetap menjadi perempuan atau bergeser menjadi laki-laki (pada umumnya dipicu kromosom Y),” katanya.
Apa yang memicu perubahan jenis kelamin di minggu kedelapan? “Adalah impuls (Gen SRY) pada saraf yang kemudian mengatur pembentukan organisasi di bawahnya,” katanya.
Rangsangan dari Gen SRY itulah yang memincu lonjakan hormon testosteron yang menjadikan seseorang memiliki kromosom XY atau laki-laki. Jika tidak ada hormon testosteron maka ia akan tetap menjadi perempuan. Inilah yang disebut dengan proses maskulinisasi dan defemininisasi.
“Tapi gen SRY tidak selalu memberikan dampak yang sama. Jadi kelaki-lakian seseorang itu enggak sama. Enggak ada orang yang murni 100 persen perempuan, dan 100 persen laki-laki,” katanya.
Menurut Dokter Ryu, proses tersebut disebut neural input, yang nanti akan memicu seseorang cenderung menjadi laki-laki atau perempuan.
Saat janin sudah berumur 15 minggu, maka terbentuklah struktur jenis kelamin tersebut. Ketika terbentuk, hasilnya tak selalu 100 persen laki-laki atau 100 persen perempuan. Itulah yang disebut dengan disformisme seksual.
Tapi karena masyarakat hanya menggolongkan dua jenis kelamin saja, laki-laki dan perempuan, maka khalayak umum pun bingung dengan jenis-jenis yang lain.
Apakah bisa terjadi perubahan dalam proses pembentukan jenis kelamin?
Menurut Dokter Ryu, pembentukan struktur jenis kelamin tak bisa dipengaruhi oleh variabel lain. Struktur itu sudah terbentuk di otak. Apalagi dipengaruhi oleh faktor eksternal, misalnya karena bergaul dengan kaum homoseksual.
Dokter Ryu melanjutkan ada satu hormon yang bernama estradiol yang bertanggungjawab pada maskulinisasi. Pada saat janin berproses membentuk struktur jenis kelamin, hormon ini bisa jadi turun kinerjanya sehingga anak yang lahir maskulinisasinya tidak maksimal. “Tapi itu hanya satu dari sekian variabel, bukan satu-satunyanya yang menentukan,” katanya.
Bagaimana dengan seorang lesbian, gay, dan biseksual?
“Ya itulah variasi alam semesta. Tidak ada manusia yang identik, semua berbeda. Spektrum antara laki-laki dan perempuan itu luas, tidak ada yang sama,” katanya.
Sehingga munculkan jenis kelamin selain laki-laki dan perempuan. Yang ditemukan justru kemiripan, tapi tak identik.
Temuan peneliti LJ Gooren dan DF Swaab pada 1995 menunjukkan sirkuit otak pria homoseksual mirip gambarnya dengan perempuan heteroseksual. Penelitian itu menyimpulkan bahwa ada interaksi antara otak yang berkembang dengan hormon seks seperti yang dijelaskan Dokter Ryu di atas. Baca laporan lengkap peneliti tersebut di sini.
Tak bisa menular
Bagaimana dengan anggapan bahwa homoseksualitas bisa menular? Dokter Ryu menegaskan bahwa bakat menjadi homoseksual ada sejak otak terbentuk, bukan karena pengaruh lingkungan atau bergaul dengan kaum LGBT.
“Kalau seseorang yang berbakat homoseksual bergaul dengan homoseksual, bisa terpicu. Tapi kalau dia tidak berbakat homoseksual, dia tidak akan terpicu. Seperti orang yang berbakat musik, jika tidak pernah dikenalkan pada alat musik, maka dia tidak akan pernah terasah bakatnya menjadi pemusik,” ujarnya.
Lalu apakah ini berarti bahwa kaum LGBT tidak normal karena bukan heteroseksual? Dalam sains, tidak dikenal normal atau tidak normal. “Begitulah semesta, ini hanyalah variasinya," katanya. —Rappler.com



BACA JUGA

Minggu, 10 April 2011

Adakah Engkau di Surga sana oh Tuhan?


Aku menyeruput kopi panas dengan nikmatnya. Seperti hari-hari lainnya, kota Edington di musim gugur selalu dicekam dingin yang menusuk. Segelas kopi panas beserta setungkup hamburger sudah menjadi menu yang luar biasa di Bed & Breakfast yang aku tumpangi ini.  Sekarang aku berada di Skotlandia, wilayah utara Kerajaan Inggris Raya, di tahun 1903.

Dari bau harumnya yang khas aku sudah yakin bahwa biji kopi ini didatangkan dari kepulauan Nusantara. Lewat trading pedagang Inggris dan Belanda, kopi dari tanah ibu pertiwiku di bawa sampai ke mejaku. Sial, betapa jahatnya penjajahan. Sementara anak-anak bangsaku hidup dalam feodalisme dan kemiskinan, kekayaan tanahnya yang terbaik malah dinikmati orang luar.
Namun yang membuatku jauh lebih sedih adalah bahwa sampai sekarang masih berlangsung penjajahan dalam otak anak-anak negeriku. Sekalipun Indonesia telah merdeka 65 tahun, namun anak-anak bangsaku masih dijajah oleh isme-sme dari luar yang tidak sesuai dengan adab asli bangsaku. Isme-isme yang tidak berjejak pada keragaman dan keunikan anak-anak negeri ini. Isme-isme yang hanya membuat otak anak-anak bangsa ini berkiblat jauh ke barat, entah ke mekkah ataupun ke yerusalem. Isme=isme yang membuat garis marka yang rigid antara mukmin vs kafir, haram vs halal, umat yang telah diselamatkan vs umat yang belum diselamatkan. Tidak perlu lagi disebut-sebut tentang syahwat kekuasaan, kemunafikan, korupsi, dan ketidakjujuran yang melekat di dalam otak para politikus dan agamawan kita yang meluluhlantakan sendi-sendi kemanusiaan bangsa ini.  Aku menghela nafas panjang. Penat dan perih rasanya nurani ini jika mengingat-ingatnya.
Belum juga habis kopi ini, terdengar ada keributan di luar. Lelaki dan perempuan berhamburan disusul dengan beberapa polisi berkuda menuju suatu tempat tak jauh dari B&B tempat aku menginap. Aku tertarik untuk melihat apa yang tengah terjadi.

Ternyata baru saja sesosok mayat ditemukan. Seorang janda cantik dan kaya berumur 40 tahunan ditemukan tergeletak di atas sofa di rumah mewahnya. Tidak ditemukan bekas tikaman atau cekikan di tubuhnya. Begitu pula tetangga terdekatnya tidak mendengar suatu percekcokan antara si korban dengan siapapun dari tadi malam. Namun dari cara ia meninggal sudah jelas ia mati tidak wajar.

Polisi berusaha menjaga-jaga agar warga tidak mendekati TKP atau menyentuh apapun yang bisa dijadikan alat bukti. Tak lama kemudian muncullah seorang laki-laki kurus tinggi dengan Jaket selutut, dan bertopi aneh. Di bibirnya selalu terselip cangklong dengan asap yang mengepul tipis. Ia adalah Sherlock Holmes, detektif terkenal di Scotland Yard. Dengan sigap ia memakai sepasang sarung tangan karetnya, mengeluarkan buku catatan kecil dan bolpen, serta tidak ketinggalan kaca pembesar dan mulai meneliti si korban.

Ia memeriksa tingkat kekerasan jasad si korban, mencari tahu sudah berapa lama sang almarhumah menjadi jasad ini. Ia mencari tanda-tanda di tubuh si korban yang bisa mengindikasikan apa yang sesungguhnya terjadi saat sebelum kematian tiba. Ia melihat apakah ada yang aneh dengan letak perabotan di ruangan itu. Adakah barang yang jatuh? Adakah barang yang terhilang?  Adakah sidik jari tertinggal di tubuh si korban? Adakah sidik jari tertinggal di pintu? Di jendela? Apakah ada tanda-tanda kerusakan di pintu, jendela dsb. Adakah zat racun tersimpan di cangkir teh si korban yang belum selesai ia minum. Ia mewawancarai dua orang pelayan dan seorang tukang kebun yang tinggal di rumah sang korban. Ia menganalisa, mengumpulkan hipotesa, membandingkan hasil hipotesa itu dengan catatan-catatan yang telah ada dan menarik kesimpulan. Dengan hati-hati ia mencari kemungkinan-kemungkinan yang ada yang bisa membawanya pada sebuah kesimpulan.

Akhirnya setelah 2 jam investigasi berlalu, dengan dingin dan penuh keyakinan, ia mengatakan, “Kasus terpecahkan. Ini adalah pembunuhan ruang tertutup. Dan pelakunya adalah salah seorang pelayan sang janda dengan motif balas dendam pribadi. Ia menaruh sejenis racun cair di teh si korban karena si janda tersebut ternyata memiliki asmara terlarang dengan suami si pelayan. Dan dialah pelakunya.”  Telunjuk tangannya mengarah kepada salah seorang pelayan itu. “Mrs. Manning, andakah pelakunya?” Perempuan berumur 30 tahun itu menunduk malu dan takut. Ia mengangguk dan menangis. Kasus terselesaikan sudah.
Semua orang bertepuk tangan. Begitu pula aku. Dan sang Detektif melirik ke arahku dan mengedipkan matanya. Sementara asap dari cangklongnya mengalun di udara. Aku tersenyum.
Aku yang hidup 100 tahun setelah Sir Arthur Conan Doyle, tokoh real pencipta Detektif Sherlock Holmes,  merasa bahwa teknologi di jamanku hidup, yaitu sekarang, jauh lebih canggih dan mengesankan dibanding ketika Doyle hidup. Beruntunglah kita yang hidup di jaman post modern dimana ilmu pengetahuan berkembang pesat, baik dari segi teknologi, analisa psikologi, dan metoda2 penyingkapan kasus kejahatan yang dikembangkan oleh para kriminolog. Kita memiliki kamera pemantau, tes DNA, uji balistik jika kasus yang ditangani melibatkan peluru, deteksi ketahanan metal jika kasus itu melibatkan kecelakaan kendaraan, autopsy mayat, analisa kejiwaan dsb. Namun diluar perbedaan teknologi itu, pendekatan yang dilakukan untuk menyingkap suatu kasus adalah sama yaitu deduksi dan induksi.

Beruntunglah kita yang hidup dalam abad ketercerahan sains, sebab ilmu pengetahuan terus menerus memperluas cakrawala kita. Masa lalu yang dahulu nampak seperti misteri, sekarang semakin terbuka. Bagaikan detektif Sherlock Holmes yang tidak berada saat kejadian perkara namun ia mampu memecahkan kasus lewat investigasi material, begitu pula para saintis. Mereka tidak pernah hadir ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu, namun lewat investigasi material, pencarian materi2 yang mendukung, kemudian perumusan hipotesa dan korespondensi antara satu materi dengan materi lainnya, satu kasus dengan kasus lainnya, akhirnya mereka mampu menyusun suatu rangkaian penjelasan yang memungkinkan kita untuk mendekati apa yang benar2 terjadi di masa lalu. Dan apa yang terjadi rantai evolusi dan peradaban manusia.
Pencarianku akan makna hidup membawaku pada penelitian sejarah agama-agama, budaya, tata nilai, evolusi, spiritualitas dan ternyata itu semua bermuara di evolusi otak kita. 

Adakah engkau di surga sana oh tuhan? - Tidak, aku ada dalam otakmu.
Menurut para neurosaintis otak kita yang terdiri dari triliunan neuron ternyata adalah hasil evolusi selama berjuta-juta tahun. Secara fungsi otak dikelompokan menjadi 3 bagian utama, yaitu:

Lapisan pertama dan tertua : batang otak, disebut juga otak reptilian, karena fungsinya sama seperti otak banyak spesies reptile. Fungsi utama bagian ini menjalankan aktivitas dasar, sederhana & otomatis, seperti bernafas, detak jantung, sirkulasi udara, siklus metabolisme. Juga mengontrol daya flee or fight / kabur atau tempur.  Itulah kenapa ada sindiran ‘otak kadal’ bagi orang-orang yang cenderung suka memamerkan kekerasan fisik tapi ngacir kalau yang dihadapinya lebih jago dan kuat darinya.

Lapisan kedua : daerah limbik, bentuknya seperti helm yang mengelilingi batang otak. Jalur saraf yang lebih rumit ini memampukan otak si spesies untuk menjalankan kegiatan menyediakan makanan, perlindungan, ketrampilan bertahan hidup. Bagian otak ini menambahkan kesan-kesan emosi pada si spesies itu yang lebih luas dari pada flee or fight, seperti perasaan tertekan, lapar, senang, membedakan bebauan, membaca niat binatang lain lewat postur tubuh, gerak, tatapan mata, ekspresi wajah. Bagian Limbik ini ada pada binatang vertebrata. Limbik terdiri dari 2 hippocampus (kanan-kiri) yang berfungsi untuk merekam memori, dan Amygdala yg berfungsi merasakan emosi dan ingatan2 emosional. Sekarang kita memahami mengapa binatang2 seperti gajahm, beruang, kuda, zebra, dll mampu memperlihatkan emosi dan kasih sayang yang mendalam ketika merawat anak-anaknya dan memperlihatkan ekspresi bersedih manakala anak atau anggota klan nya dimakan singa atau mati. Emosi2 sedalam itu tidak dimiliki oleh binatang2 reptil. Kenapa? Karena otak mereka tidak memampukan mereka untuk merasakan emosi yang mendalam.

Lapisan ketiga, neokorteks, lapisan ini hanya dimiliki oleh mamalia, berfungsi untuk memberikan alasan, membuat perencanaan, memberikan respons emosi yang cocok. Dan pada spesies homosapiens, neokorteks ini berkembang menjadi system yang kompleks dan lebih besar yang memampukan mereka untuk membayangkan, mencipta, mengerti dan memanipulasi symbol. Kemampuan neokorteks ini yang dalam peradaban, menyediakan kita kemampuan untuk berbahasa, menulis, melukis, mengerti matematika, mengapresiasi seni, mengkonstelasikan konsep-konsep, merasionalisasikan emosi, mencari makna hidup dsb.

Neokorteks ini dalam otak manusia, yang bervolume lebih besar dari pada mamalia lainnya, memampukan kita untuk mengabstraksikan tata nilai apa yang baik dan tidak baik, bermoral dan tidak bermoral, jahat atau tidak , dan juga memampukan kita membayangkan kehidupan yang ideal, abadi, tiada kemalangan dan kematian, yang semua itu dikonsepkan berdasarkan materi yang ada di sekitar kita.

Dari evolusi manusia keluarlah hasrat2 untuk melakukan kebajikan, dan kemuliaan, dari evolusi manusia sendiri hadirlah keinginan2 dan keserakahan yang menelurkan kejahatan. Konsep2 kebaikan dan kejahatan inilah yang menciptakan agama dan tata nilai. Dan pencarian antara misteri keterhubungan antara eksistensi manusia secara personal dengan sesama dan alam, itulah yang menjadi hasrat mendasar spiritualitas.

Jadi adakah engkau di surga sana oh  tuhan ? Tidak, aku ada di dalam otakmu.

Pada mulanya adalah bertahan hidup
Dulu…dulu… dulu sekali pada waktu nenek moyang kita memutuskan untuk mengakhiri kebiasaan hidup lamanya yaitu bergelantungan di dahan2 pohon yang tinggi dan mulai ke hidup di atas tanah (inipun terpaksa dilakukan karena ada suatu kejadian alam yang membuat pasokan makanannya diatas pohon mulai menipis), mereka menyadari kalau mereka tidak bisa lari secepat cheetah, tidak punya tenaga sekuat gajah, tidak punya penglihatan setajam rajawali, tidak punya cakar setajam cakar singa, maka dengan sendirinya mereka berkelompok untuk bertahan hidup.

Dengan tumbuhan dan daun-daunan yang mereka dapat, dan daging dari hewan2 lain yang lebih kecil mereka bertahan hidup. Kita bisa lihat contoh nyata dari simpanze, aktivitas mereka kebanyakan tidak diatas pohon, tapi di atas tanah, dan kadang makan, semut, kutu, belatung bahkan memangsa monyet lain yang jadi musuh kelompok mereka.

Dengan pola makan yang baru dan bervariasi itu, yaitu gabungan antara tumbuhan dan daging dari hewan buruan, maka sedikit demi sedikit dalam rantai generasi yang begitu panjang, kebiasaan ini menambah kadar protein dalam otak mereka yang nantinya menambah volume tubuhnya, memperkuat rangka tubuhnya, volume otaknya, dan memperkuat jaringan2 sel di dalamnya untuk memampukan diri mereka beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Melalui perjalanan evolusi yang panjang dan berliku, sel-sel dalam otak spesies yang nantinya menjadi manusia ini, semakin diperkaya dengan pengalaman2 berburu, melarikan diri dari musuh, hubungan interpersonal dalam komunitasnya. Kehidupan di atas tanah, dan bukannya di atas pohon, sedikit demi sedikit merubah rangka tubuh mereka. Mereka jadi mampu berdiri lebih tegak, mampu mengkoordinasi tangan, kaki dan bibir yang memampukan mereka untuk berjalan lebih jauh, bergerak lebih anggun dan memiliki kemampuan baru, berbahasa verbal. Semua kekayaan baru ini  menanamkan ‘kode genetik’ dalam gen untuk generasi-generasi mendatang lewat cara berkelamin.


Tuhan – suatu konsep yang terus berevolusi

Bayangkan, pada jaman purba ketika manusia masih tinggal di gua2. Mereka merasa takut dan gentar akan alam ini. Mereka tidak sanggup mengalahkan ganasnya alam. Hujan yg lebat, guntur yang meraung-raung, kilat yang sabung menyabung. Dalam ketakutan, ketidak mengertian dan ketidakberdayaan mereka menganggap ada suatu kekuatan dibalik semua fenomena alam ini. Yang berkehendak sendiri-sendiri, lepas dan berkuasa atas alam dan manusia.  Kita menyebut keyakinan ini sebagai dinamisme. Keyakinan akan adanya suatu kekuatan-kekuatan otonom yang lepas berkehendak dibalik fenomena2 alam.

Baru sampai jaman manusia Neanderthal, manusia mulai menemukan konsep tentang adanya keberlanjutan hidup. Mereka percaya bahwa manusia yang mati, atau semua binatang yang mati, mempunyai kehidupan setelah kematian dalam suatu dunia antah-berantah. Para paleontolog menemukan situs-situs dimana manusia Neanderthal menguburkan kerabatnya yang telah mati. Dalam kuburan ini manusia didudukan persis dengan bayi di dalam kandungan, Karena mereka percaya bahwa kematian bukanlah akhir dari fase hidup melainkan suatu fase awal untuk suatu kehidupan berikutnya lagi. Dan mereka yang telah mati, tinggal bersama kita dalam dimensi yang lain. Mereka tinggal di hutan, di danau, bahkan dalam alat2 berburu dan berperang mereka. Ada keterhubungan erat antara mereka yang telah meninggal dan alamnya yang khusus dengan kita yang masih hidup di alam raga ini, yaitu diantaranya untuk menjaga kita keturunannya dalam menghadapi bahaya. Mereka menjadi karuhun, dan kita jadi cucu-cucu kesayangannya.

Keyakinan ini disebut spiritisme dan animisme. Sampai sekarang animisme dan spiritisme dipraktekan secara luas dalam kebudayaan dunia. Keyakinan akan keharusan untuk membuat sesajen sebelum membangun rumah / pabrik, berasal dari keyakinan ini.
Kemudian, setelah manusia2 menetap dalam suatu komunitas, di tepi pantai, di gunung, di hutan, di gurun, dsb. Manusia mulai menemukan paham baru, yaitu politheisme. Secara tidak sadar dinamisme dan animisme dipersonifikasikan jadi dewa-dewa lokal dimana mereka bernaung. Ada dewa pohon, dewa hutan, dewa sungai, dewa gunung, dewa gurun, dewa lembah. Dsb. Setiap tempat memiliki dewanya sendiri.
Semakin kompleks suatu komunitas, semakin banyak dewa-dewa sesembahan mereka, sebagai cermin dari pengharapan dan ketakutan mereka, ada dewi kesuburan, dewa peperangan, dewa kesembuhan, dewi percintaan dsb. Setiap aspek psikologis manusia yang sukar dijabarkan lewat uraian kata dipersonifikasikan dalam citra dewa-dewi.
Ketika komunitas2 lokal ini bertumbuh menjadi kerajaan-kerajaan, begitu pula dewa-dewa itu ditempatkan dalam suatu hierarki, dewa yang tertinggi menjadi dewa utama / raja contoh zeus, dewa indra, sedangkan dewa yang lebih kecil / inferior menjadi dewa2 suruhan / dewa2 perang.
Dalam pemahaman yahudi, kristen dan islam dewa utama itu adalah yahweh / allah bapa / allah swt dan dewa2 yang lebih rendah adalah para malaikatnya. Tidakkah anda menemukan kesejajaran antara konsep kerajaan dengan konsep ketuhanan?

-raja – dengan tuhan yang bertahta di surga,
-perdana mentri dengan Gabriel / Jibril
-kepala pasukan dengan Michael atau Mikail.
-dayang dengan para seraphim & kerubim?

Begitu pula surga selalu digambarkan sebagai istana penuh dengan air mancur dan bidadari berseliweran disana-sini. Tidakkah ini penggambaran kaum padang gurun yang merindukan tempat teduh yang melimpah dengan air dan pepohonan sejuk serta ekstasi ragawi?

Ketika kerajaan2 itu berperang dengan motif-motif politis dan geografis, mereka membawa serta dewa2 mereka. Dan dewa dari suku yg menang dalam peperangan menjadi dewa pemenang, dewa yang lebih superior dari pada dewa suku yang dikalahkan. Dalam hal ini maka mengkerucutlah dewa-dewa ini menjadi suatu hierarki yg lebih rigid. Itulah sejarah dari politheisme menjadi monotheisme. Namun ada kalanya justru dewa dari suku yang kalah justru dianut oleh suku yang menang. Namun demikian kasus seperti itu kecil. Biasanya apa bila dewa-dewi dari suku yang kalah lebih beragam dan kaya makna, maka dewa-dewi tersebut diasimilasi ke dalam pantheon dewa-dewi suku yang menang.

Dari politheisme, hanya perlu selangkah lebih lanjut menuju monotheisme, yakni dogma yang diusung oleh kekuasaan, yaitu kehendak politik para raja yang mendukung suatu agama tertentu. Agama sang raja haruslah jadi agama si rakyat. Bukankah ini terjadi bahkan sampai saat ini?

Jadi jelas bahwa penggambaran tuhan berasal dari konsep manusia sendiri tentang kehidupannya. Seberapa jauh manusia memahami alam, hidup dan keterhubungannya dengan alam dan sesama, maka sebegitulah pemahaman tuhan mereka. Maka dari itu tuhan selalu digambarkan berbeda-beda. Ada tuhan yang jijik dengan perempuan, itu karena budaya si komunitas pengusung keyakinan itu adalah budaya male-chauvinistik, budaya yang mengagung-agungkan lelaki dan merendahkan perempuan. Ada tuhan yang pemurka, dan menyuruh si nabinya menghabisi lawan-lawan politiknya. Itu karena komunitas si nabi sedang terpojok, sehingga tuhan yang dicerminkannya adalah tuhan pemurka. Ada tuhan yang menyukai sesajian hewan tertentu, semacam kambing dan domba. Ada tuhan yang lebih manusiawi dan senang tari-tarian, itu karena para pengusungnya adalah komunitas yang ceria.  

Jelas bahwa manusialah yang menemukan konsep tuhan. Bukan sebaliknya. Manusia-lah yang menyapa tuhan, bukan sebaliknya. Sebab jika kita mengandaikan ada suatu tuhan yang berfirman ini dan itu, seharusnya firmannya itu bisa diverifikasi. Mari kita datangi tuhan, apakah benar ia pernah berbicara kepada nabi ini dan itu dan memfirmankan demikian dan demikian.

Jika saya bisa gambarkan maka perspektif manusia akan konsep tuhan adalah bagaikan segi tiga terbalik yang terbuka bagian dasarnya (yang sekarang ada di atas).  Puncaknya, atau titik pertemuan dua garis, ada dibawah, dan itulah manusia. Sedang bagian yang di atas itulah konsep tuhan. Seberapa besar pengetahuan material dan kebijaksanaan si manusia /masyarakat tsb semakin luas derajat atau spectrum bagian bawahnya yang berarti semakin luas pula bagian atasnya. Sebaliknya, semakin kecil dan picik, sumpek dan dangkalnya semakin mengkerucut tajam dan sempit sudut spektrumnya dan semakin kecil pula horizon dibagian atasnya.

Selama ini pemahaman manusia beragama, terutama agama monotheistik, telah keliru karena menganggap pemahaman manusia akan alam bagaikan segitiga dimana titik pertemuan di atas adalah tuhan, sedang bagian dasarnya adalah manusia. Dan karena perspektif ini mengerucut ke atas maka semakin ke atas semakin sempit. Maka dari itu tidaklah mengherankan kita melihat dalam agama dogmatik, semakin ia merasa dekat kepada tuhan, seseorang semakin ia sempit pikirannya karena ia sudah merasa di atas dan berhak mengatur-atur orang di bawah.

Dalam terang pemahaman di atas adalah jelas bagi kita bahwa tuhannya agama adalah idea. Tuhan bukan sesuatu di luar sana, di atas sana yang bertitah ini dan itu. Tuhan ada di dalam pemahaman di otak kita. Dan seberapa jauh dan lembut pemahaman tuhan itu, tergantung dengan seberapa manusiawinya kita, seberapa dalamnya keteduhan batin kita, seberapa luas pemahaman kita tentang alam dan sesama mahluk.   

Jadi tuhan itu tidak ada secara materi. Ia bukan sesuatu atau seseorang di atas sana, yang bertahta di surga, yang meminta dipuja-puji oleh manusia dan malaikat. Sebab kalau tuhan berpribadi macam itu ada, maka ia adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas kejahatan manusia ciptaannya sendiri, serta bertanggung jawab atas kekacauan dan kekejaman yang terjadi dalam peradaban manusia dalam sejarah peperangan agama2.

Tuhan yang dipahami oleh manusia adalah konsep untuk menunjukan adanya nilai2 kebaikan dan keburukan. Jika ia adalah konsep / abstraksi maka yang terpenting bukan konsepnya itu sendiri, melainkan makna idea dibalik itu. Anda boleh memakai konsep ini atau itu, atau tanpa konsep agama sama sekali, yang penting anda mendapatkan makna hidup dalam kehidupan ini.

Itulah kenapa note saya sebelumnya, saya katakan bahwa saya merindukan Indonesia baru dengan beragam pemikiran, baik itu dinamisme, animisme, politheisme, monotheisme, agnotisme, atheisme  dsb. Asalkan mereka diikat dengan adab, dan nilai2 kemanusiaan yang menghargai hidup. Biarlah setiap insan  berdialektika dalam memaknai hidupnya. Ia memilih apa yang ia anggap layak dipercayai sepanjang itu tidak meniadakan hak2 orang lain untuk meyakini dan tidak meyakini sesuatu.

Konsep agama yang diusung oleh seseorang sebenarnya merefleksikan persepsi orang tersebut akan dirinya, alam, dan keterhubungan kesagalaan yang ada. Jikalau itu hanya refleksi atau   abstraksi dari persepsi maka tidak ada kebenaran obyektif di sana. Sebab kebenaran obyektif memerlukan verifikasi yang didasari oleh metode-metode keilmuan yang bersifat empiris dan  rasional. Adakah agama yang mampu menjawab tantangan pembuktian empiris?

Pada jaman lalu, manusia mempercayai bahwa alam semesta dibagi menjadi 3 lapisan besar, lapisan atas yaitu surga / arsy dimana tuhan bertahta, lapisan tengah yaitu bumi dimana manusia hidup, dan lapisan bawah adalah alam kematian di mana roh-roh orang yang telah mati dan dianggap tidak layak masuk surga – disiksa di sana.  Sementara di antara surga dan bumi para malaikat / dewa dan iblis sibuk berperang memperebutkan pengaruh atas manusia.

Dalam worldview yang sesederhana itu, maka mitos2 seperti kejatuhan adam dan hawa, pengusiran dari firdaus, bencana air bah, rencana pembangunan menara babel oleh Namrud, pengiriman tulah2 ke Mesir, kenaikan Musa dan Elia ke surga, kebangkitan dan kenaikan Yesus, isra miraz Muhammad, perjalanan Zoroaster ke surga, kunjungan Buddha dan murid2nya ke surga 33 langit bisa dipahami.

Namun dalam pemahaman manusia modern, dimana cakrawala pengetahuan kita lebih luas, masih bisakah kita mempercayai kisah2 ini sebagai kejadian factual dan historis? Bukankah kejadian itu akan menimbulkan pertentangan dari hukum2 fisika, kimia dsb karena jasad kita tidak memungkinkan untuk melintasi langit. Apa lagi kita tahu kalau di atas hanyalah ruang hampa luas.

Kisah-kisah diatas hanya bisa dipahami sebagai mitos, dimana dari kisah2 itu si penutur kisah menyampaikan tujuan dan pemahamannya berdasarkan kepentingan ideologi, budaya, politik dsb.

Keyakinan akan adanya suatu pribadi adikodrati yang bertahta di atas sana dan mengatur umat manusia dari awal sampai akhir, serta mengangkat nabi2 tertentu dan memberi sabda berbentuk kitab2 tertentu dan memuncak pada pewahyuan kitab tertentu dan figur nabi atau juru selamat tertentu – tentu saja mengandung kontradiksi baik secara idea maupun secara realitas. Karena pemahaman umat manusia yang terus maju dengan cakrawala pengetahuan yang lebih luas tidak memungkinkan adanya suatu titik kulminasi pewahyuan di belakangnya. Mestikah kita terus menoleh kebelakang untuk mencari semua jawaban dari pertanyaan kita sementara kompleksitas hidup dan pengetahuan umat manusia jaman itu tidak lebih rumit jaman sekarang?

Pada jaman2 lalu inti dari agama adalah agar kehidupan manusia dapat tertata, terikat dengan hukum-hukum positif dalam komunitas tersebut dan mengambil makna hidup. Dan itu wajar jika disikapi dengan dewasa. Artinya kita sadar bahwa tidak ada yang mutlak dalam kepercayaan2 tsb. Kenapa? Karena seiring dengan pengetahuan manusia akan alam, dirinya, sesamanya dan keterhubungan di antara faktor2 tersebut, maka kebathinan manusia pun akan bertambah pula.

Dari perspektif agama, ketika pemahaman manusia berubah dan semakin maju, agama pun harus mau membuka diri dan jujur dengan segala kelemahan dan keterbatasan dan kenaivannya. Sebab kalau tidak, maka ia sendiri harus bersiap-siap ditinggalkan oleh manusia2 yang cerdas.

Keyakinan yang masih membangga-banggakan akan adanya tuhan di langit yang memberikan tiga agama langit, yang masih mempercayai bahwa wahyu dari allah di langit itu memuncak pada pribadi nabi tertentu, kitab tertentu dan agama tertentu, atau juru selamat tertentu, masih layakkah kita pertahankan? 

Kita lebih memerlukan kemanusiaan, kejujuran dan intelektualitas daripada kepercayaaan2 buta yang dalam rekam jejak sejarah, sudah jelas-jelas menorehkan diskriminasi, penindasan, kekerasan dan darah.

Sejarah pemahaman konsep tuhan adalah sejarah pemahaman manusia itu sendiri tentang alam, dirinya dan sesama. Dengan begitu maka ini mengundang dekonstruksi, rekonstruksi, dan reinterpretasi.

Tuhan adalah tuhan yang ber-evolusi, seiring evolusi (otak) manusia.



Apa yang ada di balik simbol-simbol

Jikalau idea-idea dalam kisah-kisah agama adalah symbol, seperti halnya surga, neraka, keabadian, dsb maka sebenarnya symbol-simbol ini mengacu pada apa?

Dalam note saya yang pertama saya tuliskan seperti ini:

Kami para pencari kebenaran yang mempelajari banyak ilmu secara interdisipliner, menyadari bahwa agama hanya sekumpulan dogma dan symbol-simbol tertentu yang mengacu kepada ‘suatu makna’ di balik itu. “sesuatu”  ini yang sukar dijelaskan oleh kata-kata yang gamblang.  Namun para agamawan begitu mudahnya mem-bypass dan menjadikan ritual, dogma sebagai kebenaran final, kebenaran dalam dirinya, sehingga berkubang di situ dan tidak mampu menempus makna di balik itu.

Jadi apa makna di balik symbol-simbol agama itu?  Saya telah jawab bahwa makna di balik simbol2 itu sukar untuk dijelaskan dengan kata-kata gamblang. Itulah mengapa Buddha lebih baik berdiam diri manakala ia ditanyai tentang adanya tuhan yang berpribadi, prima causa, asal muasal semesta dsb. Jikalau jaman sekarangpun dengan cakrawala pengetahuan alam yang lebih luas manusia sukar menjawabnya, apalagi manusia 2500 tahun yang lalu?
Namun dalam note yang akan datang akan saya sedikit paparkan pemahaman saya tentang hal ini.

Conquest of the Universe – mungkinkah masih ada waktu bagi kita?
Pada penghujung abad ke-15 masyarakat Eropa dikejutkan dengan ditemukannya dunia baru oleh Christopher Columbus. Seperti kita tahu bahwa kejatuhan kekaisaran Roma Byzantine yang kristen kepada dinasti Utsmaniah yang islam dan pemblokiran jalur2 perdagangan eropa ke Asia memaksa para pelaut eropa untuk mencari rute-rute perdagangan baru.  Penemuan dunia baru ini membuktikan bahwa bumi tidak seluas yang mereka kira. Bagi orang Eropa saat itu batas paling selatan adalah Tanjung Harapan di Afrika selatan dan batas paling timur adalah kerajaan Cina. Segera setelah penemuan dunia baru tersebut, maka terjadilah gelombang migrasi bangsa eropa ke benua Amerika. Pula semakin bergejolak peperangan antara protestan dan katolik di benua Eropa semakin banyak imigran merangsek masuk ke benua Amerika. Dan semakin berdarah-darahlah sejarah peradaban penghuni asli benua itu. Entah berapa banyak jiwa dan suku bangsa India yang punah karena keberingasan tentara spanyol, Inggris dan Portugis.

Dalam film 1492, the conquest of Paradise, Vangelis sang composer menggubah lagu yang begitu dinamis dan penuh misteri berjudul Conquest of Paradise. Nada-nada yang sederhana, hentakan tambur, tempo yang dinamis dan penuh emosi menggambarkan harapan, ketakutan, tantangan, ancaman kegagalan dan kematian para pengarung lautan.

Begitu pula dengan sejarah evolusi dan kesadaran manusia. Penuh ketegangan dan ancaman. Seringkali manusia melangkah yang salah dan menganggapnya benar. Dan harga yang harus dibayar dari kebodohan itu seringkali teramat sangat mahal, yaitu nyawa. Sejarah agamapun memperlihatkan hal yang serupa.

Ke depan anak cucu kita akan mengarungi wilayah2 baru dalam semesta tak terbatas ini. Pertanyaannya adalah mampukah anak-anak manusia bertahan sampai ke jaman itu sementara apa yang kita lihat sekarang dunia selalu berada di ujung tanduk? Dan salah satu factor pemicunya adalah masalah agama. 

Negara-negara Timur Tengah yang selalu dalam keadan tegang adalah negara2 yang paling berpotensi untuk membawa ancaman kepunahan kepada dunia. Sudah jadi rahasia umum bahwa konsentrasi senjata terbesar dunia ada di Timur Tengah. Dengan kemampuan teknologi nuklir Iran yang ada pada saat ini, adalah mudah bagi mereka untuk mengubah reactor nuklir untuk listrik ini menjadi teknologi senjata penghancur massal. Demikian pula sudah bukan rahasia umum bahwa Israel, Pakistan dan India dicurigai memiliki senjata nuklir. Fakta ini memicu negara2 Arab untuk berlomba2 menumpuk senjata sebagai pengimbang. Mengapa Arab Saudi, Mesir, Syria, Yordania dan Turki begitu dekat dengan Amerika Serikat? Salah satunya karena mereka takut dengan Iran. Persaudaraan islam yang digembar-gemborkan pada dunia adalah persaudaraan semu. Karena pada hakekatnya mereka memiliki kepentingan sendiri2 yang berbeda-beda. Tidak ada lawan, kawan, dan persaudaraan keagamaan yang abadi. Yang ada adalah kepentingan yang abadi.

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi apabila krisis kemanusiaan dan politik Arab – Israel terus memanas dan menyulut peperangan besar. Dan kita di Indonesia, tentu saja akan terbawa-bawa secara emosional, karena secara budaya dan ideologi agama Indonesia sudah jelas keberpihakannya.  Tak bisa dibayangkan chaos yang akan terjadi di negeri ini apabila saat kehancuran itu tiba.

Saya ingin kita melihat bahwa ada hal yang salah dengan agama2. Ada yang irrasional dengan agama2. Semua ini saya tulis agar anak bangsa bisa melihat akar permasalahannya yaitu keyakinan yang bertumpu pada mitos. Dan sungguh tidak layak bagi umat manusia untuk berperang dan saling membenci hanya demi mitos.

Padahal ke depan umat manusia masih punya banyak tantangan untuk ditanggapi. Ada bentangan alam semesta yang maha luas untuk dijelajahi. Ada lembaran pengetahuan baru dalam alam semesta ini yang menunggu disibak.

Wahai kaum islam, kristen dan yahudi, untuk apa terilusi dengan tanah Yerusalem yang tandus, dan situs-situs keagamaan berselubung mitos yang kita sudah tahu bahwa tidak ada kebenaran mutlak di sana? Untuk apa kita mempertaruhkan masa depan manusia demi mitos?

Dalam benak pemeluk 3 agama ini, mereka percaya nubuatan/ramalan akhir zaman, yaitu peperangan besar-besaran yang memperebutkan Yerusalem. Padahal setelah kita tahu bahwa tidak ada sesuatu entitas di atas sana yang memberikan pengetahuan masa depan. Karena semua pengetahuan itu didapatkan oleh manusia sendiri, maka nubuatan itu adalah self fullfiled prophecy atau nubuatan yang dibuat sendiri, dipercayai dengan buta oleh sendiri dan dijadikan nyata oleh sendiri. Ironisnya hampir 56% atau  hampir 4  milyar manusia di dunia ini  harus terseret-seret secara iman dan kultur dalam mitos2 ini. Buat saya itulah malari – malapetaka yang dicari-cari sendiri.

Tidak ada pusat alam semesta, jadi tidak ada titik episentrum rohani dalam dunia ini, entah di Yerusalem, Mekkah, Benares, Gangga, Vatikan, atau Himalaya.

Tidak ada puncak pewahyuan dalam bentuk kitab atau sesosok nabi terakhir atau sesosok juru selamat manusia.  Semua itu hanya interpretasi sekelompok orang yang dijadikan iman mereka sendiri dan dipaksakan untuk diyakini umat manusia di segala tempat dan disegala jaman. 

Bagi kita yang memahami ini, apa masih mau kita dijajah oleh mitos-mitos tersebut?

Pada saat anak2 bangsa di negeri ini terikat dengan mitos-mitos dalam kitab ‘suci’, ingin mendirikan kilafah, ingin menggoalkan undang-undang syariah, berlomba-lomba mendirikan islamic center, serambi medinah  atau megachurch , justru para saintis di negeri-negeri barat mencari cara memelihara keberlangsungan kehidupan bumi dan ras manusia. Oh betapa konyol dan inferiornya kenaifan agama, tapi pongahnya duh gak  ketulungan.

Lihatlah alam semesta yang luas untuk dijelajahi. Mengapa memperebutkan kebodohan hanya demi mitos yang terbukti hanya bikinan manusia masa lalu saja?

Kapan kita akan bertanggung jawab untuk hari esok, apabila dalam benak kita masih digelayuti hantu2 irrasionalitas dan emosionalitas dalam berkeyakinan?

Ingat bahwa spiritualitas sebenar-benarnya tidak memaksudkan manusia melihat apa yang ada di seberang sana – di alam sesudah kematian, namun mencari makna terdalam dari kehadiran kita kini dan di sini, dalam ruang dan waktu ini, dalam kehidupan yang hanya sekali saja.

Spiritualitas sejati bukan tentang romantisme psikologis tentang kebenaran agama2 tertentu, bukan pula suatu bentuk pelarian kekanak-kanakan dari penderitaan hidup. Bukan pula tentang kesaksian pengalaman Out Of Body Experience, yang bisa saja hanyalah katarsis dari si pikiran.

Spiritualitas sejati adalah perjalanan rohani dan intelektualitas dalam memaknai hidup ini, kini dan di sini, yang menyadarkan akan keterhubungan kita dengan sesama, dengan alam, dengan kehidupan, dengan misteri dari kesegalaan ini.

Silahkan membuka page ini dan rasakan lagu Conquest of Paradise sebagai perjalanan evolusi kesadaran dan pengetahuan manusia di hamparan semesta yang tak terbatas.


Selasa, 15 Februari 2011

Kronika Kronis Anakronisme Anarkis

Sekedar ingin berbagi tulisan seorang online buddy di lapak sebelah. Betapa telah terjadi kesalahkaprahan tentang pemahaman kata ANARKIS. :) Untuk postingan yang asli, klik saja tautan di atas.

Pak Beye,

Membicarakan Anarkisme tak sesederhana mengolah dan menikmati mi instan, namun begitu janganlah enggan mempelajarinya apabila Anda merasa turut berkepentingan membawa kronika Anarkisme ke tengah masyarakat. Setidak(-tidak)nya, bukalah Wikipedia dan rajin-rajinlah merunut labirinnya hingga kenal para bijak penggagas Anarkisme dan jalan anarki di dalamnya. Ini demi Anda agar tak ditertawai dunia tatkala tanpa angin dan badai menghendaki pembubaran organisasi massa yang bersikap anarkis (Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rabu 9 Pebruari 2011). Sebab sekali lagi pak, Anarkisme bukanlah ideologi semacam mi instan rasa kepalsuan.

Demikian surat terbuka saya kepada Anda, semoga cukup mampu mengajak Anda kembali mempelajari ilmu-ilmu sosial dan filsafat. Namun saya menyilakan Anda apabila ingin terus membaca tulisan ini. Oh ya pak, saya menulis ini dengan semangat Anarkisme dan diiringi lagu valentine berirama punk. Semoga suka.

Anarkisme

Pengertian paling sederhana dari Anarkisme adalah sebuah paham anti pemerintahan, namun awam cenderung berhenti di sini, dan atau melanjutkan pemahaman mereka pada salah satu pilihan gerakan anarki yang menyatakan perjuangan dengan jalan kekerasan, perusakan, dan pembunuhan. Sebagaimana yang disampaikan Buenaventura Durruti Dumange (1896 - 1936), seorang tokoh utama dalam gerakan Anarkisme di Spanyol;

"Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan".

Namun begitu, sesungguhnya Durruti hanya mengarahkan jalan kekerasan tersebut kepada negara dan Kapitalisme. Di beberapa bagian saya dapat menyepakati pemikiran Durruti dan memahami pilihan kekerasannya. Bukankah di sisi lain isu anti kekerasan juga dimanfaatkan penguasa untuk membatasi gerak para aktivis agar tak merusak hak milik mereka? Dipakai untuk memukul balik atas nama menjaga stabilitas? Dan memberi jarak aman antara penguasa dan yang dikuasai? Bagi saya kekerasan - ataupun penghujatan - yang ditujukan kepada kelompok yang lebih berkuasa adalah sikap perlawanan atau setidaknya upaya pembelaan, sedang kekerasan dan pelecehan penguasa kepada kaum lemah adalah bentuk sikap fasis. Kekerasan menemu nilai jihadnya ketika diarahkan untuk melawan penjajah Belanda oleh pejuang kemerdekaan, namun menemu nilai jahatnya ketika diarahkan untuk membunuh para Ahmadi oleh kaum Islam garis kekerasan. Kekerasan pejuang kemerdekaan adalah kekerasan yang diijinkan Anarkisme, sedang kuasa kekerasan kaum fundamentalis Islam kepada pihak yang lemah dalam kasus Ahmadiyah ditolak karena amat fasistik. Musuh utama Anarkisme adalah Fasisme, karenanya amatlah lucu - untuk tak menyebut "Dungu", membubarkan organisasi anarki karena perbuatan yang dilakukan oleh kaum fasis.

Anarkisme Durruti sejatinya bukan berarti melulu kesalahan, namun kekerasan kekerasan tetaplah bukan isu eksklusif bagi sebagian besar penganut Anarkisme dan berbagai variannya. Coba simak apa yang ditulis Alexander Berkman (1870 - 1936), seorang pemikir Anarkisme ternama asal Rusia;

"Anarkisme berarti bahwa Anda harus bebas. Bahwa tidak ada seorangpun boleh memperbudak Anda, menjadi majikan Anda, merampok Anda, ataupun memaksa Anda. Itu berarti bahwa Anda harus bebas untuk melakukan apa yang Anda mau, memiliki kesempatan untuk memilih jenis kehidupan yang Anda mau serta hidup di dalamnya tanpa ada yang mengganggu, memiliki persamaan hak, serta hidup dalam perdamaian dan harmoni seperti saudara. Berarti tidak boleh ada perang, kekerasan, monopoli, kemiskinan, penindasan, serta menikmati kesempatan hidup bersama-sama dalam kesetaraan"

Anakronisme

Tapi isu kebebasan, kebersamaan, dan kesetaraan dalam Anarkisme seperti ini tak mampu mengalahkan pamor kekerasan Anarkisme Durruti. Kata kunci 'Kekerasan' Durruti akhirnya menjadi bumerang dengan tenaga tambahan dari kaum kapitalis untuk menyerang Anarkisme. Sehingga wajah anarki dibuat luka menjelma seolah monster berbahaya bagi peradaban.

Wajah asli Anarkisme yang damai tiba-tiba sirna oleh anakronisme. Anakronisme adalah pemelintiran makna dan Anarkisme telah dipelintir 180 derajad. Ajaran Anarkisme Damai Pierre-Joseph Proudhon (1809 - 1865), seperti tak pernah ada, anjuran Mikhail Bakunin (1814 - 1876) atas penolakan eksploitasi seolah tak terdengar, gagasan akan kebebasan kemanusiaan dari Prince Peter Kropotkin (1842 - 1921) seakan sirna, pemikiran kesetaraan gender dari Emma Goldman (1869 - 1940) terabaikan, juga gerakan perlawanan melalui media oleh Errico Malatesta (1853 - 1932) terkalahkan oleh kisah kekerasan lapangannya, dan seterusnya. Anarkisme bukam sekadar hantu yang bergentayangan di langit Eropa, tapi mahluk luka yang merangsek ke segala penjuru dunia. Anarkisme adalah Zombie yang tak henti disambit dengan anakronisasi para musuh ideologisnya.

Di Indonesia Anarkisme disambut dengan baik karena memiliki banyak kesamaan dengan filosofi dan tradisi Nusantara.  Sebutlah misalnya moto 'Do It Yourself (DIY)' kaum anarki untuk menolak bantuan penguasa sejalan dengan semangat 'Swadesi' juga 'Berdiri Di Atas Kaki Sendiri (Berdikari)', bentuk perlawanan 'Disobey' atau pembangkangan dapat disetarakan dengan aksi menolak bayar pajak oleh Kaum Samin pimpinan Suro Sentiko, semangat 'Kolektivo' tentu dapat disejajarkan dengan tradisi 'Gotong-royong', paham anarki dalam menjauhi teknologi perusak kemanusiaan yang penolakannya sudah lama dipraktikkan oleh Suku Badui, jalan damai anarki pun menemui padanan dengan 'Ahimsa', dan seterusnya. Maka tak pelak seorang Sukarno amat menyukai dan banyak terinspirasi semangat ini. Bersama tulisannya di Harian Pikiran Rakyat pada tahun 1923, Sukarno menyambut Anarkisme.

Namun bersama kekuasaannya, Orde Baru (Orba) menyambit Anarkisme. Sangat bisa dimaklumi karena Anarkisme adalah sistem sosial di wilayah kiri yang tegas berhadapan dengan tiga unsur utama pembangun Orba; Kapitalisme, Fasisme, dan Feodalisme. Tapi memang bagaimanapun ideologi tak pernah mati, terlebih ideologi yang tercipta dari semangat muda. Bara pembakar semangatnya bisa dari apa saja; musik, fesyen, bahasa, olah raga, seni rupa, dan seterusnya. Iming-iming bidadari surga tak ada dalam kamus bara bakar semangat mereka. Komunitas anarki ada di mana-mana di Nusantara. Saya membayangkan sebuah Anarchonesia.

Sampai waktunya tiba, revolusi ada di depan pintu istana dan mengetuknya dengan cinta.

Jumat, 08 Oktober 2010

Merenungkan Sejarah Alquran

MERENUNGKAN SERAJAH ALQURAN
Oleh Luthfi Assyaukani

Pengkajian sejarah Alquran bukan hanya dimaksudkan untuk mengungkap dimensi-dimensi tersembunyi yang selama ini tak terpikirkan oleh umat Islam, tapi juga merupakan modal intelektual untuk memahami kitab suci yang hingga hari ini terus menjadi sumber inspirasi hukum dan moral kaum Muslim. Saya ingin berangkat dari sebuah pijakan bahwa kajian ilmiah tidaklah merusak akidah. Kajian ilmiah juga tidak bertentangan dengan semangat dasar Islam yang mendukung kebenaran dan menjunjung tinggi kebebasan.
Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa Alquran dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma' nan). Kaum Muslim juga meyakini bahwa Alquran yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam.

Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan sejarah penulisan Alquran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik, dan rekayasa.

Alquran dalam bentuknya yang kita kenal sekarang sebetulnya adalah sebuah inovasi yang usianya tak lebih dari 79 tahun. Usia: ini didasarkan pada upaya pertama kali kitab suci ini dicetak denga percetakan modern dan menggunakan standar Edisi Mesir pada tahun 1924. Sebelum itu, Alquran ditulis dalam beragam bentuk tulisan tangan (rasm) dengan teknik penandaan bacaan (diacritical marks) dan otografi yang bervariasi.

Hadirnya mesin cetak dan teknik penandaan bukan saja membuat Alquran menjadi lebih mudah dibaca dan dipelajari, tapi juga telah membakukan beragam versi Alquran yang sebelumnya beredar menjadi satu standar bacaan resmi seperti yang kita kenal sekarang.

Pencetakan Edisi Mesir itu bukanlah yang pertamakali dalam upaya standarisasi versi-versi Alquran. Sebelumnya, para khalifah dan penguasa Muslim juga turun-tangan melakukan hal yang sama, kerap didorong oleh keinginan untuk menyelesaikan konflik-konflik bacaan yang muncul akibat beragamanya versi Alquran yang beredar.

Tapi pencetakan tahun 1924 itu adalah ikhtiyar yang luar biasa, karena upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam sejarah kodifikasi dan pembakuan Alquran sepanjang masa. Terbukti kemudian, Alquran Edisi Mesir itu merupakan versi Alquran yang paling banyak beredar dan digunakan oleh kaum Muslim.

Keberhasilan penyebarluasan Alquran Edisi Mesir tak terlepas dari unsur kekuasaan. Seperti juga pada masa-masa sebelumnya, kodifikasi dan standarisasi Alquran adalah karya institusi yang didukung oleh --dan menjadi bagian dari proyek-- penguasa politik. Alasannya sederhana, sebagai proyek amal (non-profit), publikasi dan penyebaran Alquran tak akan efektif jika tidak didukung oleh lembaga yang memiliki dana yang besar.

Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia mencetak ratusan ribu kopi Alquran sejak tahun 1970-an merupakan bagian dari proyek amal yang sekaligus juga merupakan upaya penyuksesan standarisasi kitab suci. Kendati tidak seperti Uthman bin Affan yang secara terang-terangan memerintahkan membakar seluruh versi (mushaf) Alquran yang bukan miliknya (kendati tidak benar-benar berhasil), tindakan penguasa Saudi membanjiri pasar Alquran hanya dengan satu edisi, menutupi dan perlahan-lahan menyisihkan edisi lain yang diam-diam masih beredar (khususnya di wilayah Maroko dan sekitarnya).

Agaknya, tak lama lagi, di dunia ini hanya ada satu versi Alquran, yakni versi yang kita kenal sekarang ini. Dan jika ini benar-benar terwujud (entah kapan), maka itulah pertama kali kaum Muslim (baru) boleh mendeklarasikan bahwa mereka memiliki satu Alquran yang utuh dan seragam.

Edisi Mesir adalah salah satu dari ratusan versi bacaan Alquran (qiraat) yang beredar sepanjang sejarah perkembangan kitab suci ini. Edisi itu sendiri merupakan satu versi dari tiga versi bacaan yang bertahan hingga zaman modern. Yakni masing-masing, versi Warsh dari Nafi yang banyak beredar di Madinah, versi Hafs dari Asim yang banyak beredar di Kufah, dan versi al-Duri dari Abu Amr yang banyak beredar di Basrah.Edisi Mesir adalah edisi yang menggunakan versi Hafs dari Asim.

Versi bacaan (qiraat) adalah satu jenis pembacaan Alquran. Versi ini muncul pada awal-awal sejarah Islam (abad pertama hingga ketiga) akibat dari beragamnya cara membaca dan memahami mushaf yang beredar pada masa itu. Mushaf adalah istilah lain dari Alquran, yakni himpunan atau kumpulan ayat-ayat Allah yang ditulis dan dibukukan.

Sebelum Uthman bin Affan (w. 35 H), khalifah ketiga, memerintahkan satu standarisasi Alquran yang kemudian dikenal dengan "Mushaf Uthmani," pada masa itu telah beredar puluhan --kalau buka ratusan-- mushaf yang dinisbatkan kepada para sahabat Nabi. Beberapa sahabat Nabi memiliki mushafnya sendiri-sendiri yang berbeda satu sama lain, baik dalam hal bacaan, susunan ayat dan surah, maupun jumlah ayat dan surah.

Ibn Mas'ud, seorang sahabat dekat Nabi, misalnya, memiliki mushaf Alquran yang tidak menyertakan surah al-Fatihah (surah pertama). Bahkan menurut Ibn Nadiem (w. 380 H), pengarang kitab al-Fihrist, mushaf Ibn Mas'ud tidak menyertakan surah 113 dan 114. Susunan surahnyapun berbeda dari Alquran yang ada sekarang. Misalnya, surah keenam bukanlah surah al-An'am, tapi surahYunus.

Ibn Mas'ud bukanlah seorang diri yang tidak menyertakan al-Fatihah sebagai bagian dari Alqur'an. Sahabat lain yang menganggap surah "penting" itu bukan bagian dari Alquran adalah Ali bin Abi Thalib yang juga tidak memasukkan surah 13, 34, 66, dan 96. Hal ini memancing perdebatan di kalangan para ulama apakah al-Fatihah merupakan bagian dari Alquran atau ia hanya merupakan "kata pengantar" saja yang esensinya bukanlah bagian dari kitab suci.

Salah seorang ulama besar yang menganggap al-Fatihah bukan sebagai bagian dari Alquran adalah Abu Bakr al-Asamm (w. 313 H). Dia dan ulama lainnya yang mendukung pandangan ini berargumen bahwa al-Fatihah hanyalah "ungkapan liturgis" untuk memulai bacaan Alqur'an. Ini merupakan tradisi popular masyarakat Mediterania pada masa awal-awal Islam.

Sebuah hadis Nabi mendukung fakta ini: "siapa saja yang tidak memulai sesuatu dengan bacaan alhamdulillah [dalam hadis lain bismillah] maka pekerjaannya menjadi sia-sia."

Perbedaan antara mushaf Uthman dengan mushaf-mushaf lainnya bisa dilihat dari komplain Aisyah, isteri Nabi, yang dikutip oleh Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitabnya, al-Itqan, dalam kata-kata berikut: "pada masa Nabi, surah al-Ahzab berjumlah 200 ayat. Setelah Uthman melakukan kodifikasi, jumlahnya menjadi seperti sekarang [yakni 73 ayat]." Pandangan Aisyah juga didukung oleh Ubay bin Ka'b, sahabat Nabi yang lain, yang didalam mushafnya ada dua surah yang tak dijumpai dalam mushaf Uthman, yakni surah al-Khal' dan al-Hafd.

Setelah Uthman melakukan kodifikasi dan standarisasi, ia memerintahkan agar seluruh mushaf kecuali mushafnya (Mushaf Uthmani) dibakar dan dimusnahkan.

Sebagian besar mushaf yang ada memang berhasil dimusnahkan, tapi sebagian lainnya selamat. Salah satunya, seperti kerap dirujuk buku-buku 'ulum al-Qur'an, adalah mushaf Hafsah, salah seorang isteri Nabi, yang baru dimusnahkan pada masa pemerintahan Marwan ibn Hakam (w. 65 H) beberapa puluh tahun kemudian.

Sebetulnya, kendati mushaf-mushaf para sahabat itu secara fisik dibakar dan dimusnahkan, keberadaannya tidak bisa dimusnahkan dari memori mereka atau para pengikut mereka, karena Alquran pada saat itu lebih banyak dihafal ketimbang dibaca. Inilah yang menjelaskan maraknya versi bacaan yang beredar pasca-kodifikasi Uthman. Buku-buku tentang varian-varian bacaan (kitab al-masahif) yang muncul pada awal-awal abad kedua dan ketiga hijriah, adalah bukti tak terbantahkan dari masih beredarnya mushaf-mushaf klasik itu.

Dari karya mereka inilah, mushaf-mushaf sahabat yang sudah dimusnahkan hidup kembali dalam bentuk fisik (teks tertulis).

Sejarah penulisan Alqur'an mencatat nama-nama Ibn Amir (w. 118 H), al-Kisai (w. 189 H), al-Baghdadi (w. 207 H); Ibn Hisyam (w. 229 H), Abi Hatim (w. 248 H), al-Asfahani (w. 253 H) dan Ibn Abi Daud (w. 316 H) sebagai pengarang-pengarang yang menghidupkan mushaf-mushaf klasik dalam karya masahif mereka (umumnya diberijudul kitab al-masahif atau ikhtilaf al-masahif). Ibn Abi Daud berhasil mengumpulkan 10 mushaf sahabat Nabi dan 11 mushaf para pengikut (tabi'in) sahabat Nabi.

Munculnya kembali mushaf-mushaf itu juga didorong oleh kenyataan bahwa mushaf Uthman yang disebarluaskan ke berbagai kota Islam tidak sepenuhnya lengkap dengan tanda baca, sehingga bagi orang yang tidak pernah mendengar bunyi sebuah kata dalam Alquran, dia harus merujuk kepada otoritas yang bisa melafalkannya. Dan tidak sedikit dari pemegang otoritas itu adalah para pewaris varian bacaan non-Uthmani.

Otoritas bacaan bukanlah satu-satunya sumber yang menyebabkan banyaknya varian bacaan. Jika otoritas tidak dijumpai, kaum Muslim pada saat itu umumnya melakukan pilihan sendiri berdasarkan kaedah bahasa dan kecenderungan pemahamannya terhadap makna sebuah teks. Dari sinilah kemudian muncul beragam bacaan yang berbeda akibat absennya titik dan harakat (scripta defectiva). Misalnya bentuk present (mudhari') dari kata a-l-m bisa dibaca yu'allimu, tu'allimu, atau nu'allimu atau juga menjadi na'lamu, ta' lamu atau bi'ilmi.

Yang lebih musykil adalah perbedaan kosakata akibat pemahaman makna, dan bukan hanya persoalan absennya titik dan harakat. Misalnya, mushaf Ibn Mas'ud berulangkali menggunakan kata "arsyidna" ketimbang "ihdina" (keduanya berarti "tunjuki kami") yang biasa didapati dalam mushaf Uthmani. Begitu juga, "man" sebagai ganti "alladhi" (keduanya berarti "siapa"). Daftar ini bisa diperpanjang dengan kata da arti yang berbeda, seperti "al-talaq" menjadi "al-sarah" (Ibn Abbas), "fas'au" menjadi "famdhu" (Ibn Mas'ud), "linuhyiya" menjadi "linunsyira" (Talhah), dan sebagainya.

Untuk mengatasi varian-varian bacaan yang semakin liar, pada tahun 322 H, Khalifah Abbasiyah lewat dua orang menterinya Ibn Isa dan Ibn Muqlah, memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan penertiban. Setelah membanding-bandingkan semua mushaf yang ada di tangannya, Ibn Mujahid memilih tujuh varian bacaan dari para qurra ternama, yakni Nafi (Madinah), Ibn Kathir (Mekah), Ibn Amir (Syam), Abu Amr (Bashrah), Asim, Hamzah, dan Kisai (ketiganya dari Kufah). Tindakannya ini berdasarkan hadis Nabi yang mengatakan bahwa "Alquran diturunkan dalam tujuh huruf."

Tapi, sebagian ulama menolak pilihan Ibn Mujahid dan menganggapnya telah semena-mena mengesampingkan varian-varian lain yang dianggap lebih sahih. Nuansa politik dan persaingan antara ulama pada saat itu memang sangat kental. Ini tercermin seperti dalam kasus Ibn Miqsam dan Ibn Shanabudh yang pandangan-pandangannya dikesampingkan Ibn Mujahid karena adanya rivalitas di antara mereka, khususnya antara Ibn Mujahid dan Ibn Shanabudh.

Bagaimanapun, reaksi ulama tidak banyak punya pengaruh. Sejarah membuktikan pandangan Ibn Mujahid yang didukung penguasa itulah yang kini diterima orang banyak (atau dengan sedikit modifikasi menjadi 10 atau 14 varian). Alquran yang ada di tangan kita sekarang adalah salah satu varian dari apa yang dipilihkan oleh Mujahid lewat tangan kekuasaan. Yakni varian bacaan Asim lewat Hafs. Sementara itu, varian-varian lain, tak tentu nasibnya. Jika beruntung, ia dapat dijumpai dalam buku-buku studi Alquran yang sirkulasi dan pengaruhnya sangat terbatas.

***

Apa yang bisa dipetik dari perkembangan sejarah Alquran yang saya paparkan secara singkat di atas? Para ulama, khususnya yang konservatif, merasa khawatir jika fakta sejarah semacam itu dibiarkan diketahui secara bebas.

Mereka bahkan berusaha menutup-nutupi dan mengaburkan sejarah, atau dengan memberikan apologi-apologi yang sebetulnya tidak menyelesaikan masalah, tapi justru membuat permasalahan baru. Misalnya, dengan menafsirkan hadis Nabi "Alquran diturunkan dalam tujuh huruf" dengan cara menafsirkan "huruf" sebagai bahasa, dialek, bacaan, prononsiasi, dan seterusnya yang ujung-ujungnya tidak menjelaskan apa-apa.

Saya sependapat dengan beberapa sarjana Muslim modern yang mengatakan bahwa kemungkinan besar hadis itu adalah rekayasa para ulama belakangan untuk menjelaskan rumitnya varian-varian dalam Alquran yang beredar. Tapi, alih-alih menjelaskan, ia malah justru mengaburkan.

Mengaburkan karena jumlah huruf (bahasa, dialek, bacaan, prononsiasi), lebih dari tujuh. Kalau dikatakan bahwa angka tujuh hanyalah simbol saja untuk menunjukkan "banyak," ini lebih parah lagi, karena menyangkut kredibilitas Tuhan dalam menyampaikan ayat-ayatnya.

Apakah kita mau mengatakan bahwa setiap varian bacaan, baik yang berbeda kosakata dan pengucapan (akibat dari jenis penulisan dan tatabahasa) merupakan kata-kata Tuhan secara verbatim (apa adanya)? Jika tidak terkesan rewel dan simplistis, pandangan ini jelas tak bertanggungjawab, karena ia mengabaikan fakta kaum Muslim pada awal-awal sejarah Islam yang sangat dinamis.

Lalu, bagaimana dengan keyakinan bahwa Alquran dari surah al-Fatihah hingga al-Nas adalah kalamullah (kata-kata Allah) yang diturunkan kepada Nabi baik kata dan maknanya (lafdhan wa ma'nan)? Seperti saya katakan di atas, keyakinan semacam ini hanyalah formula teologis yang diciptakan oleh para ulama belakangan. Ia merupakan bagian dari proses panjang pembentukan ortodoksi Islam.

Saya cenderung meyakini bahwa Alquran pada dasarnya adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi tapi kemudian mengalami berbagai proses "copy-editing" oleh para sahabat, tabi'in, ahli bacaan, qurra, otografi, mesin cetak, dan kekuasaan. Proses-proses ini pada dasarnya adalah manusiawi belaka dan merupakan bagian dari ikhtiyar kaum Muslim untuk menyikapi khazanah spiritual yang mereka miliki.

Saya kira, varian-varian dan perbedaan bacaan yang sangat marak pada masa-masa awal Islam lebih tepat dimaknai sebagai upaya kaum Muslim untuk membebaskan makna dari kungkungan kata, ketimbang mengatribusikannya secara simplistis kepada Tuhan. Seperti dikatakan seorang filsuf kontemporer Perancis, teks --dan apalagi teks-teks suciĆ¢€”selalu bersifat "repressive, violent, and authoritarian." Satu-satunya cara menyelamatkannya adalah dengan membebaskannya.

Generasi awal-awal Islam telah melakukan pembebasan itu, dengan menciptakan varian-varian bacaan yang sangat kreatif. Jika ada pelajaran yang bias diambil dari sejarah pembentukan Alquran, saya kira, semangat pembebasan terhadap teks itulah yang patut ditiru, tentu saja dengan melakukan kreatifitas-kreatifitas baru dalam bentuk yang lain.

aslinya di: Merenungkan Sejarah Alquran
Luthfi Assyaukanie. Dosen Sejarah Pemikiran Islam di Universitas Paramadina, Jakarta, dan Editor Jaringan Islam Liberal.