Tampilkan postingan dengan label Andi Setiono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Andi Setiono. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Maret 2026

Lebaran dan Khong Guan Biscuit

May be an image of text 

LEBARAN DALAM SEKALENG BISKUIT KHONG GUAN 
 
Banyak orang yang sudah lupa mengucapkan kalimat Singkat "Selamat Lebaran". Di hari ini, orang atau toko atau mall, lebih suka dengan istilah "Happy Eid Mubarak". Yang maknanya, Selamat merayakan hari raya yang diberkahi. Di sini, tampak agak kurang dianggap penting apa hari raya-nya, apakah Idul Fitri atau Idul Adha. Yang barangkali, malah cocok bagi kebutuhan hari ini, apa pun hari raya-nya tapi yang disuwunke, atau dimintakan adalah berkahnya...
 
Dulu orang Jawa menyebut perayaan ini dengan istilah yang sedemikian sederhana. Yang pertama, lebaran. Istilah ini bermakna "lebar", atau lebih singkat lagi "bar". Bubar! Bisa dimaknakan selesai, rampung, atau setelah. Untuk Iedul Fitri dianggap sebagai Lebaran Pasa, setelah menunaikan ibadah puasa. Sedangkan Lebaran Haji untuk menyebut Iedul Adha. Dalam konteks yang ini, istilahnya bisa mengular panjang Lebaran Kurban, yang bahkan Lebaran Mbeleh Wedus.
 
Saya selalu mengingat di masa kecil, saya para orang tua akan saling menyapa dengan kalimat: "Melu mbeleh pora?" Ikut menyembelih gak. Dan kebanyakan akan menjawab: "Aku wis bar dibeleh bojoku. Sesuk tahun ngarep muga2". Dibeleh di sini bisa bermakna baru saja menghabiskan dana untuk keperluan lain: apakah untuk bayar hutang, biaya renovasi rumah, beli kendaraan, atau ragad sekolah anak. Intinya, sang suami ingin menununjukkan "manut"-nya mereka pada sang istri dengan istilah "dibeleh", disembelih...
 
Dan apakah sang istri marah? Tentu tidak! Karena puncak tertinggi ikatan hubungan sebuah keluarga adalah ketika sang suami bersedia memenuhi kebutuhan sang istri, bukan keinginannya. 
 
Yang kedua, bakda atau jika distilah dengan tulisan Jawa yang benar disebut bada. Juga bermakna sama, juga berasala dari bahasa Arab, yang artinya setelah. Dalam ikatan kata Bada ini, selalu disandingkan apa pun yang mengiringinya Klambi Bada, maksudnya baju yang dibeli menjelang hari raya. Duit Bada, ini mungkin untuk menyebut uang ekstra, apakah itu THR atau sejenis angpao yang diberikan kepada anak2, atau sebaliknya anak yang sudah dewasa kepada orang tua.
 
Dalam beberapa komunitas Islam Jawa, lalu muncul tradisi Bada Kupat. Tradisi masyarakat Jawa yang dirayakan seminggu setelah Idul Fitri, tepatnya pada 8 Syawal, untuk menandai berakhirnya puasa sunnah Syawal. Tradisi ini diisi dengan memasak dan membagikan ketupat sebagai simbol ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan mempererat silaturahmi. Konon tradisi dikaitkan dakwah Islam di tanah Jawa yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai simbol permohonan maaf dan berbagi rezeki.
 
Realitas penting lain di Hari Raya (apa pun itu) adalah tersedia kaleng "Khong Guan" di meja tamu dan/atau di meja makan. Kita akan tahu bedanya. Di meja makan tersedia biskuit, apakah itu dalam kemasan yang masih baru atau terkadang sekedar refiil atau isi ulang. Biskuit Khong Guan adalah simbol lebaran sejak lama. Mengapa Khong Guan jadi sedemikian spesial? Ia seakan adalah simbol toleransi yang tak tergantikan. 
 
Pertama, keberagaman jenis isi biskuitnya, Khong guan terdapat 14 macam biskuit yang berbeda yaitu; Monte lemon, Monte chocolatte, Butter shortcake, Chocolatte puff, Choco wafer, Kopi susu wafer, Marie susu, Krim kacang, cream cracker, lemon puff, sugar biscuit, stick, milk sc, dan butter sc. Diantara berbagai macam jenis biskuit, terdapat 1 jenis wafer yang sering menjadi rebutan yaitu choco wafer, karena ia dikemas lagi dengan plastik yang membuatnya terlihat lebih spesial.
 
Kedua, kualitas kaleng Khong Guan yang tidak pernah berubah sejak ia dikenal. Bahan metalnya tetap sama, kualitas cetakannya sama dan tentu saja gambar yang tak pernah berubah. Ia tak tergoda mengubahnya, tetap pada ilustrasi karya Bernardus Prasodjo dari tahun 1970-an saat bekerja di perusahaan separasi warna. Tetap dengan tidak ada sosok ayah karena tujuan utamanya adalah memengaruhi ibu rumah tangga sebagai pengambil keputusan pembelian, sehingga sosok ibu yang lebih ditonjolkan.
 
Ketiga, makna tersirat dari merek Khong Guan yang berarti kaleng atau stoples kosong. Menjelaskan kenapa di masa lalu mungkin sampai hari ini. Ia memiliki manfaat panjang setelah isi aslinya habis dikonsumsi. Lucunya, makanan yang selalu diidentifikasi sebagai pengisi setelahnya adalah rengginan. sejenis kerupuk tebal yang terbuat dari beras ketan yang dibentuk bulat dan dikeringkan dengan cara dijemur di bawah panas matahari, lalu digoreng panas dalam minyak goreng.
 
Bagian yang publik tidak tahu, penganan ini telah lama dikenal dalam masyarakat Jawa. Ia telah terdokumentasi dalam Serat Centhini VI yang diterbitkan pada abad ke-18M. Berbeda dari jenis kerupuk lain yang umumnya terbuat dari adonan bahan yang dihaluskan seperti tepung tapioka atau tumbukan biji melinjo, rengginang tidak dihancurkan sehingga bentuk butiran ketannya masih tampak. Dalam beberapa kasus pilihan ia bisa ditambahkan rasa manis atau asin, bahkan dengan bahan baku ketan itam.
 
Apa salahnya Khong Guan isi rengginan? Tak ada tentu saja, karena itulah simbol akulturasi yang lebih tulus. Bahan geguyonan yang tak pernah basi. Simbol masyarakat yang tumbuh dalam kesederhanaan tapi penuh dengan harga diri dan rasa hormat. Ia tidak lalu jadi jaim, semugih, dan lalu kehilangan akar. Khong Guan adalah simbol kekosongan yang kemudian terisi kembali. Ia adalah pengiring puasa, yang lalu diakhiri dengan kejernihan, kesederhanaan, dan kesalehan. 
 
Mungkin demikian siklus hidup kita sebagai manusia. Bersalah, meminta maaf, bikin salah lagi, meminta maaf lagi. Karena yang memaafkan tidak pernah kehilangan apalagi kehabisan. Ia akan selalu penuh kembali. 
 
Saya mengucapkan selamat merayakan Lebaran, Lebar Pasa. Mohon dimaafkan segala salah dan khilaf. Untuk lalu saling berbuat salah lagi, hingga mudah2an masih berjumpa lagi di tahun depan.
Untuk kembali datang, menjenguk, bertegur sapa meminta maaf lagi. Simbol kita masih manusia, yang tak pernah (dan perlu) ada yang berubah. 
 
Salam, Berkah Dalem....

 Copas dari wall facebook Andi Setiono 

Kamis, 04 Desember 2025

Banjir Bandang dalam Keyakinan Orang Jawa

 Dari wall Andi Setiono di facebook



BANJIR BANDANG DALAM KEYAKINAN ORANG JAWA 


Tulisan ini harus diawali cara pandang manusia modern, yang selalu menyalahkan anomali alam sebagai penyebab banjir bandang. Para cerdik pandai itu, pada intinya selalu menyalahkan perubahan cuaca ekstrem yang pada akhirnya menimbulkan curahan air yang luar besar.  Dan bila air sudah tak tertampung, ketika hujan sedemikian lama dan tinggi di daerah atas. Maka banjir bandang hanyalah suatu keniscayaan.


Cara berpikir demikian lah yang menyebabkan banjir bandang selalu berulang. Seolah arisan, ia berpindah dari satu titik ke titik lainnya. Alam selalu salah, manusianya tidak!


Sebelum lebih lanjut, perlu dijelaskan beda banjir biasa dan banjir bandang.  Intinya sama2 daratan kelebihan air, tanah tak mampu menyerap lalu air meluap ke segala arah. Banjir konon bisa diantisipasi, tapi bandang tidak. Ia selalu datang mendadak dengan materi bawaan apa saja. Tergantung jalur air yang dilewatinya. Jika ia melewati rumah di pinggiran sungai, ya bangunan itu kentir. Jika rumpun bambu yang dianggap sebagai penahan erosi, ia pun amblas. Ia seperti pasir hisap: ngrawut, ngangkut!


Sebagai anak yang tumbuh di daerah bantaran sungai. Kampung kami cuma sepelemparan batu dari Kali Code. Kali yang betul2 membelah kota Jogja menjadi dua dalam segala aspeknya. Banjir bandang bagi warga kampung kami bukanlah selalu bencana. Ia adalah tontonan yang membuat hati anak2 kecil seperti saya gembira. Sedemikian gembiranya dari atas Jembatan Merah, kami menontonnya dengan penuh kegembiraan. Tudang tuding, bercengkerama, hahaha... (bangsat memang kami, di masa kecil!)


Oh ya sedikit berbelok, dulu Jembatan Merah, kami menyebutnya Kreteg Abang itu debatable.  Ketika pertama kali dibangun, ia adalah jembatan yang menghubungkan secara langsung Kraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman. Ia membelah antara kampung Sayidan dan Bintaran di sisi Selatan, dan Kampung Ratmakan dan Jagalan di sisi Utara. Semula memang diwarnai merah, tetapi mungkin karena merah diasosikan sebagai sesuatu yang kiri. Kemudian dicat brom atau silver.


Sedangkan Jembatan Merah yang kecil, letaknya kurang lebih 300 meter ke arah utara. Menghubungkan Ledok Mataram dan area kawasan Jayengprawiran. Saya sebut demikian karena tidak hanya orang dari Kampung Jagalan Beji, tetapi juga Purwokinanti yang bermaksud  pergi menuju Pasar Beringharjo atau Malioboro lebih suka melewati jembatan ini. Di sisi kanan kiri kreteg cilik ini dulu banyak pancuran mata air. Kami menyebutknya belik. 


Tak heran bila kampung di atasnya disebut Jagalan Beji untuk membedakan dengan kampung di utaranya yang di sebut Jagalan Ledoksari. Sekarang lenyap tak berbekas, atas nama pembangunan. Di sisi kiri kanan sungai ditalud, hanya agar masyarakat kampung yang tmeluber di si sungai tak membuang sampah ke kali. Walau realitasnya, sama saja! Mentalitas publik tak akan pernah bisa dperbaiki oeh sekedar pembangunan fisik.


Nah di atas kedua jembatan ini, kami selalu menunggu moment2 terjadinya banjir bandang.  Begitulah kekurang-ajaran orang kota. Di atas musibah, di bawah jadi berkah.  Banjir bandang tak pernah lama, sekira 2-3 jam saja. Tapi apa yang dihanyutkan (kami menyebutkan "sing kentir"), selalu menarik untuk ditonton. Tentu saja yang paling umum adalah gelondongan kayu, bongkotan bambu. Tapi tak jarang rumah seatap2nya, bahkan sapi2 yang berurutan karena mungkin berasal dari satu kandang.


Lalu apa maknanya banjir bandang itu bagi orang Jawa.


Dahulu dalam ilmu persilatan atau susastra Jawa lama terdapat adagium "banjir bandang, segara asat". Ini sebuah ironi dalam masyarakat Jawa. Kenapa ketika terjadi banjir bandang, tetapi lautan malah mengering?  Inilah yang disebut terjadinya sirkulasi energi, perpindahan daya yang terlalu besar yang justru berujung pada kekosongan.  Ledakan daya itu bisa apa saja: kemarahan, kedengkian, kesombongan, bahkan kecemburuan. 


Ia adalah energi negatif, sesuatu yang untuk orang modern malah sering dimaknai sebagai sumber motivasi. Energi negatif inilah yang pada akhirnya akan berujung pada kehampaan diri, kebingungan dan ketidakberdayaan yang semakin akut. Sesuatu yang diisyaratkan sebagai segara asat, samudra mengering.


Segara asat menandakan bagaimana manusia akibat keserakahannya pada akhirnya seperti "meminum air laut". Sesuatu yang mustahil menyembuhkan rasa dahaga.  Ia adalah cermin masyarakat hari ini, yang agamanya sesungguhnya di satu sisi sombong, di sisi lain serakah.  Kesombongan dalam bentuk paling sederhana adalah menghargai diri terlalu, sembari menisbikan keberadaan liyan.  Dimana kita tak peduli lagi kepentingan orang lain, baik itu di jalanan, tempat kerja, bahkan di rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman. 


Mungkin solidaritas di hari ini masih muncul dalam lingkaran  terbatas seperti komunitas, rumah yang dianggap masih aman karena merasa masih "sejalan". Bahkan dalam banyak kasus, mencoba mengulang "keindahan masa lalu" dalam bentuk "reuni sekolah tanpa akhir".  Hanya sekedar menemukan tempat persembunyian baru, hilang sejenak akibat berada di situasi lagi2 "banjir bandang, segara asat" itu tadi.


Dahulu orang Jawa, di samping "hari" sangat peduli terhadap "weton". Bahkan di kalangan petani, hal ini semakin rumit dengan "pranata mangsa". Dimana nilai sesungguhnya adalah bagaimana manusia menyelaraskan seluruh sendi kehidupannya dalam lingkaran kuasa alam.  Tapi semenjak era modernisasi muncul, lalu asketisme digantikan mula2 dengan mekanisasi lalu semakin parah ketika digitalisasi muncul.  Dimana seoalah2 tidak diperlukan lagi ingatan atau catatan, karena semua secara instan diperoleh melalui kuasa gadget.  


Adagium paling absurd bagi Jawa, dimulai ketika ia berbicara: semua hari adalah baik. Lucunya justru outpunya nasib mereka tidak pernah baik2 saja....


Bagi orang Jawa tradisional, musibah atau bencana itu selalu memberikan tanda2. Biasanya orang yang mampu membacanya disebut "waskita". Seorang yang isa weruh sak durunge winarah, manusia yang bisa melihat sebelum peristiwa terjadi. Tapi kepekaan lahiriah dan batiniah seperti ini sudah digantikan oleh agama yang munculnya dari arah Barat.  Yang tidak banyak orang tahu, "Barat" sendiri dalam bahasa Jawa maknanya adalah bencana berbentuk angin topan.  


Dalam kungkungan badai, lesus, puting beliung inilah di hari ini kita hidup. Menjelaskan kenapa kita terus berpusar.


Sekali lagi banjir bandang itu bukanlah hal yang seketika. Ia menjadi bandang sebagai tumpukan dosa, kesalahan, kengawuran, kesembronoan, semua hal jelek yang melekat pada diri manusia. Ia akan muncul di titik dimana, semua tak tertahankan lagi. Ia akan jebol, meluluh lantakkan apa saja yang ada di depannya. Selamanya ia akan menjadi alat pengingat. Bahwa sesungguhnya manusia hanya nunut urip, numpang hidup di alam semesta yang sesungguhnya jauh lebih berkuasa.  


Di sini istilah manusia adalah kalifah di muka bumi menemukan kenyataan yang menyedihkan.  Hingga kita percaya dan mengerti, Tuhan apa pun nama dan bentuknya akan selalu berbicara melalui kuasa alamnya itu!


Selalu begitu, selamanya begitu...

.

.

.

NB: Dalam ilmu politik kekuasaan, untuk membedakan dengan politik etis. Etik negatif "banjir bandang segara asat" itu nyaris dianut oleh seluruh Presiden RI khususnya yang berasal dari Suku Jawa.  Terkait bagaimana jalan ia menuju kuasa, mencoba melanggengkannya, dan lalu jatuh dipermalukannya. Sial betul, nyaris tak ada satu pun dari delapan presiden di Indonesia yang tak  mengalaminya.  Semua harus menanggung rasa malu akibat karma yang dipilihnya. Hanya karena ia merasa sudah banyak melakukan dharma.


Mari kitak dedah sejak Soekarno, yang jasanya selalu disimplifikasi sebagai Bapak Proklamator.  Glorifikasi yang memaksa kita lupa bahwa ia punya kegagalan dalam mensejahterakan rakyatnya.  Ia adalah satu2nya presiden yang memalumatkan dirinya sebagai presiden seumur hidup. Semena2 melakukan kawin cerai sebanyak 9 kali, tanpa merasa bersalah walau rakyatnya kelaparan.  Hingga ia dijatuhkan oleh sebuah konspirasi internasional yang dikomandani Suharto. 


Sebaliknya Suharto yang sangat belajar dari pengalaman Sukarno, ia memang sangat berupaya memperbaiki kesalahan Sukarno. Ia melakukannya dengan menjaga stabilisai politik dan pertumbuhan ekonomi. Apa yang kemudian dianggap salah, karena justru yang paling diuntungkan anak2 dan kerabatnya sendiri.  Demokrasi semu yang ia bangun kemudian memaksanya mundur, bukan karena demo dan rusuh. Tetapi karena dikhianati oleh anak buah yang selama ini ia pilih sendiri.


Periode Habibie, Guss Dur dan Megawati tentu saja tak terlalu menarik dibahas dalam konteks ke-Jawa-an. Ketiganya adalah anomali sekaligus presedensial (tolong bedakan dengan  presidensial), dan karenanya tak menyisakan banyak kenangan baik atau buruk. Habibie hanya presiden lungsuran, Gus Dur adalah presiden kompromi, dan Megawati adalah presiden degradasi.  Sial betul, kecarut marutan awal reformasi harus berlanjut pada sikap oportunis "manusia politik kekuasaan sejati" pada diri SBY.


SBY tentu saja naik dengan metode playing victim dan sokongan dana nyaris tak terbatas dari CIA dan Partai Demokrat AS.  Ia mencoba mengembalikan bargaining position negeri Paman Sam yang nyaris hilang di masa awal reformasi.  Tapi karena kelihaannya dalam berpolitik itu, ia sama sekali tak lihat dalam bagaimana membangun masa depan bangsanya. 


Ia selalu bermain dalam "dunia pencitraan", sesuatu yang kelak di masa akhir jabatannya justru membunuhnya secara abadi. Di masa inilah, ia memberi rusaknya kohesi masyarakat, dengan menempatkan kaum ekstremis beragama. Ia merubah watak masyarakatnya bermental pengemis dengan berbagai macam subsisi yang seharusnya tak perlu. Bila ada orang yang pantas disebut sebagai biang kerok gagalnya reformasi, dia lah orangnya. 


Dan pada puncaknya adalah masa Jokowi dan Prabowo. Beda dengan cara berpikir publik, saya lebih percaya bahwa keduanya sesungguhnya adalah semacam tali-temali.  Sekalipun dalam du akli Pilpres tahun masa Jokowi, seolah2 mereka berseberangan. Tapi apa yang dilakukan Jokowi dengan mendukung Prabowo adalah bentuk kedewasan berdemokrasi, yang kelak akan abadi dicatat dalam sejarah negeri ini.


Menjelaskan mengapa nyaris tak ada yang baru dan luar biasa ketika masa pemerintahan Jokowi berakhir.  Keduanya adalah pelaku sejati "banjir bandang segara asat", dalam meminjam energi musuhnya untuk menjatuhkan lawannya sembari melanggengkan eksistensinya. Ia tak butuh isu, karena lawan2nya akan selalu mencarinya. Hanya sekedar mempermalukan dirinya sendiri. Terbukti bahwa apa pun fitnah atau korekan masa lalu dari keduanya, lenyap tak berdasar dan berbekas.

Sesungguhnya ajaran "banjir bandang, segara asat" itu adalah bentuk lain dari Machiavelianis yang jauh belakangan lahir. 

Sejarah Jawa sudah jauh hari menemukan dan mempraktekkannya. Menjelaskan kenapa sejak dulu arah perpindahan manusia di Jawa selalu mengarah ke Timur. Karena ia selalu menyusuri jalan "ke-Timur-an", berupaya menemukan kesucian lahir. Dan Bukan ke-Barat yang sebagaimana di atas dianggap menantang badai. Nah, sedikit paham kan kenapa di sisi Barat kekacauan sedemikian mudah terjadi.

Bandang itu selalu banjir. Tetapi tidak selalu banjir itu adalah bandang. Sebagaimana juga pesan itu adalah janji, tapi tidak berarti janji itu adalah pesan. 

Sayangnya kita di hari ini, sering lebih menyukai dan mempercayai janji daripada pesan!

Selasa, 04 November 2025

NEGERI YANG LAGI MERIANG DAN KEDANAN PALESTINA

 Copas dari wall Andi Setiono, di FB

 


NEGERI YANG LAGI MERIANG DAN KEDANAN PALESTINA I 
 
Disclaimernya adalah saya tidak pernah menentang kemerdekaan Palestina, tapi juga kalau tetap menjadi bagian dari Israel, atau Yordania atau bahkan dibuatkan koloni di Indonesia sekali pun saya baik-baik saja. Bagi saya kedamaian itu tak bersyarat: damai ya damai. Kalau mau perang terus ya gak apa-apa. Bukankah perang adalah hobi paling purba dari makhluk yang bernama Homo sapiens. 
 
Bagi saya, sejarah panjang Israel dan Palestina itu berimpitan kuat, sebagaimana dulu kota kelahiran saya Yogyakarta. Ketika masih bernama Mataram, tak jelas benar kenapa generasi orang kemudian mesti menambahkan Hindu. Padahal ada Budha-nya segala. Menunjukkan bahwa sejarah selalu dicatat secara ngawur oleh generasi yang lebih muda. Jadi ketika, Islam mulai berkuasa lalu dilabeli Mataram-Islam. 
 
Bagi saya semisal, kalau orang Bali tiba2 jadi sedemikian kuat, orang-orang jenius dan pada kaya raya. Dan itu bukan mustahil, mereka tiba2 pindah ke Jogja, ya gak papa. Wong itu juga tanah nenek moyang mereka. Intinya, masalah tanah yang diaku sebagai bagian sejarah suatu etnis itu selamanya debatable. Apalagi di zaman medsos ini, dimana orang akan menunggangi segala isu untuk sekedar "nunut kondang", ikut populer. 
 
Persoalannya menjadi pelik, justru ketika ia sudah jadi isue, apalagi kalau itu "tumpuk undung", bertumpuk2. Isu agama (yang ini selamanya manipulatif), sosial (ini masalah superioritas etnis dan kelas), ekonomi (yang menyangkut penguasaan sumberdaya), atau malah budaya (nah... ini dia, mereka yang merasa selamanya eksportir akan merasa dirinya lagi2 superior. Sementara yang importir selamnya inferior). 
 
Akan sempurna peliknya, jika banyak kepentingan negara (baca: rezim) untuk ikut campur hanya sekedar cari teman dan sekutu.
 
Sesungguhnya, persoalan Palestina ini akan lebih mudah diselesaikan seandainya tidak banyak ikut campur tangan pihak2 yang justru menjadikannya kendaraan politik. Dalam kasus Palestina, saya merasa figur seperti Gus Dur adalah sosok yang mungkin bisa menjadi tokoh penyelesai. Ia memiliki semua syarat untuk itu. Bukan malah berlarut2 seperti hari ini. Sehingga orang2 lokal lebih suka mengibarkan bendera Palestina, dibandingkan Merah Putih sebagai bendera nasional bangsa ini.
 
Bagi saya, persoalan Palestina itu hanya menarik untuk orang2 yang pikirannya rumit dan narsistik. Tepatnya suka merumit2kan keadaan dan butuh selalu didengar pendapatnya. Orang yang bacaannya adalah status sosial media, alih2 membaca buku sejarah dalam sumber aslinya. Apalagi bersedia mendengar dari sisi pihak sebelah yang biasanya 180 derajat berbeda. Menjelaskan kenapa bukannya persoalan ini akan selesai, justru membawa kita semakin jauh dari penemuan solusi.
 
Faktanya di Indonesia, perkara Palestina ini sudah mewabah jadi isue yang seksi ditunggangi. Sekedar untuk menunjukkan identitas masing2 kelompok. Dengan buzzer dengan atau tanpa bayaran yang entah kenapa, jika menyangkut isu ini berubah jadi telengas. Coba cek sesekali, siapa yang berada titik sebaliknya bisa bicara bebas. Pasti akan dirajam habis, dianggap tidak berperikemanusiaan. Tidak ada...
Lagi2 Gus Dur adalah orang terakhir yang berani melakukannya. Setelahnya, orang lebih suka membiarkan persoalannya dibaca sebagai isu politik tanpa bacaan yang kritis. Gus Dur adalah figur yang berusaha menyederhanakan persoalan melalui dialog bilateral, bukan seperti sekarang yang ditarik menjadi isu multilateral. Menjelaskan kenapa persoalan yang sesungguhnya "latah" dalam sejarah dunia ini makin jauh panggang daripada api. 
 
Kenapa bahkan ketika kita bersikap secara berimbang saja, jatuhnya tetap salah. Kita tahu apa yang terjadi pada Gus Dur? Ia difitnah sedemikian rupa, diperumit posisi politiknya, dan akhirnya dijatuhkan. Sesuatu yang kemudian selamanya kita sesalkan!
 
Tapi apa sesungguhnya yang terjadi dengan Palestina itu? Kenapa tanah yang secuil ini bisa sedemikian mengharu biru masyarakat dunia, bahkan tak kurang di Indonesia?
 
Faktanya Palestina sebenarnya udah mendeklarasikan kemerdekaannya tahun 1988 yang dibacakan oleh pemimpin Fatah (PLO) Yaser Arafat di Aljazair. Bahkan setelah deklarasi kemerdekaan 1988 ini, lebih dari 80 negara langsung mengakui Palestina (ada yg menyebut 100 negara). Untuk melengkapi syarat sebuah negara melalui Perjanjian Oslo 1993, Israel mengakui Otoritas Palestina (OP) sebagai pemerintahan Palestina yg sah dan mengembalikan wilayah Tepi-Barat zona A dan B, untuk dikelola Palestina sendiri. 
 
Di tahun 2005 Israel kembali mengembalikan Jalur-Gaza ke Palestina juga untuk membentuk negara yg utuh. Dengan syarat utama pihak Palestina mengakui Israel juga dan berhenti bermusuhan dengan Israel (two state solution). Masalahnya Otoritas Palestina dibawah kendali Fatah (PLO) kemudian bertikai dan baku hantam dengan Hamas yang kemudian berhasil mengkudeta Otoritas Palestina dan menguasai Gaza sepenuhnya di tahun 2007. 
 
Kita tahu semua, siapa yang di belakang Hamas? Iran! Ia yang selama ini dengan semangat mengekspor Revolusi Islam mengirim senjata dan roket untuk menyerang Israel. Dan mencapai puncaknya pada 7 Oktober 2023, saat kelompok militan Palestina yang dipimpin oleh Hamas melancarkan invasi dan serangan terhadap Israel dari Jalur Gaza, menerobos tembok pembatas Gaza-Israel dan memaksa masuk melalui penyeberangan perbatasan Gaza, ke pemukiman terdekat dan instalasi militer Israel.
 
Hal ini membuat Israel membatalkan pengakuan negara Palestina dan menolak melepas wilayah yg mereka kuasai di Tepi-Barat terutama zona C, karena beranggapan pihak Palestina tidak menepati perjanjian Oslo terutama bagian berhenti bermusuhan dengan Israel. Di sinilah tiba2 seolah Israel sendirian dan diganyang hampir semua negara di dunia, kecuali tentu saja pendukung utama yaitu Amerika Serikat. 
 
Artinya apa? Palestina ini adalah kuda tunggang dari sedemikian banyak kepentingan. Terutama, negara2 yang merasa dirinya bisa jadi "eksportir", yah eksportir apa saja. Ideologi, pengaruh, dan tentu saja senjata. Intinya Palestina sudah berubah jadi subyek yang seharusnya merdeka berubah menjadi obyek yang selamanya dibonsai sebagai isu dan masalah. 
 
Indonesia dalam hal ini kecipratan tuah isu Palestina. Para politikus bersorak sorai, kelompok2 yang selama ini berposisi sebagai pembenci pemerintah menjadikannya punya eksistensi lagi. Bahkan di kota saya, stadion milik pemerintah atapnya diwarnai dengan bendera Palestina. Di acara apa pun, membawa bendera Palestina dianggap simbol pembebasan. Saya memahaminya sebagai kesumpegan di jalanan di rumah di komunitas. Dari tekanan ekonomi dan ketidakberdayaan terhadap represi hukum. 
 
Banyak kegiatan pengumpulan dana dilakukan, sebagian memang sampai. Sebagian sebagaimana biasa jadi ajang cari turahan, atau malah dikerakap semua. Seorang artis yang telah layu dari dunia film dan panggung politik. Tiba2 menyewa kapal judulnya membawa bantuan kemanusiaan hanya untuk ditolak masuk. Sebuah eksibisionis politik yang gagal. Apa yah dumeh mbake kae sing ayu njuk boleh? Bolehlah ia tampak ayu di sini, di Arab sana yang lebih ayu darinya banyak. 
 
Dan yang terakhir, seorang Menteri tiba2 menyediakan 15.000 ha lahan untuk tanaman pangan. Bagi saya ini sudah keterlaluan! 
 
Pertama, apa yang dilakukannya pasti dengan membabat hutan. Artinya sekedar pembenaran merusak hutan yang setengah mati oleh para pemangku adat pemiliknya dijaga. Atas nama negara, ia merusak hutan hanya demi kepentingan politik sesaat.
 
Kedua, kalau pun bisa ditanami yang itu pasti butuh waktu tahunan. Karena sebuah tanah gambut untuk dirubah tanah pertanian, paling cepat baru berproduksi normal butuh lima tahun setelah ia dibabat bersih. 
 
Ketiga, ini bukti lain betapa bangsa ini "semugih", sok kaya. Di tengah rakyatnya yang kesulitan pangan dan terkadang masih import. Ia lebih peduli pada yang jauh, abai pada yang dekat. 
 
Mereka ini lupa, bahwa nyaris setiap negara lain juga memberi bantuan besar. Jangan lupa, AS sebagai negara yang paling dibenci oleh Hamas dan Iran adalah donatur dana kemanusiaan bagi Palestina. Persoalannya tampak hiperbolis, lebih karena perilaku mereka yang selama ini memiliki sikap hedonis dan hobby pada perang, sekaligus menjadi penjarah bantuan kemanusiaan. Sesuatu yang tampak lumrah di medan perang manapun.
 
Kasus Palestina membuktikan, di hari ini Indonesia itu dibentuk oleh isue politik yang sialnya selalu jatuhnya dipolitisr, dan bukan pada kebutuhan mengejar kesejahteraan bersama untuk bisa bergerak maju. Sehingga setiap gerak maju justru selalu dicurigai, sedangkan nyaris semua isu politik dianggap sebagai obat mujarab untuk menyambung umur dan memanipulasi keadaan.
 
Silahkan terus atau diteruskan deman dan kedanan Palestina. Saya tak jadi penonton saja. Terlalu banyak yang bisa dikerjakan, selain mengurus urusan negara lain.
Negara yang sesungguhnya tak butuh2 amat kita urus.
.
.
.
NB: Sebagai orang yang pernah dididik berpikir secara geopolitis. Bila ukurannya hari ini, sampai kiamat pun kondisi bangsa Palestina akan tetap seperti ini. Dulu sekali, kita ingat Perjanjian Camp David diselenggarakan justru untuk mendamaikan Israel dan Mesir. Sebuah perdamaian yang efektif sampai hari ini, karena keduanya tak pernah lagi bersengketa. Sementara titik tengahnya, Palestina, negara yang jadi obyek sengketanya malah terabaikan.
 
Demikian pula, negara2 di sekitarnya. Makin tak peduli urusan Palestina. Bukan karena tak peduli, tapi selain melelahkan juga tak melihat titik untungnya. Arab Saudi contohnya, kalau pun mereka harus membakar uang, mending membeli pemain2 sepakbola mahal. Atau membuat kota raksasa baru bernama Neom. Karena mereka tahu, tanpa itu mereka tak pernah menarik dan disebut. Mereka boleh kaya raya, tapi tanpa publisitas yang baik, budaya pop yang digandrungi dunia: mereka adalah nothing.
Hanya Iran yang masih membela secara sporadis Palestina. Dalam hal ini pun harus dipersempit sebagai Hamas. Karena demikianlah watak kaum Syiah, mereka akan selamanya jadi eksportir ideologi mahiwal. Menjelaskan mengapa mereka sulit diterima dalam pergaulan i di tingkat apa pun. Iran pun setelah beberapa kali konflik terbuka dengan Israel, mereka mbleret, memudar. Tentu mereka juga makin sadar bahwa infiltrasi intelejen yang dilakukan Israel sudah masuk terlalu dalam. 
 
Dalam dunia politik, gerak intelejen itu lebih menakutkan daripada gerak pasukan tempur di atas medan laga. Apalagi itu kalau sifatnya menyangkut perang berbasis elektronik.
 
Saya bukan fans club Israel, walau saya seorang Katolik. Meski setiap kali misa didengungkan bahwa Yesus adalah Raja Israel. Bahwa setiap kali membicarakan Israel selalu harus mau membedakan antara Yahudi dan Zionisme. Ajaran yang menurut saya justru makin memperumit keadaan. Saya hanya menjadi bagian dari penikmat kabar baik, bagaimana Ethiopia bisa lepas dari jaring kemiskinannya. Karena kestabilitan negara ini yang berhasil diciptakan berkat dukungan Israel.
 
Hal2 seperti ini tampaknya tak akan pernah ada dalam bacaan orang yang sedang mengalami meriang dan kedanan isu Palestina. Gak apa, kalau Israel saja gak butuh pengakuan untuk itu. Untuk apa kita ikut membesar-besarkannya.
 
Di situ beda visioner dengan reaksioner.

 

Senin, 15 September 2025

Prabowo yang Mengisi Waktu

 Dari wall mas Andi Setiono

PRABOWO YANG TERBUANG DALAM WAKTU I Ketika saya memutuskan memilih Prabowo dalam Pilpres lalu. Di luar karena saya tidak mau membuang hak memilih saya, hanya sekedar menghindari sisi "sok keren" karena golput. Dua pilihan lain yang tersedia sedemikian buruk. Yang dapat 16 % harus dihukum, bukan sekedar karena tidak pantas, tapi sikap "sok tahu"-nya yang keterlaluan. Sedang yang dapat suara sedikit lebih baik, selamanya ia hanyalah "kontestan abadi", kutu loncat pengejar jabatan.

Keduanya pada level yang sama "pengejar mimpi di siang bolong". Bener2 bolong dan kosong, tapi sebagaimana tong. Keduanya hanya nyaring di bunyi, tanpa isi.

Tentang Prabowo? Ia tak kalah buruk dengan modal yang sama buruknya. Berharap terlalu tinggi padanya adalah cara kita membuang waktu. Tentu dengan harapan, sabar kelak muncul pemimpin yang lebih. Apa yang dalam bahasa anak hari ini untuk menuju "reset", setting ulang Indonesia. Menata kembali keadaan yang tidak baik2 saja. Hanya itulah yang permanen dari Indonesia dari waktu ke waktu. Kalau pun tampak beringut, sedikit bergerak, situasi dasarnya tetap sama. 

Karena apa? Sebagaimana pemahaman umum yang tercitrakan tentang Indonesia: ia adalah gadis cantik molek, selalu ranum dan subur. Sayangnya hanya siap dijarah, dan diperkosa. Bukan saja oleh modal asing, tetapi sikap serakah para penggedenya.  

Baiklah, kita ulas kenapa Prabowo hanyalah masa2 yang harus dilewati saja: Ia yang yang terbuang dalam waktu.

Pertama, kemenangan Prabowo, sebenarnya tak lebih hadiah. Ia telah tiga kali gagal, dalam kekalahan yang diglorifikasi "nyaris menang" melawan seseorang "nothing" dengan mengeroyok habis. Dan ketika menang, ia butuh pertolongan dari orang yang selama ini dikeroyok dan dihina dinakan itu. Dimana hal itu dimulai dari "tradisi usang menghapus dendam lama", dengan memberinya jabatan kenegaraan. 

Di sini ia adalah SBY Jilid Dua, dengan perlakukan yang berbeda. 

Tampak mulia, tapi sebagaimana budi baik ia akan menuntut balas budi. Di titik inilah, ia akan selamanya dianggap sebagai "manusia gamang". Tragis ketika seorang jendral, anak menteri, mantu Presiden, konglomerat, pebisnis sukses. Semua predikat, yang memberinya jejak "darah biru" justru sejak awal telah kehilangan kepantasannya. Ia harus selalu mengenakan baju yang kedodoran.

Kedua, tiga program unggulannya: Makan Bergizi Gratis, Sejuta Rumah Bersubsidi dan Koperasi Merah Putih. Ketiganya melulu bersifat populis, yang siapa pun Bendahara Negara-nya akan nyungsep dan bengep. Sejak awal saya telah memprediksi Sri Mulyani (SMI), sebetapa pun hebat dan proper-nya dia pasti akan terpental. Ketiga program cost-centre seperti itu, jelas hanya akan membuat negara dari kondisi tidak baik2 saja menjadi semakin tidak baik2 saja. 

Bila ada program kenaikan pajak, pemajakan pada hal, dan sikap progresif dari institusi pajak. Sebenarnya sama sekali bukan solusi, itu hanya jalan keluar bagi SMI dari kabinet yang sekedar menjadikannya alat. Sial saja pakai banget, bila harus menyakiti "perempuan baik" ini dengan cara membiarkan rumahnya dijarah secara tidak pantas. Mengapa dia? Bukan yang lain, bukan menteri2 lain yang sama sekali tak memiliki kompetensi profesionalisme. 

Jawabannya bagi saya ya hanya satu: ya karena, itulah cara mempercepat kepergiannya, sekaligus mempermalukannya. SMI adalah korban konspirasi tingkat tinggi, hanya caranya saja yang sedemikian telanjang dan kampungan. Sekampungan aksi demonstrasi2 akhir2 ini.

Ketiga, terjadinya demonstrasi terakhir adalah cermin betapa di tingkat tertinggi eksekutif mereka bermain di dua kaki. Di satu sisi, itu adalah cara menaklukan DPR yang memang isi2nya orang2 norak, tidak kapabel, dan sekedar pengejar jabatan. Pola demo-nya terlalu kentara, bahwa semua yang terlibat saling menunggangi dan memanfaatkan situasi. Bagi yang pernah beredar di kalangan aktivis jalanan, akan mudah mengidentifikasi polanya. 

Kombinasi antara kerja intelejen dan militer berstandar ganda, orang2 bayaran yang bergerak sebagai provokator dan kriminal, dana yang dititipkan melalui lembaga funding multinasional, dan tentu saja mahasiswa yang butuh curriculum vitae pernah turun ke jalanan. Bukti2nya sederhana sekali, perusakan fasilitas publik, gedung2 institusi negara, dan yang paling absurd justru tuntutan untuk membebaskan para pelaku anarkis, penjarah, dan provokator.

Sial betul, ketiga tagar pink-hijau yang dijadikan simbol perlawanan. Yang semula dianggap sebagai simbol perlawanan, ketika seorang emak2 berani menantang aparat. Belakangan ia justru sekedar meneriakkan dukungan pada salah satu capres yang gagal. Dan ternyata lainnya, keluarganya sendiri justru meminta maaf karena sosok perempuan ini: "bermasalah dan butuh perhatian khusus". 

Harusnya tidak aneh: bukankah selalu demikian perilaku para para demonstran. Ketika ia mulai bermasalah dengan dirinya. Ketika rumah tak pernah memberi jawaban. Maka turun ke jalanan adalah pelarian. 

Saya sendiri sudah lama tidak percaya pada kata "demokrasi", dan selalu sedih ketika ada wacana aneh "pejuang demokrasi". Karena sejak jaman dulu demokrasi selalu mengisi dirinya dengan orang yang salah. Demokrasi selalu menempatkan orang "yang paling ingin untuk menjadi". Dan dalam kasus Indonesia, yang paling ingin, tentu saja menggambarkan dia yang paling berani berbohong, tidak takut mengeluarkan dana yang tak masuk akal, dan lalu mengingkari sumpah jabatan yang pernah diucapkannya.

Dalam lingkaran setan beginilah, situasi ulang-alik lembaga eksekutif bertugas melayani kepentingan legislatif. Dan yudikatif, militer (plus polisi), dan pers, yang harusnya menjadi kekuatan ketiga, keempat, dan kelima,. Yang semestinya menjadi independen, selalu mengintai untuk berebut kue. Dengan cara menjadi alat para penguasa, dan atau mereka yang di hari ini tidak berkuasa untuk kelak ingin mencicipi kekuasaan. 

Realitasnya kita hidup di hari-hari, di mana tak ada satu negara pun di dunia. Baik kecil atau besar, berkembang atau maju yang berada pada titik stabil. Cina yang tampak besar, perkasa, dan tak tersentuh saja, konon tak lama akan berubah. Pertarungan antara yang ingin balik ke belakang atau terus maju ke depan. Eropa sebagai semangat keterbukaan, kemanusiaan, dan stabilitas. Bergerak mundur, yang diawali dengan membatasi imigrasi dan pekerja asing. Amerika, jangan ditanya. Tampak masih super power, tapi gagal menangani masalah RT-RW-nya.

Lalu Indonesia ingin tampak lebih baik? Dengan memanipulasi angka2 statistik, pertumbuhan ekonomi, yang diimbangi dengan omong kosong pemerataan yang populis. Nonsen! Jargon Gus Dur yang mengatakan bahwa Prabowo adalah sosok yang ikhlas adalah hiburan yang basi. Kita hanya perlu melewati masa2 kekuasaan: menjadi lebaih baik itu bonus, tapi jika lebih buruk tidak perlu kaget. Ajeg, mampat, dan bebal tetap akan berjalan lama.

Hari ini ia (mungkin) adalah right man (than two other), but in wrong place, wrong time juga. Artinya kita harus siap dengan lima tahun yang terbuang dalam waktu. ... 



.

.

.

NB: "Terbuang Dalam Waktu" adalah lagu paling indah, melodius dan bermakna yang diciptakan musisi Indonesia dalam setahun terakhir. Lagu yang "terlalu tua, ketuwan" untuk industri musik yang menuntut gairah baru, darah muda, dan dalam beberapa konteks jingkrak2 sesaat. Dinyanyikan oleh band yang dari namanya, terlihat semangat ke-Indonesia-an yang kuat: Barasuara. Sebuah kelompok yang dikomandani oleh Iga Massardi, yang tak lain putra dari sastrawan besar, sahabat saya: (alm) Yoedhistira N. Massardi.

Lagu ini tentu saja sangat kaya metafor dan pemahaman, ia aplikatif dalam banyak suasana: suka duka, tua muda, harapan kepedihan. Bagi saya ia satu semangat dengan salah satu surat pendek dalam Kitab Suci: Al Ashar. "Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal kebaikan dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran.


Suatu surat sapu jagad, menyeluruh yang mendedah inti kehidupan manusia. Bahwa kehadiran manusia, sesungguhnya tak lebih membuang waktu...


Lagu yang dalam versi permainan piano-nya, yang minim alat musik lain justru terasa lebih menyentuh, lebih mendalam. Tampak ingin menghancurkan, tapi sesungguhnya berupaya menghidupi. Ia menolak menjadi tua, tapi sekaligus mengajak kembali menjadi kekanakan. Ia yang seharusnya "sudah lalu", tapi ingin tetap relevan di hari ini. Ia tampak kedodoran dalam nyaris segala hal, tapi masih ingin tampak gesit dan apresiatif. Ia sudah terpisah dari masa lalu, tapi ingin selalu membawanya serta di hari ini.


Semua ambigu yang ada pada diri Prabowo Subianto. 

15 September 2025


Selasa, 17 Agustus 2021

Puan: Dulu, Kini, Nanti 3

 Dicopas dari link kawan fesbuk saya Andi

CERITA TENTANG PUAN: DULU, KINI, NANTI (Bagian 3/3)


Saya butuh waktu yang cukup untuk membuat penelaahan, kenapa safari baliho itu muncul dimana2. Tentu saya bersimpati pada teman2 atau publik yang mengkritiknya. Karena menganggapnya tidak tepat waktu di saat pandemik makin menjadi. Saya sama sekali tak keberatan ia dituduh sekedar pencitraan, atau mencuri start. Bagi saya sendiri dalam konteks waktu, bila sejarah itu selalu berulang maka idiom adakah waktu yang tepat itu omong kosong. Waktu tak pernah tepat, tapi waktu selalu akan berulang...

Tapi benarkah demikian? Jawaban paling gampang yang muncul dari para pembelanya (yang rata-rata bodonya minta ampun itu) adalah yang lain juga begitu, kenapa ketika Puan ikut jadi masalah. Gugatan lainnya, kalau juga ikutan, kenapa tiba2 sedemikian masif. Ya memang sangat masif, kalau tidak mau dianggap sebagai sampah visual model baru. Tak usahlah kita menelisik biayanya, karena toh juga bukan duit kita dan tak membebani uang negara...
Setelah saya menelusur, setidaknya saya menemukan jawaban pokok bahwa apa yang terjadi adalah melulu masalah internal PDI-P. Alasan2 yang saya sebut di atas semua bernada eksternal, dalam arti apa yang disebut "rebranding". Pakai (re), karena suka atau tidak, diakui atau tidak, Puan Maharani tentu jauh lebih dikenal dibanding "rival"-nya para pemasang baliho lainnya itu. Jika konteksnya rebranding itu jadi salah besar.
Beradu diri atau bertanding kok di masa yang salah, dengan rival yang tidak selevel. Reputasinya Puan bagaimana pun dapat dikatakan jauh lebih baik. Apalagi bila pembandingnya Airlangga Hartarto yang memang sedang "makmur-makmurnya" beroleh rejeki pandemi. Atau Muhamin (is) Kandar yang memang hobinya menghias jalanan dengan foto jeleknya. Apalagi dibanding anak kemarin AHY yang sebentar lagi kehilangan rumah itu. Persoalan Puan itu kan, terutama karena publik gagal menemukan jejak Puan bangun jalan tol, waduk, masuk got, atau blusukan ke pasar. Sehingga ia dianggap perlu melakukan rebranding lebih agresif. Yaelah....
Situasi kondisinya sebenarnya adalah PDI-P itu sebagaimana partai pemenang Pileg dan Pilpres (kalau dalam sepakbola ini disebut brace, dua kemanangan sekaligus). Pada periode keduanya ia mengalami apa yang disebut kerapuhan internal. Apa yang dalam teori organisasi dan bahasa politik dianggap "pembusukan dari dalam". Atau kalau dalam bahasa Jawa "kerah dewe nang njero omah, bergelut sendiri secara internal". Kondisinya, tak berbeda jauh dengan Partai Demokrat di masa kedua kepemimpinan SBY sebagai presiden. Dan itu parah sekali!
Di sinilah, kemudian PDI-P butuh konsolidasi ke dalam, apa yang disebut "kembali merapatkan barisan". Pemasangan baliho itu adalah bentuk kepatuhan terhadap instruksi Pengurus Pusat!
Dan sejauh yang saya lihat, hal tersebut sedikit banyak berhasil. Inilah yang sebut dalam tulisan awal saya sebagai strategi anti-marketing. Sebelum melakukan marketing, siapkanlah sisi inetrnal-mu terlebih dahulu. Menejelaskan kenapa, walau diejek sedemikian rupa oleh publik, yang diejek terutama Puan dan PDI-P bisa2 saja. Jangan lupa difitnah, dihina, dicaci maki di hari ini adalah berkah!
Tapi baiklah, tak lengkap bila saya tidak menyajikan data tentang pra-kondisi yang terjadi di internal PDI-P, yang mendorong keputusan pemasangan serentak baliho bergambar PM, yang menurut catatan saya: variannya sangat beragam. Minimal dari jenis pakaian dan statement pendek yang ada di dalamnya. Menunjukkan bahwa hal tersebut memang dirancang sedemikian rupa dan sangat serius, oleh tim komunikasi internal PDI-P.
Sepenelaahan saya terdapat tiga pra-kondisi, yakni:
Pertama, tak banyak yang memahami betapa "kasus kecil" penyuapan oleh Harun Masiku (HM) sebenarnya adalah sebuah design besar awal penghancuran PDI-P. Bagian yang tak banyak orang mau tahu, siapa sebenarnya HM! Orang hanya mendramatisir ia adalah saudara jauh dari alm Taufik Kiemas, suami Megawati. Sesungguhnya, HM sebelumnya adalah kader dari Partai Demokrat yang gagal nyalon, lalu sebagai kutu loncat ia pindah ke PDI-P. Kembali kalah. Tapi kemudian, karena ngebet banget jadi Anggota DPR RI. Ia lalu menyuap salah seorang Komisioner KPU. Polanya terlalu telanjang gampang dibaca, bahwa ia orang yang disusupkan!
Di PDI-P atau siapa pun partai pemenang, jenis orang begini banyak sekali! Mereka lah benalu, yang membuat partai sering dianggap tak berideologi. Atau dalam konteks PDI-P jadi tak lebih partai nasionalis lainnya, yang jadi kuda tunggang para bandar!
Persoalannya, ia dianggap membawa2 nama Sekjen PDI-P, Hasto Kristiyanto (HK). Padahal, informasi valid saya miliki, HK sama sekali tidak tahu. Ia tercatut namanya, karena ulah dari makelar2 jabatan yang memang banyak terdapat di lingkaran partai mana pun, tak terkecuali PDI-P. Logikanya, kenapa kalau akan dilakukan Pergantian Antar Waktu (PAW), harus ke KPU. Bukankah itu adalah kewenangan dari Pengurus Pusat (PP). Situasinya, jadi pelik karena HM kabur dan di-hoaks-kan disembunyikan oleh orang partai. Nah ini juga persoalan serius!
Dari informasi yang saya miliki, KPK sudah lama tahu dimana HM bersembunyi (atau malah justru dimana ia disembunyikan). Pertanyaannya, KPK faksi yang mana? Ya, yang mana lagi kalau bukan KPK Faksi Kadrun yang dikomandani NB, yang sekarang masih berjuang untuk diluluskan sebagai PNS itu. Kerumitan2 internal seperti ini pulalah, yang juga membuat KPK jadi semakin mandul. Karena upaya pembersihan dari dalam sangat sulit dilakukan. Dan dalam konteks inilah, Pengurus Pusat PDI-P berusaha keras merapatkan barisan.
Momentum ini digunakan untuk menilai kader mana yang patuh dan loyal, mana yang numpang dan ngeyelan....
Kedua, apa yang dianggap sebagai "Ganjar mulai jalan sendiri dan kemajon". Diakui atau tidak, popularitas Ganjar Pranowo memang cukup tinggi. Hal ini dimungkinkan bukan saja karena secara fisik ia sangat eye-chatching, tapi terutama aktivitasnya secara sosial media sangat efektif. Mungkin, ia belajar dati Roy Suryo ketika menjadi Menpora. Orang boleh tidak suka kepada kepribadiannya, tapi Roy adalah figur menteri yang paling accesable bagi media. Media sangat mudah menghubunginya, saat mencari jawaban atas sebuah pertanyaan. Bahwa kemudian ia dibenci karena ketika tak lagi menjadi menteri, karena pulang membawa panci. Itu lain soal...
Keberhasilan Ganjar juga tak sampai di situ, ia dianggap berhasil dalam banyak hal. Menarik investasi ke Jawa Tengah, yang tercermin dari pemindahan banyak pabrik dari Jawa bagian barat ke bagian Tengah. Dukungannya terhadap penataan kembali Kota Lama Semarang, saya pikir adalah juga keberhasilan yang patut diapresiasi. Sikapnya yang keras terhadap para guru dan pendidk beraroma kadrun di banyak Sekolah Negeri, membuatnya memiliki impresi yang yahud. Apalagi bila pembandingnya adalah Anies Baswedan dan Ridwan Kamil, yang tidak sekedar membiarkan tapi jadi sponsor bagi gerakan pro-khilafah itu.
Akibat, sebagaimana kita tahu Gerakan "Ganjar The Next-President" di akar rumput semakin kuat. Didukung hasil kerjaan para lembaga survai baik yang bayaran atau tidak itu, yang menempatkannya memiliki elektabilitas tinggi. Kondisi inilah, yang menyebabkan Ganjar memperoleh reaksi negatif justru dari internal partainya sendiri. Dan tamparan paling keras itu, justru muncul dari Bambang Pacul yang tak lain adalah Ketua DPW PDI-P Jawa Tengah. Hukuman pertama telah dilayangkan, ia tak diundang dalam Rapat Kerja Nasional PDI-P di Semarang.
Karena itu fokus pemasangan baliho ini terlihat sangat masif dan mencolok di Jawa Tengah sebagai kandang banteng yang utama. Sejak itu saya lihat, Ganjar mulai mengkoreksi diri, untuk tahu diri "ora nggenge mangsa". Dan menyatakan patuh dan loyal terhadap partainya. Bukankah itu sinyal dan presentasi yang baik!
Ketiga, dan barangkali ini sekaligus menjawab pertanyaan kok akhir2 ini PDI-P jadi rajin mengkritik Presiden yang tak lain "petugas partai"nya sendiri? Suka tidak suka, penanganan Pandemic Covid-19 ini berjalan ke arah yang tidak menentu. Tak ada satu kajian akademis atau teoritis yang mampu menjawab kapan berakhirnya. Di sisi seberangnya, tidak sebagaimana biasa tak ada satu pun paranormal yang tepat menunjukkan ramalannya. Kenapa? Karena memang, alam semesta menghendaki kita tidak untuk terus menerus memusuhinya, tapi perlahan untuk berdamai hidup dengannya. Terlalu klenik? Ya tidak, bukankah selama ribuan tahun sejarah, manusia juga menjalaninya seperti itu....
Hanya manusia modern saja, yang hidupnya kadung terlalu rumit, menghargai dirinya terlalu tinggi dibanding alam semesta tempatnya berpijak! Belum paham, yo wis...
Secara teknis, Jokowi juga terjebak dalam sengkarut bisnis farmasi yang mencekik tidak hanya rakyat tetapi terutama anggaran negara. Ia dianggap membiarkan penanganan pandemi ini mengikuti selera dan kemauan pasar medis dan obat-obatan. Bagaimana mungkin, kita terlambat tahu bahwa biaya Test PCR di negeri ini nyaris 10 kali lipat dibanding biaya di India. Kenapa setelah dipilihnya Budi Gunawan Sadikin yang dianggap lebih bermental pedagang dibanding kedokteran itu bisa sedemikian kecolongan? Ini bukan persoalan sederhana, berapa juta kali sudah test PCR yang dibiayai negara? Berapa selisihnya? Yang bila itu bisa ditekan, akan sangat menghemat anggaran negara...
Dalam konteks ini, PDI-P menganggap Jokowi terlalu "dikrukubi", dikangkangi oleh lingkaran kekuasaan yang membuatnya tak mau mendengar lagi suara partainya sendiri. Di sinilah arti penting baliho-baliho itu. Mungkin baliho itu ingin berkata:
"Wahai Jokowi, jangan lupa kamu bisa ada di sana. Karena kami ada di sini. Kalau kamu masih ingin di sana, mulai tengoklah kami di sini".
Menjelaskan kenapa yang dipasang adalah foto Puan Maharani, bukan foto Megawati. Puan Maharani adalah representasi paling sahih dari kekuatan legilatif, karena ia adalah Ketua DPR RI. Ia adalah sekedar pengingat, bahwa DPR bisa me-recall Jokowi setiap saat. Apa yang sudah sangat gencar dilakukan secara laten oleh para rival PDI-P. Kalau PDI-P mau bergabung, selesai sudah....
Bagi saya, Jokowi itu selamanya tetap orang baik. Justru karena ia orang baik, ia tampak jadi sangat lemah di saat pandemi semakin kuat mencengkeram. Pandemi ini, sudah dengan mudah mengubah segalanya. Semuanya tiba-tiba tampak hancur berantakan, bagi para fatalist inilah saat terbaik untuk semakin dan sekalian menghancurkannya berkeping-keping. Hal-hal seperti inilah, yang gagal ditangkap atau dibaca oleh media yang bagi saya di luar berwatak pemalas, menganggap dirinya terlalu penting sebagai pemegang otoritas kebenaran informasi.
Padahal bekalnya sekedar kemampuan pasang kuping kanan kiri lalu copy-paste ....
Kita secara bersama-sama memasuki fase kehidupan baru! Masyarakat manusia akhirnya juga tak lebih hamparan padi, yang bisa setiap saat terserang hama. Tak lebih peternakan ayam ras, yang hanya bisa jadi diambil telurnya tanpa pernah dikasih kenikmatan berjalan2 di luar kandangnya. Kita terlalu bnayak berhutang, menghina kebaikan alam. Sampai kapan?
Sampai kita berhenti mengutuki pandemi, dan mulai belajar berdamai untuk lebih mengenali diri sendiri....
.
.
.
NB: Sebagai penutup, fenomena baliho ini justru menunjukkan gaya berkomunikasi Puan Maharani yang unik, original, dan kekinian. Ketika ia dianggap "tidak ada, nothing". Karena ia tidak pernah banyak berbicara, ia dianggap tak terlalu bernafus jadi "media darling". Dalam konteks media podcast-an, dianggap susah diundang ke media untuk diwawancarai. Bagi saya, justru karena ia anak jurusan komunikasi massa. Ia sangat paham menempatkan dirinya.
Dalam kaitannya secara internal, sebagai petugas partai yang lainnya. Ia merasa perlu harus tetap patuh, tunduk, dan terutama memberi ruang yang lebih lebar kepada ibunya. Karena bagimanapun secra de facto dan de jure, ibunya masih mbebeggeg ada di situ. dalam falsafah Jawa, ia bisa dianggap "mikul duwur, mendem jero". Ini cermin kerendahgan hati dan kebersahajaan, yang selalu gagal ditangkap manusia milenial yang selalu lebih rumour, glamour, dan kehebohan.
Dan yang terakhir, apa juga salahnya to? Kalau akhirnya Puan Maharani dicalonkan jadi Presiden? Bukankan ia hanya sekedar copy paste Indira Gandhi dalam konteks Jawaharlal Nehru di India. Tak ada yang baru, dan tidak ada yang istimewa. Dinasti politik bukan hal yang tabu dalam peta politik modern. Bagi saya satu-satunya yang istimewa ya, inilah kesempatan terbaik anak UI untuk menjajal kursi kepresidenan. Bukankah juga ini abad perempuan.
Mosok orang militer terus, bosen dan gak jaman! ITB sudah dua kali, orang Pesantren juga pernah. Bahkan sekedar Drop-out-an Unpad sudah ada. Mosok harus anak UGM lagi. Cie cie....
.

Puan: Dulu, Kini, Nanti 2

 Dicopas dari link kawan fesbuk saya Andi

CERITA TENTANG PUAN: DULU, KINI, NANTI (Bagian 2/3)

Nasehat baik dari sahabat saya Nana Padmosaputro, sang manusia multitalentis itu. Seorang psikolog, tarotis, motivator, bla bla bla yang tulisannya selalu original, meski kadang sangat tengil, nakal, dan ndagel. Tampak sangat milenialist, walau ternyata realitanya justru menunjukkan spirit dasarnya sebagai penganut Kejawen. Bahwa untuk menilai sesuatu harus menggunakan alat ukur yang tepat. Contohnya, bila ingin mengukur suhu badan ya pakai termometer, jangan pakai mistar penggaris. Atau kalau menimbang badan, jangan sekali2 pakai speedometer. Hal sederhana seperti ini, kita mudah abai dan sering tidak cermat. Jadi gampang marah, reaktif, dan akhirnya menghasilkan penilaian yang salah.
Menilai Puan di hari ini pun harusnya demikian. Minimal dari dua aspek pokok. Mustinya dalam ruang dan waktu yang juga kekinian....
Coba kita tengok, dengan siapa sesungguhnya Puan head to head berhadapan sebagai sesama "anak mantan presiden". Bagaimana ia membangun prestasi dan reputasi. Bandingkan dengan anak2 Suharto yang konon tajir melintir tujuh turunan itu? Setelah ayahnya tak lagi berkuasa, hidupnya hanya terpaku bagaimana mempertahankan hasil rampokan bapak-ibunya. Apa hal baik yang mereka lakukan selama lebih dari dua dekade terakhir ini. Kerusakan, kerusakan, kerusakan. Mereka merubah total era dimana Islam sebagai musuh di masa bapaknya, menjadi Islam sebagai alat perusuh. Mereka menjadi sponsor demo, teror dan kerusuhan yang nyaris tanpa henti. Tak lebih keluarga oportunis, destruktif, teroris....
Lalu, kita geser kita bandingkan dengan dua putra mahkota Cikeas itu? Tapi maaf, gak jadi ding, saya sudah terlalu malas bercerita tentang mereka. Keluarga yang hidup dengan hantu-hantu, yang tanpa sadar diciptakannya sendiri....
Atau kita pilih yang lebih bernilai positif: anak2 Gus Dur. Yang lebih fair dan berimbang karena sama2 tokoh wanita. Setelah kejatuhan ayahnya, lalu seolah sudah jatuh tertimpa tangga. Partai besutan bapaknya dirampok oleh keponakannya sendiri. Mereka nyaris bernasib sama, mengalami trauma politik yang sangat akut. Mereka tak mau lagi bermain dia area politik praktis. Dan memilih menjadi Social Justice Warrior (SJW) yang berada di pinggiran, dengan melakukan pendidikan politik. Bagus, tapi pengaruhnya sangat lambat, meleset sedikit pengaruhnya hilang. Apa pasal...
Ruang dan waktunya bergeser terlalu cepat!
Di masa damai tapi gersang seperti ini. Dimana ekonomi sudah berubah jadi panglima, politik sebagai alat dan agama menjadi kendaraan.



Sebuah data riset internasional terbaru, menunjukkan Indonesia adalah negara dengan skala kepercayaan tertinggi di dunia terhadap agama. Angkanya 93 dari maksimum 100. Fenomena ini sesungguhnya trend yang aneh bila melihat pembanding negara lain, yang memiliki kecenderungan yang sama: Tiongkok, Brazil pun Amerika Serikat mengalaminya. Walau tak setinggi Indonesia. Negara2 yang dapat dikategorikan (meminjam istilah bahasa Jawa) "negara sing isih nggrangsang". Negara yang nafsu dan libido untuk sekedar jadi kaya dan kuat, dengan cara kemaruk, serakah, dan saling mengalahkan itu masih sangat kuat.
Tapi cobalah tengok, negara2 Eropa dan Asia Timur yang jauh lebih mapan, yang memiliki keberimbangan antara demokrasi dan sosialisme. Seperti Jerman dan Perancis atau Jepang dan Korea Selatan. Tingkat fanatisme beragamanya sangat rendah.
Apa efek dari rendahnya nilai tersebut: toleransi yang tinggi, rasisme yang rendah, dan kesejahteraan yang lebih merata. Kondisi yang menghasilkan tingkat ketergantungan yang rendah dari warga terhadap pemerintahannya. Menjelaskan kenapa ketika tingkat beragamanya tinggi, justru warga gampang menimpakan segala kesalahan kepada pemerintah. Dan ini riil terjadi di Indonesia....
Di ruang dan waktu seperti inilah Puan hadir.
Ketika saya berencana menuliskan serial ini, dan saya menggoda teman2 saya dengan memposisikan diri sebagai kakak kelasnya. Seorang teman bertanya: Puan itu bodoh ya mas?
Untuk menjawabnya, tentu saya harus bertanya pada teman2 saya. Pada titik yang paling ekstrem, sahabat saya Sri Wahyuni. Seorang aktivist LSM Perempuan yang bergerak di kesetaraan gender. Ia memberikan kesaksian bahwa ia pun semula salah menilai Puan Maharani. Hingga dalam Forum Indonesian Women's Forum 2018, ia terperangah! Saat memberikan keynote speech., tanpa menggunkan teks. Puan bisa dengan fasih bercerita dan memaparkan tentang bagaimana perempuan bisa memberikan makna dan kesejahteraan. Bukan hanya untuk diri sendir dan keluarga, tapi juga untuk lingkungan. Ia tampak sangat paham era industri 4.0 dengan pemanfaatan gadget dan teknologi digital untuk memberi manfaat ekonomi.



Pidato yang konon sedemikian memukau itu, dilakukannya di hadapan 1000 tokoh wanita terpenting Indonesia. Menjadi sangat menyentuh, karena ia sebagaimana wanita Indonesia mileneal hari ini, ia tetap untuk memilih jalan ber-gotong royong. Gawan orok ideologis yang berasal dari kakeknya!
Ada peristiwa lain, yang saya pikir juga gagal ditangkap publik dengan baik.
Peristiwa ketika pada tahun 2020 lalu, ia bersedia menerima gelar Doktor Honoris Causa (Dr. HC) dari Universitas Diponegoro. Bagi sesama anak UI, tentu saya kecewa. Buat apa? Gelar Doktor itu sejak SBY memilikinya dengan cara absurd, sudah jatuh harga. Para pejabat lain, baik di lingkaran eksekutif, legislatif, maupun yudikatif berlomba2 memilikinya dengan cara sama anehnya. Aneh, karena tanpa pernah kedengaran kuliah tiba2 sudah diwisuda. Kasus terakhir, yang menyangkut anaknya Akidi Tio, menguatkan bagaimana mungkin seorang Kapolda tiba2 punya gelar Prof. Dr. MSc. Sampai titik ini saya tidak mengerti bagaimana kita sedemikian mudah terkena prank!
Dalam ruang kegilaan itulah, Puan berdamai. Dengan menerima gelar tersebut? Tidak membeli, tapi menerima. Untuk memperoleh gelar Doktor cukup meyakinkan 4-5 guru besar, tapi untuk dapat DR. HC harus beroleh izin mayoritas yang puluhan guru besar di sebuah perguruan tinggi. Walau kalau ditilik dari alasannya tentu jadi juga lucu? Ia dianggap sebagai figur yang memperoleh persentase suara tertinggi dalam Pileg di Indonesia. Ya wajar karena, ia ditempatkan di kandang banteng. Di kawasan Solo, Sukoharjo, dan Klaten.
Demikianlah ia harus selalu selalu mengadaptasi dirinya. Tidak selalu baik, tapi harus berada jalan yang lebih benar. ia harus mendayung dan berselancar, ikut arus gila, liar, dan curam. Tapi tidak ikut jadi gila beneran! Dalam istilah Jawa: ngeli ning ora melu ngeli....
Dan terakhir, dan barangkali ini yang terpenting!
Beberapa waktu yang lalu, saya kedatangan seorang fungsionaris PDI-P, yang saya nilai dia salah satu ideolog partai ini. Dia bercerita dan mengeluhkan bagaimana sulitnya menjaga loyalitas anggota partai di hari ini. Di lingkungan partai ini, setiap hari mereka dihadapkan pada pilihan "kreweng atau banteng". Istilah kreweng sendiri itu unik, lucu, sekaligus mengundang haru. Arti harafiah "Kreweng" adalah pecahan genteng, tapi dalam tradisi perkawinan Jawa. Ia adalah uang logam yang terbuat dari tanah liat, yang digunakan pada acara siraman yang kemudian dilanjutkan acara adol dawet. Nah, orang yang ingin minum dawet itu harus membeli dengan duit kreweng itu...
Hari ini berbicara politik adalah uang, bukan lagi ideologi. Tanpa uang, politik adalah omong kosong. Ukuran yang sangat menyedihkan, bikin prihatin dan mengelus dada. Mbuh dadane sapa!
Dalam konteks ini pulalah, kita harus memahami. Protes yang dilakukan orang warga PDI-P, saat Ganjar Pranowo dihukum tak diundang dalam Rapat Kerja Nasional PDI-P justru ketika moment itu justru dilakukan di Semarang. Ia dianggap jalan sendiri, dan tak memberi ruang yang jembar bagi para konstituennya. Sesuatu yang berulang juga di hari2 ini, ketika Puan melontarkan kritik pada bagaimana Jokowi menangani pandemi. Yang seharusnya justru dibaca, semakin dekatnya atau lebih percayanya Jokowi kepada Airlangga Hartarto sebagai Ketua Golkar. Dibanding pada para tokoh lain yang berasal dari fungsionaris PDI-P.
Puan berada di ruang dan waktu, dimana "punya rasa malu" itu harus ditunjukkan dengan "cara tidak punya rasa malu". Ia harus cepat memahami bahwa celaan, kecaman, dan hinaan adalah menu santapan yang justru paling rutin hadir di meja makan dirinya. Dimana hukum adalah arena jual-beli yang paling vulgar, tak memiliki etika dan tata-krama. Asal apa? Asal semua dibungkus dengan agama: ya pakaiannya, ya ayat-ayatnya, ya pengikutnya....
Sebuah ruang dan waktu apa yang disebut "era anti-marketing", dimana merusak sebuah brand adalah cara tercepat melakukan pencitraan. Dan itulah yang kita lihat hari ini!
(BERSAMBUNG)
.
.
.
NB: Saya mencatat salah satu teladan baik dari Megawati adalah bagaimana ia mendidik anak kesayangannya ini dalam berpolitik. Ia mengajari anaknya, meniti karir politik dari bawah sekali. Dari sekedar panitia dari acara2 informal. formal, dan kemudian acara munas atau kongres partai. Ia tak pernah diberi jabatan dengan cek kosong, apalagi ditempatkan sebagai sebagai "putri mahkota".
Di sini, kita seharusnya apple to apple. Bila ingin fair bandingkanlah Puan dengan anak2 SBY itu? Yang bukan saja merampok partai, tapi secara sepihak menjadikannya sebagai rumah pribadi keluarga mereka. Media, akan terus mencari sisi buruk dari Puan, mungkin sebagian akan berhasil. Tapi pertanyaannnya, kalau itu berhasil lalu mau apa? Buat apa.
Tanpa kita sadari, kita ini setiap hari melakukan "pembunuhan", terhadap karakter, reputasi atau prestasi. Sebagian benar, tapi sebagian besar sangat ngawur. Tanpa perasaan bersalah dan tanpa berbekal data yang benar. Dalam politik, mengenali dan menilai figur pribadi itu penting.
Tapi membandingkan misalnya Puan Maharani dengan Mulan Jamella itu? Come on, cerdaslah sedikit....