Selasa, 24 Maret 2026

Lebaran dan Khong Guan Biscuit

 May be an image of text

LEBARAN DALAM SEKALENG BISKUIT KHONG GUAN 
 
Banyak orang yang sudah lupa mengucapkan kalimat Singkat "Selamat Lebaran". Di hari ini, orang atau toko atau mall, lebih suka dengan istilah "Happy Eid Mubarak". Yang maknanya, Selamat merayakan hari raya yang diberkahi. Di sini, tampak agak kurang dianggap penting apa hari raya-nya, apakah Idul Fitri atau Idul Adha. Yang barangkali, malah cocok bagi kebutuhan hari ini, apa pun hari raya-nya tapi yang disuwunke, atau dimintakan adalah berkahnya...
 
Dulu orang Jawa menyebut perayaan ini dengan istilah yang sedemikian sederhana. Yang pertama, lebaran. Istilah ini bermakna "lebar", atau lebih singkat lagi "bar". Bubar! Bisa dimaknakan selesai, rampung, atau setelah. Untuk Iedul Fitri dianggap sebagai Lebaran Pasa, setelah menunaikan ibadah puasa. Sedangkan Lebaran Haji untuk menyebut Iedul Adha. Dalam konteks yang ini, istilahnya bisa mengular panjang Lebaran Kurban, yang bahkan Lebaran Mbeleh Wedus.
 
Saya selalu mengingat di masa kecil, saya para orang tua akan saling menyapa dengan kalimat: "Melu mbeleh pora?" Ikut menyembelih gak. Dan kebanyakan akan menjawab: "Aku wis bar dibeleh bojoku. Sesuk tahun ngarep muga2". Dibeleh di sini bisa bermakna baru saja menghabiskan dana untuk keperluan lain: apakah untuk bayar hutang, biaya renovasi rumah, beli kendaraan, atau ragad sekolah anak. Intinya, sang suami ingin menununjukkan "manut"-nya mereka pada sang istri dengan istilah "dibeleh", disembelih...
 
Dan apakah sang istri marah? Tentu tidak! Karena puncak tertinggi ikatan hubungan sebuah keluarga adalah ketika sang suami bersedia memenuhi kebutuhan sang istri, bukan keinginannya. 
 
Yang kedua, bakda atau jika distilah dengan tulisan Jawa yang benar disebut bada. Juga bermakna sama, juga berasala dari bahasa Arab, yang artinya setelah. Dalam ikatan kata Bada ini, selalu disandingkan apa pun yang mengiringinya Klambi Bada, maksudnya baju yang dibeli menjelang hari raya. Duit Bada, ini mungkin untuk menyebut uang ekstra, apakah itu THR atau sejenis angpao yang diberikan kepada anak2, atau sebaliknya anak yang sudah dewasa kepada orang tua.
 
Dalam beberapa komunitas Islam Jawa, lalu muncul tradisi Bada Kupat. Tradisi masyarakat Jawa yang dirayakan seminggu setelah Idul Fitri, tepatnya pada 8 Syawal, untuk menandai berakhirnya puasa sunnah Syawal. Tradisi ini diisi dengan memasak dan membagikan ketupat sebagai simbol ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan mempererat silaturahmi. Konon tradisi dikaitkan dakwah Islam di tanah Jawa yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai simbol permohonan maaf dan berbagi rezeki.
 
Realitas penting lain di Hari Raya (apa pun itu) adalah tersedia kaleng "Khong Guan" di meja tamu dan/atau di meja makan. Kita akan tahu bedanya. Di meja makan tersedia biskuit, apakah itu dalam kemasan yang masih baru atau terkadang sekedar refiil atau isi ulang. Biskuit Khong Guan adalah simbol lebaran sejak lama. Mengapa Khong Guan jadi sedemikian spesial? Ia seakan adalah simbol toleransi yang tak tergantikan. 
 
Pertama, keberagaman jenis isi biskuitnya, Khong guan terdapat 14 macam biskuit yang berbeda yaitu; Monte lemon, Monte chocolatte, Butter shortcake, Chocolatte puff, Choco wafer, Kopi susu wafer, Marie susu, Krim kacang, cream cracker, lemon puff, sugar biscuit, stick, milk sc, dan butter sc. Diantara berbagai macam jenis biskuit, terdapat 1 jenis wafer yang sering menjadi rebutan yaitu choco wafer, karena ia dikemas lagi dengan plastik yang membuatnya terlihat lebih spesial.
 
Kedua, kualitas kaleng Khong Guan yang tidak pernah berubah sejak ia dikenal. Bahan metalnya tetap sama, kualitas cetakannya sama dan tentu saja gambar yang tak pernah berubah. Ia tak tergoda mengubahnya, tetap pada ilustrasi karya Bernardus Prasodjo dari tahun 1970-an saat bekerja di perusahaan separasi warna. Tetap dengan tidak ada sosok ayah karena tujuan utamanya adalah memengaruhi ibu rumah tangga sebagai pengambil keputusan pembelian, sehingga sosok ibu yang lebih ditonjolkan.
 
Ketiga, makna tersirat dari merek Khong Guan yang berarti kaleng atau stoples kosong. Menjelaskan kenapa di masa lalu mungkin sampai hari ini. Ia memiliki manfaat panjang setelah isi aslinya habis dikonsumsi. Lucunya, makanan yang selalu diidentifikasi sebagai pengisi setelahnya adalah rengginan. sejenis kerupuk tebal yang terbuat dari beras ketan yang dibentuk bulat dan dikeringkan dengan cara dijemur di bawah panas matahari, lalu digoreng panas dalam minyak goreng.
 
Bagian yang publik tidak tahu, penganan ini telah lama dikenal dalam masyarakat Jawa. Ia telah terdokumentasi dalam Serat Centhini VI yang diterbitkan pada abad ke-18M. Berbeda dari jenis kerupuk lain yang umumnya terbuat dari adonan bahan yang dihaluskan seperti tepung tapioka atau tumbukan biji melinjo, rengginang tidak dihancurkan sehingga bentuk butiran ketannya masih tampak. Dalam beberapa kasus pilihan ia bisa ditambahkan rasa manis atau asin, bahkan dengan bahan baku ketan itam.
 
Apa salahnya Khong Guan isi rengginan? Tak ada tentu saja, karena itulah simbol akulturasi yang lebih tulus. Bahan geguyonan yang tak pernah basi. Simbol masyarakat yang tumbuh dalam kesederhanaan tapi penuh dengan harga diri dan rasa hormat. Ia tidak lalu jadi jaim, semugih, dan lalu kehilangan akar. Khong Guan adalah simbol kekosongan yang kemudian terisi kembali. Ia adalah pengiring puasa, yang lalu diakhiri dengan kejernihan, kesederhanaan, dan kesalehan. 
 
Mungkin demikian siklus hidup kita sebagai manusia. Bersalah, meminta maaf, bikin salah lagi, meminta maaf lagi. Karena yang memaafkan tidak pernah kehilangan apalagi kehabisan. Ia akan selalu penuh kembali. 
 
Saya mengucapkan selamat merayakan Lebaran, Lebar Pasa. Mohon dimaafkan segala salah dan khilaf. Untuk lalu saling berbuat salah lagi, hingga mudah2an masih berjumpa lagi di tahun depan.
Untuk kembali datang, menjenguk, bertegur sapa meminta maaf lagi. Simbol kita masih manusia, yang tak pernah (dan perlu) ada yang berubah. 
 
Salam, Berkah Dalem....

 Copas dari wall facebook Andi Setiono 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar