Rabu, 23 September 2026

Durga, I love you

 disalin dan ditempel dari Borobudur Writers

Relief Batari Durga di Candi Kedulan, Jawa Tengah. Durga digambarkan sebaga perempuan mulia yang memiliki kesaktian sepuluh dewa.
Relief Batari Durga di Candi Kedulan, Jawa Tengah

 

Batari Durga adalah sosok perempuan yang sangat dimuliakan. Namun ikon perempuan digdaya ini juga diwarnai dengan rekariwayat amat menyudutkan. Di Bali, selain dianggap perempuan hebat, Durga juga dianggap setan.

 

 

Durga! Dialah perempuan yang dalam banyak abad membius kepercayaan banyak orang kepada dua mitos sekaligus. Yang pertama mitos yang mutlak mulia, dan yang kedua mitos yang setengah durjana. Walaupun mitos kedua ini pada kemudian hari selalu diralat, lantaran dianggap sebagai rekayasa cerita yang menyimpan pretensi menegasi.

 

Mitos yang mutlak mulia ditunjukkan lewat presentasi Durga Mahisasuramardhini, yang wujudnya terpahat di Candi Prambanan, Candi Penataran, Candi Kedulan, Candi Sukuh dan sebagainya. Di situ Durga diceritakan sebagai perempuan sangat kuat, yang sengaja dicipta oleh para dewa untuk menaklukkan Mahisasura. Raksasa berwujud lembu yang ditengarai akan mengobrak-abrik kahyangan tempat para dewa nyaman bersemayam.

 

Lalu mitologi bertutur bahwa Durga dilahirkan dari lidah api, yang merupakan dari puncak kesaktian dewa Brahma, Wisnu, Syiwa dan tujuh dewa utama lainnya. Oleh karena itu Durga yang berwujud wanita cantik ini memiliki tangan sepuluh, dengan masing-masing membawa senjata andalan milik sepuluh dewa yang dititisnya. Maka senjata cakra milik Wisnu, trisula milik Syiwa, busur dan panah milik Wayu, pisau milik Agni, kilat cahaya milik Surya, digenggamnya. Di medan laga Durga diberi tunggangan harimau Himalaya yang gesitnya luar biasa.

 

Dan lantaran Durga itu perempuan, dalam berperang selalu mengenakan abharana, atau busana yang indah dengan perhiasan memikat mata. Gelang dan antingnya merupakan hadiah dari Dewi Ksiarnawa, kalung mutiara dari Dewi Sesha.

 

Dengan perangkat kesaktian itu Durga meluruk Mahisasura di Gunung Windya. Pertempuran terjadi, dan tentu saja Durga menang. Peristiwa ini kemudian disebut-sebut sebagai peperangan antara kubu putih (Durga) dan kubu hitam (Mahisasura). Namun meski Mahisasura mati, pada saatnya ia akan hidup lagi dalam bentuk lain, dan si cantik Durga kembali memerangi sampai si “neo mahisasura” tewas lagi. Itu sebabnya pertempuran Durga dan Mahisasura ini disebut “peperangan abadi”. Yang di Jawa disebut pupuh langgeng, dan dalam kosmologi Bali difilosofikan sebagai rwa bhineda. Konsep keseimbangan hidup yang sengaja diciptakan oleh Sang Hyang Widhi Washa, yang kemudian disimbolkan dalam poleng, motif kotak putih-hitam. Semacam yin-yang dalam konsep Cina kuno.

Mitologi dan mitos Durga itu dijunjung tinggi di Jawa dan Bali. Namun, apabila di Jawa sang Durga utuh tampil sebagai perempuan lengkap-martabat dengan latarbelakang yang luhur, di Bali Durga hadir dengan sejumlah nuansa. Bahkan dengan latarbelakang dramatik serta liku cerita amat sinematik. Lantaran masyarakat Bali (juga) mempercayai bahwa Durga adalah Dewi Uma.

Begini ceritanya.

 

Syahdan Uma sedang melakukan tapabrata di tengah samudera. Melihat begitu khusyuknya Uma bertapa, para dewa di kahyangan merasa resah. Mereka kawatir : apabila Uma memiliki kelebihan kekuatan, akan mengusik ketenteraman kahyangan. Karena itu, agar tidak menjelma jadi mahluk yang amat berkesaktian, Uma harus dikeluarkan dari pertapaan.

 

Sejumlah dewa pun diutus untuk membatalkan tapa Uma. Tapi selalu berujung kegagalan. Melihat kenyataan itu Batara Guru, yang juga disebut Batara Syiwa, mengambil peran. Dewa ini lalu turun ke samudera. Namun begitu bertemu dengan Uma yang aduhai cantik, Batara Guru terpesona. “Minta ampun, saya mendadak jatuh cinta,” kata hatinya.

 

Maka, alih-alih membatalkan tapa, Batara Guru malah merayu-rayu. Tapi perempuan ini bergeming. Batara Guru yang semakin mabuk kepayang lantas minta bantuan kepada Sang Hyang Wenang. Dikatakan bahwa Uma tidak bisa ditangkap hanya dengan dua tangan, sehingga ia memerlukan tangan tambahan. Lalu tangan Batara Guru yang semula hanya dua bertambah jadi empat. Dewi Uma pun berhasil ditangkap. Perempuan ini lantas diboyong ke kahyangan, dan dikawini.

Berbulan-bulan sudah Uma hidup di kahyangan. Sampai akhirnya Uma yang pintar dan sakti itu tahu maksud Batara Guru menghentikan pertapaannya. Karena itu Uma lantas mengambil sikap selalu berdingin hati. Bahkan tidak pernah mau melayani nafsu asmara si suami. Tapi Batara Guru tidak henti mencari cara.

Lalu pada suatu hari Uma diajak bertamasya nostalgia dengan mengendarai Lembu Nandi, melongok tengah samudera tempat dulu Uma bertapa. Ketika matahari menjelang tenggelam dan langit menghadiahkan warna jingga, rasa romantik Batara Guru mendidih. Uma pun diajak bercinta di atas Lembu Nandi. Uma tentulah menolak. Batara Guru tak bisa membendung hasratnya. Ia memeluk Uma erat-erat, sampai kama (air kehidupan, sperma) Batara Guru keluar. Kama itu melejit dan jatuh ke samudera. Melihat itu Uma risih dan malu.

 

Di kahyangan Batara Guru terus mengungkit peristiwa itu dengan hati jengkel. Dewi Uma yang semula sangat sabar akhirnya marah. “Bila menyakiti terlalu sering, mulut Kakanda akan bertaring!” Mulut Batara Guru pun mendadak bertaring. Mengetahui dirinya bertaring, Batara Guru terkejut, dan dengan spontan membalas. “Sifatmu jahat seperti raksasa. Kalau begitu, mengapa kau tidak jadi raksesi saja, hei Uma!” Maka dalam sekilatan cahaya, Dewi Uma sudah menjadi raksesi. Wajahnya yang jelita menjadi buruk. Tubuhnya yang lencir bagai kijang kencana jadi membesar bagai badak tak bercula.

 

Kahyangan heboh. Aneh memang, Batara Guru, salah satu ketua dari para dewa, yang setiap hari gagah memimpin rapat untuk mengatur kehidupan manusia, bertempur rumah tangga dengan tiada malunya.

 

Waktu terus berguling. Air kama Batara Guru yang jatuh ke samudera itu telah menjelma jadi bayi lelaki. Bayi itu kemudian jadi dewasa, dengan postur seperti raksasa. Karena tidak tahu dari mana asalnya, raksasa muda itu tidak punya nama. Ia lalu bertanya ke sana ke mari, sampai ditemukan jawaban bahwa dirinya adalah wujud dari kama Batara Guru. Raksasa ini lalu bertandang ke kahyangan untuk menemui orang tuanya. Tanpa sepengetahuan Uma, Batara Guru menerima kedatangannya dengan baik. Dan menamai anaknya: Batara Kala.

 

Batara Kala belum puas. Ia mengatakan bahwa ayahnya telah menyia-nyiakan dirinya begitu lama. Karena itu ia minta agar dirinya dicarikan jodoh. Batara Guru pun teringat Uma yang sudah menjadi raksesi. Lalu dijodohkanlah Batara Kala dengan Uma. Uma yang tidak tahu bahwa Batara Kala adalah “anak”nya, bersedia saja. Dua sejoli ini lantas hidup di Setra Gandamayu, sebentang kuburan yang letaknya di tengah samudera. Di sini nama Uma diganti jadi Batari Durga, yang artinya : perempuan yang tak bisa disentuh oleh siapa pun.

 

Dari kurun ke kurun Batara Kala dan Batari Durga hidup bersama. Sampai akhirnya tahu bahwa mereka sesungguhnya berstatus ibu dan anak. Atas hal ini Durga marah tak alang kepalang kepada Batara Guru. Ia berjanji kepada dirinya sendiri : akan mengganggu tatanan kehidupan yang dibentuk oleh Dewan Dewa yang diketuai mantan suaminya. Dalam aksinya itu Durga akan menjelma jadi apa saja, di antaranya sebagai Calonarang. Sementara Batara Kala juga akan melampiaskan dendam. Ia mengancam bahwa pada saat tertentu akan dikunyahnya matahari, agar gulita menyelimuti semesta.

 

Empati pelukis kepada Durga

 

Pada tahun 2009 Panitia Bali Bangkit menggelar pameran lukisan tradisional di Plaza Indonesia, Jakarta. Dalam jajaran lukisan itu yang hadir di kanvas adalah gambaran suasana sukacita, yang disebut sebagai “Bali sekala”, atau Bali yang tampak. Pemandangan jajaran lukisan dianggap (telah berhasil) mengurangi keberadaan lukisan “Bali niskala”, Bali tak tampak, atau Bali gaib. Yang biasanya terwujud dalam lukisan tenget, karena membawakan suasana yang hening, muram, cenderung gelap dengan sentuhan mistis dan magis.

 

Apa yang terlihat sebagai realitas itu ditegaskan kebenarannya oleh banyak pelukis yang ikut serta dalam pameran. Mereka bahkan mengatakan bahwa dirinya mungkin tidak terlalu terpikat untuk menggarap tema-tema niskala, yang didefinisikan sebagai lukisan alam roh. Tema yang diberangkatkan dari mitos dan mitologi seram, yang sebagian besar bermuara pada sisi gelap Durga.

 

“Dunia Durga milik generasi sebelum tahun 1940-an, yang sekali-sekali diulang dengan versi sekular oleh seniman Pita Maha, Golongan Pelukis Ubud dan seterusnya,” kata Ketut Sadia, pelukis generasi 1990-an mashab Batuan.

 

Para pelukis Bali yang hidup di pemikiran modern menyadari benar bahwa mitos Durga adalah presentasi dari ketidakadilan pikiran (dewa) lelaki. Durga adalah mahluk yang sengaja dicipta untuk menghadirkan sisi gelap manusia, dengan perempuan sebagai sarananya. Tujuan dari upaya absurd itu adalah untuk mengukuhkan maskulinitas yang berpokok pada konsep patriarki. “Durga adalah Dewi Uma yang diperdaya,” begitu budayawan Anak Agung Made Djelantik berkata.

 

Lukisan I Gusti Made Baret. Batara Guru atau Batara Syiwa.
Lukisan I Gusti Made Baret. Batara Guru atau Batara Syiwa. (Foto: Arsip Penulis).

 

 

Oleh karena itu, apabila ada pelukis Bali masa kini (bahkan masa 50 tahun terakhir) yang mencipta lukisan bertema ke-durga-an, itu bukan lantaran diberangkatkan dari kepercayaannya atas mitos kebuasan Durga. Namun karena sekadar ingin menampilkannya sebagai cerita. Sebagai dongeng yang terlanjur diwariskan sebagai khasanah tradisi, dan dikenalkan sebagai legenda. Karena itu yang terlukis adalah peristiwa-peristiwa permukaan, yang tak lain ditransformasi dari adegan-adegan pentas pertunjukan.

 

Suatu kali Ida Bagus Made Nadera dan I Ketut Kebut melukis Petani dan Dewi Uma, atau Kisah Sudamala, yang ditafsir dari relief Hindu Candi Tegowangi, Kediri, abad XVII. Di situ diceritakan bahwa Batara Guru mengaku sedang menderita sakit keras, sehingga harus dicarikan obat khusus yang adanya hanya di mercapada (bumi, tempat hidup manusia). Uma diminta untuk mencari obat itu.

 

Sesampai di mercapada Uma mendapat kabar bahwa susu itu hanya ada pada seekor sapi berwarna putih. Setelah mencari selama berbulan-bulan, akhirnya ditemukanlah sapi itu. Tapi petani pemilik sapi itu baru bersedia memberikan secawan susu sapinya, setelah Uma mau bersanggama dengannya. Uma bingung dan lantas mencari kabar kondisi terakhir suaminya. Dari kahyangan diberitakan bahwa Batara Guru sedang sekarat. Maka Uma, yang sangat menginginkan suaminya sembuh, terpaksa mau bersanggama dengan petani. Namun begitu menyatakan mau, sapi itu menjelma jadi Batara Guru. Ternyata Batara Guru hanya ingin tahu, sejauh mana kesetiaan Uma kepadanya. Uma pun sepenuhnya dikutuk. Batara Guru yang menjebak tak tersangsi apa-apa.

 

Nadera dan Kebut mengatakan bahwa ia tidak ingin melukiskan makna dari mitologi yang berisikan siasat Batara Guru itu. Ia hanya ingin menggambarkan rame-ramenya adegan sandiwara yang diambil dari panggung. Karena kisah Sudamala menjanjikan nilai piktorial yang untuk lukisan. Mereka seperti mengabaikan pendapat Zoetmulder yang memaknai cerita tersebut secara filosofis : proses penyucian diri perempuan.

 

Anak Agung Gde Sobrat beberapa kali mencipta lukisan yang menggambarkan wafatnya Raja Airlangga. Di kanvasnya tergambar tubuh Airlangga yang kaku sedang dikerumumi setan, dengan disaksikan rangda. Sosok rangda adalah bentuk jahat dari Durga. Ia juga melukis leak sedang menari bersama-sama setan-setan kecil. Figur leak itu disadari merupakan transformasi dari Durga. Pada bagian lain pelukis Ida Bagus Made Poleng menggambarkan leak yang berkuda sedang berperang melawan dua burung besar.

 

Namun Sobrat dan Gus Made tak hendak melukis moralitas kisah Durga yang ganjil. Mereka hanya menjumput atraksinya, sebagai bagian dari anasir artistik karyanya. Gus Made mengatakan, apabila ada seniman yang menggubah Calonarang, sesungguhnya yang dilukis adalah ceritanya. Yang dilukis adalah unsur-unsur kegambarannya atau visualnya. Bukan makna cerita yang menyebut Calonarang itu penjelmaan perempuan keji bernama Durga.

 

Melupakan Durga sebagai setan

 

Dewi Uma atau Batari Durga diam-diam terposisi sebagai perempuan yang luhur. Seperti halnya di India yang meletakkan Uma sebagai perempuan yang ramah, baik hati, berpengetahuan luas dan sakti. Yang hanya akan menggunakan 8 (delapan) tangannya kala ia marah kepada para (lelaki) jahanam. Sehingga ia dijuluki sebagai Dewi Laksmi atau Dewi Parwati.

 

Kelemahan logika yang mencipta keburukan perempuan lewat sosok Durga sesungguhnya telah disadarkan oleh Rudolf Bonnet dan Walter Spies pada 1940-an lewat perkumpulan seni lukis Pita Maha. Sikap penyadaran Bonnet dan Spies itu tumbuh ketika mereka membaca hasil penelitian antropolog Margaret Mead dan Gregory Bateson pada 1930-an. Sebuah penelitian yang diawali dengan permintaan agar seniman tradisional Bali menggambarkan segala sesuatu yang tidak kelihatan di benderang siang, namun bersliweran di tenget malam. Hasilnya adalah lukisan tentang leak, memedi, gamang dan tonya, segenap setan yang membawa celaka dan penyakit. Semua mahluk menakutkan itu oleh para pelukis dipercaya dikomandani oleh Durga.

 

Bonnet berpikir, jika mitologi Durga ini terus dihidupkan sebagai kebenaran, perempuan akan terus dipersepsikan sebagai setan, sebagai mahluk destruktif. Dan memang sudah terbukti, dalam banyak lukisan tradisional Bali zaman dahulu, setan itu terlanjur digambarkan berwujud perempuan.

 

Maka lewat Pita Maha para pelukis dianjurkan untuk tidak terpaku di kisah itu. Para pelukis diajak untuk melukis hal-hal yang cenderung sekular. Panen padi, keindahan perangkat upacara di pura, keartistikan angkul-angkul, pertunjukan tari pendet dan sebagainya. Upaya penghindaran itu diteruskan oleh para pelukis Bali tradisional sekarang, yang disebut mashab Pita Prada.

Dengan begitu tersimpul bahwa Durga adalah batari yang sangat dihormati. Itu sebabnya di setiap Pura Dalem di Bali, selalu ada altar Durga. Kepadanya siapa pun boleh memohon apa yang diinginkan. Maka, Uma, aku cinta padamu. Durga, I love you!

 

*Agus Dermawan T. adalah penyusun buku “Bali Bravo – Leksikon Pelukis Tradisional Bali 200 Tahun”.

 

 

Jumat, 04 September 2026

Ambivert vs Otrovert

 


 "Beda Ambivert Vs Otrovert, Kepribadian Baru yang Ditemukan Ilmuwan"

 

Selama bertahun-tahun, dunia hanya mengenal dua tipe kepribadian utama, introvert dan ekstrovert. Introvert dikenal mengisi energi dengan menyendiri, sementara ekstrovert justru bersemangat saat berada di tengah interaksi sosial.

 

Namun, bagaimana dengan mereka yang merasa tidak sepenuhnya cocok dengan salah satu kelompok? Psikiater Rami Kaminski memperkenalkan istilah baru untuk menggambarkan area abu-abu tersebut, yakni otrovert.

 

Seorang otrovert tidak merasakan keterikatan mendalam pada kelompok besar, seperti halnya introvert atau ekstrovert. Mereka lebih memilih membangun ikatan personal yang autentik dibanding larut dalam dinamika kelompok.

 

Otrovert bisa saja hadir dalam acara sosial, tetapi biasanya hanya nyaman berinteraksi dengan segelintir orang. Menurut Kaminski, orang dengan tipe ini cenderung mandiri, kreatif, dan stabil secara emosional, sehingga lebih tangguh menghadapi tantangan.

 

Berbeda dengan ekstrovert yang mendapatkan energi dari keramaian atau introvert yang merasa tenang dalam kesendirian, otrovert relatif tidak terpengaruh oleh situasi sosial. Mereka mungkin senang berada di sekitar orang lain, tetapi lebih sering memilih menjadi pengamat. Hal yang menonjol adalah kemampuannya menciptakan hubungan yang tulus dan mendalam, tanpa perlu validasi dari banyak orang.

 

Otrovert juga Bukan Ambivert

 

Sekilas, istilah otrovert terdengar mirip dengan ambivert, tetapi keduanya berbeda.

 

Ambivert adalah orang yang bisa bergeser antara introvert dan ekstrovert, tergantung suasana hati atau situasi. Misalnya, mereka bisa menikmati pesta besar di satu waktu, lalu memilih menyendiri di waktu lain. Fleksibilitas adalah ciri utama ambivert.

 

Otrovert, sebaliknya, cenderung konsisten merasa tidak sepenuhnya cocok dengan kelompok. Mereka lebih nyaman menjaga jarak, membangun hubungan personal yang autentik, dan tidak merasa perlu menyesuaikan diri hanya demi diterima di lingkaran sosial yang lebih besar.

 

Perbedaan kuncinya, ambivert menyesuaikan diri sesuai kondisi, sementara otrovert justru menjaga keaslian dan independensi, meski itu berarti berada di luar kelompok.

 

Dalam bukunya yang akan terbit, The Gift of Not Belonging: How Outsiders Thrive in a World of Joiners, Kaminski menyebut beberapa tokoh sejarah yang diyakini mencerminkan sifat otrovert. Di antaranya Frida Kahlo, Franz Kafka, Albert Einstein, hingga Virginia Woolf. Mereka tidak larut dalam kelompok, tetapi justru bersinar lewat individualitas dan kreativitas.

 

Di era modern, aktris Kanada Lisa Ray juga mengaku sebagai otrovert, menegaskan bahwa konsep ini relevan lintas generasi.

 

Kaminski menyebut ada sejumlah tanda yang bisa menggambarkan seorang otrovert, berikut ciri-cirinya:

 

1. Lebih suka interaksi kecil dan mendalam

 

Otrovert nyaman berinteraksi dalam lingkaran kecil. Mereka bisa antusias dalam proyek berpasangan, tetapi cepat menjauh dari percakapan grup yang terlalu ramai.

 

2. Tidak mudah larut dalam suasana keramaian

 

Saat berada di pesta, otrovert bisa hadir dengan menyenangkan, tetapi tidak otomatis ikut terseret dalam emosi kolektif.

 

3. Mengutamakan orisinalitas daripada perhatian

 

Otrovert lebih tertarik pada ide-ide kreatif dibanding tepuk tangan atau validasi kelompok.

 

Tampil percaya diri di depan umum, tapi tetap merasa 'berbeda'. Mereka bisa menjadi pemimpin atau tampil karismatik, tetapi tetap merasa tidak benar-benar menjadi bagian dari kelompok.

 

4. Identitas yang cair dan fleksibel

 

Otrovert bisa bergabung dengan komunitas untuk tujuan tertentu, lalu keluar ketika merasa identitas kelompok terlalu kaku.

 

5. Mengutamakan percakapan berbobot

 

Otrovert lebih memilih diskusi mendalam daripada basa-basi. Hubungan mereka nyata, meski tidak membutuhkan kontak rutin.

 

6. Merasa paling otentik saat berbeda

 

Kreativitas otrovert sering muncul ketika mereka berada di dekat kelompok, tetapi tidak larut di dalamnya.

 

N.B.:

disalin tempel dari sini 


Senin, 30 Maret 2026

Trump wanting Greenland

 


EVERYONE LAUGHED WHEN PRESIDENT TRUMP SAID HE WANTED GREENLAND. NOBODY IS LAUGHING NOW. HERE'S THE REAL REASON.

It was never about the ice.

It was never about the 60,000 people who live there.

It was never even really about the rare earth minerals.

It was about something most people have never heard of.

It's called the GIUK Gap.

Greenland. Iceland. United Kingdom.

A naval chokepoint that sits between the Arctic Ocean and the North Atlantic — the passage through which any ship, any submarine, any military vessel traveling from the Arctic to the rest of the world must pass.

Whoever controls Greenland controls that gap.

And whoever controls that gap controls the future of global shipping.

Here's why that matters right now.

The Arctic is melting.

Fast.

Arctic sea ice is declining 13% every decade.

The Arctic shipping route which runs from Asia to Europe through the Arctic Ocean is 40% shorter than the Suez Canal route.

30% faster in transit time.

By 2030, that route is projected to increase trade volumes between Asia and Europe by 5% to 10%.

Researchers estimate that by 2030, up to 4.7% of all world trade roughly two thirds of the current Suez Canal traffic, could be rerouted through the Arctic.

Think about what that means.

The Suez Canal, the busiest shipping lane on earth...carved in the 1860s, could lose two thirds of its traffic to a route that barely existed a decade ago.

And Greenland sits directly at the entrance to that route.

China already declared itself a "near-Arctic state" in 2018.

Russia controls over half of the Arctic Ocean coastline and has been building military and commercial Arctic infrastructure for years.

Russia's cargo traffic on the Northern Sea Route grew almost fivefold between 2014 and 2020.

They are targeting 193 million tons of Arctic cargo by 2030.

Trump watched all of this.

And decided America needed to own the chokepoint — not just access it.

Is he right?

Harvard's Belfer Center called Greenland "the geostrategic linchpin connecting the Arctic, North America, and Europe."

War on the Rocks, a foreign policy journal wrote: 

"Trump's emphasis on ownership may be misplaced. But his assessment that Greenland is a strategically critical territory is correct."

My rich dad taught me something about assets that I never forgot.

He said: "The best time to buy an asset is before the world realizes what it's worth."

In 1867, the US bought Alaska for $7.2 million.

Every analyst at the time called it "Seward's Folly."

Today, Alaska produces 500,000 barrels of oil per day and controls the Pacific's strategic northern flank.

Trump isn't crazy.

He's just early.

The question my rich dad would be asking right now is not:

"Can the US take Greenland?"

It's:

"Who else is already positioning there — and what does it cost you if they get there first?"

Copied from Robert Kiyosaki's facebook account

Selasa, 24 Maret 2026

Lebaran dan Khong Guan Biscuit

May be an image of text 

LEBARAN DALAM SEKALENG BISKUIT KHONG GUAN 
 
Banyak orang yang sudah lupa mengucapkan kalimat Singkat "Selamat Lebaran". Di hari ini, orang atau toko atau mall, lebih suka dengan istilah "Happy Eid Mubarak". Yang maknanya, Selamat merayakan hari raya yang diberkahi. Di sini, tampak agak kurang dianggap penting apa hari raya-nya, apakah Idul Fitri atau Idul Adha. Yang barangkali, malah cocok bagi kebutuhan hari ini, apa pun hari raya-nya tapi yang disuwunke, atau dimintakan adalah berkahnya...
 
Dulu orang Jawa menyebut perayaan ini dengan istilah yang sedemikian sederhana. Yang pertama, lebaran. Istilah ini bermakna "lebar", atau lebih singkat lagi "bar". Bubar! Bisa dimaknakan selesai, rampung, atau setelah. Untuk Iedul Fitri dianggap sebagai Lebaran Pasa, setelah menunaikan ibadah puasa. Sedangkan Lebaran Haji untuk menyebut Iedul Adha. Dalam konteks yang ini, istilahnya bisa mengular panjang Lebaran Kurban, yang bahkan Lebaran Mbeleh Wedus.
 
Saya selalu mengingat di masa kecil, saya para orang tua akan saling menyapa dengan kalimat: "Melu mbeleh pora?" Ikut menyembelih gak. Dan kebanyakan akan menjawab: "Aku wis bar dibeleh bojoku. Sesuk tahun ngarep muga2". Dibeleh di sini bisa bermakna baru saja menghabiskan dana untuk keperluan lain: apakah untuk bayar hutang, biaya renovasi rumah, beli kendaraan, atau ragad sekolah anak. Intinya, sang suami ingin menununjukkan "manut"-nya mereka pada sang istri dengan istilah "dibeleh", disembelih...
 
Dan apakah sang istri marah? Tentu tidak! Karena puncak tertinggi ikatan hubungan sebuah keluarga adalah ketika sang suami bersedia memenuhi kebutuhan sang istri, bukan keinginannya. 
 
Yang kedua, bakda atau jika distilah dengan tulisan Jawa yang benar disebut bada. Juga bermakna sama, juga berasala dari bahasa Arab, yang artinya setelah. Dalam ikatan kata Bada ini, selalu disandingkan apa pun yang mengiringinya Klambi Bada, maksudnya baju yang dibeli menjelang hari raya. Duit Bada, ini mungkin untuk menyebut uang ekstra, apakah itu THR atau sejenis angpao yang diberikan kepada anak2, atau sebaliknya anak yang sudah dewasa kepada orang tua.
 
Dalam beberapa komunitas Islam Jawa, lalu muncul tradisi Bada Kupat. Tradisi masyarakat Jawa yang dirayakan seminggu setelah Idul Fitri, tepatnya pada 8 Syawal, untuk menandai berakhirnya puasa sunnah Syawal. Tradisi ini diisi dengan memasak dan membagikan ketupat sebagai simbol ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan mempererat silaturahmi. Konon tradisi dikaitkan dakwah Islam di tanah Jawa yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai simbol permohonan maaf dan berbagi rezeki.
 
Realitas penting lain di Hari Raya (apa pun itu) adalah tersedia kaleng "Khong Guan" di meja tamu dan/atau di meja makan. Kita akan tahu bedanya. Di meja makan tersedia biskuit, apakah itu dalam kemasan yang masih baru atau terkadang sekedar refiil atau isi ulang. Biskuit Khong Guan adalah simbol lebaran sejak lama. Mengapa Khong Guan jadi sedemikian spesial? Ia seakan adalah simbol toleransi yang tak tergantikan. 
 
Pertama, keberagaman jenis isi biskuitnya, Khong guan terdapat 14 macam biskuit yang berbeda yaitu; Monte lemon, Monte chocolatte, Butter shortcake, Chocolatte puff, Choco wafer, Kopi susu wafer, Marie susu, Krim kacang, cream cracker, lemon puff, sugar biscuit, stick, milk sc, dan butter sc. Diantara berbagai macam jenis biskuit, terdapat 1 jenis wafer yang sering menjadi rebutan yaitu choco wafer, karena ia dikemas lagi dengan plastik yang membuatnya terlihat lebih spesial.
 
Kedua, kualitas kaleng Khong Guan yang tidak pernah berubah sejak ia dikenal. Bahan metalnya tetap sama, kualitas cetakannya sama dan tentu saja gambar yang tak pernah berubah. Ia tak tergoda mengubahnya, tetap pada ilustrasi karya Bernardus Prasodjo dari tahun 1970-an saat bekerja di perusahaan separasi warna. Tetap dengan tidak ada sosok ayah karena tujuan utamanya adalah memengaruhi ibu rumah tangga sebagai pengambil keputusan pembelian, sehingga sosok ibu yang lebih ditonjolkan.
 
Ketiga, makna tersirat dari merek Khong Guan yang berarti kaleng atau stoples kosong. Menjelaskan kenapa di masa lalu mungkin sampai hari ini. Ia memiliki manfaat panjang setelah isi aslinya habis dikonsumsi. Lucunya, makanan yang selalu diidentifikasi sebagai pengisi setelahnya adalah rengginan. sejenis kerupuk tebal yang terbuat dari beras ketan yang dibentuk bulat dan dikeringkan dengan cara dijemur di bawah panas matahari, lalu digoreng panas dalam minyak goreng.
 
Bagian yang publik tidak tahu, penganan ini telah lama dikenal dalam masyarakat Jawa. Ia telah terdokumentasi dalam Serat Centhini VI yang diterbitkan pada abad ke-18M. Berbeda dari jenis kerupuk lain yang umumnya terbuat dari adonan bahan yang dihaluskan seperti tepung tapioka atau tumbukan biji melinjo, rengginang tidak dihancurkan sehingga bentuk butiran ketannya masih tampak. Dalam beberapa kasus pilihan ia bisa ditambahkan rasa manis atau asin, bahkan dengan bahan baku ketan itam.
 
Apa salahnya Khong Guan isi rengginan? Tak ada tentu saja, karena itulah simbol akulturasi yang lebih tulus. Bahan geguyonan yang tak pernah basi. Simbol masyarakat yang tumbuh dalam kesederhanaan tapi penuh dengan harga diri dan rasa hormat. Ia tidak lalu jadi jaim, semugih, dan lalu kehilangan akar. Khong Guan adalah simbol kekosongan yang kemudian terisi kembali. Ia adalah pengiring puasa, yang lalu diakhiri dengan kejernihan, kesederhanaan, dan kesalehan. 
 
Mungkin demikian siklus hidup kita sebagai manusia. Bersalah, meminta maaf, bikin salah lagi, meminta maaf lagi. Karena yang memaafkan tidak pernah kehilangan apalagi kehabisan. Ia akan selalu penuh kembali. 
 
Saya mengucapkan selamat merayakan Lebaran, Lebar Pasa. Mohon dimaafkan segala salah dan khilaf. Untuk lalu saling berbuat salah lagi, hingga mudah2an masih berjumpa lagi di tahun depan.
Untuk kembali datang, menjenguk, bertegur sapa meminta maaf lagi. Simbol kita masih manusia, yang tak pernah (dan perlu) ada yang berubah. 
 
Salam, Berkah Dalem....

 Copas dari wall facebook Andi Setiono 

Rabu, 18 Maret 2026

Amelia Earheart

 


"Well, I guess that's the last we'll hear from her"—the tower controller laughed as she took off.

March 19, 1964. Ohio.

Those dismissive words crackled over the radio as a tiny single-engine plane lifted into the sky.

The tower controller didn't bother hiding his doubt. After all, what was a 38-year-old housewife with three kids doing attempting something that had killed the legendary Amelia Earhart?

Her name was Jerrie Mock.

And the world was about to learn they'd underestimated her spectacularly.

The Woman History Forgot

While millions know Amelia Earhart's tragic story—the brilliant aviator who disappeared over the Pacific in 1937 attempting to fly around the world—almost no one knows the name of the woman who actually succeeded.

The first female pilot to fly solo around the entire world.

Born November 19, 1925, Jerrie Mock completed her 23,206-mile journey on April 17, 1964, accomplishing what Earhart had died attempting 27 years earlier.

She did it in a single-engine Cessna. Alone. For 29 days straight.

The press called her "the flying housewife."

History barely remembers her name.

The Girl Who Didn't Fit

But Jerrie never fit the mold.

"I did not conform to what girls did," she said years later. "What the girls did was boring."

At age seven, after one short airplane ride, she announced her future with absolute certainty: "I want to be a pilot."

While other girls played with dolls and practiced being proper, she listened to radio reports of Amelia Earhart's adventures and dreamed of soaring over oceans, jungles, and deserts.

She was the only woman in her aeronautical engineering class at Ohio State University.

The male students avoided her at first—women didn't belong in engineering. Then she scored perfectly on a brutal chemistry exam while they struggled. Suddenly, they wanted her in their study groups.

But it was 1945. Women didn't become aerospace engineers. That wasn't how the world worked.

At 20, she left college to marry Russell Mock. Soon she found herself knee-deep in diapers, dishes, and the quiet desperation of domesticity.

Three children. Endless household routines. The same rooms. The same tasks. The same sky visible through the same kitchen window while she washed the same dishes.

The dreams faded. But they never disappeared.

The Secret

Once her older kids started school, Jerrie began taking flying lessons in secret.

She saved grocery money for each precious hour in the air. A dollar here, a few dollars there, hidden away until she had enough for another lesson.

When she finally earned her pilot's license, something inside her reignited.

One evening, exhausted by another mundane day of cooking and cleaning and trying to remember who she'd been before she became someone's wife and someone's mother, she complained to her husband:

"I'm so bored I could scream."

Russell laughed and said, "Maybe you should just get in your plane and fly around the world."

He was joking.

She wasn't.

The Journey

For a year, she prepared obsessively while experienced pilots—all men—told her she was insane.

A woman. Alone. In a tiny plane. Across oceans and deserts and territories where women weren't allowed to drive cars, let alone pilot aircraft.

Impossible, they said. Suicidal.

Then, two days before her scheduled departure, another woman—Joan Merriam Smith—took off on her own round-the-world attempt.

Suddenly, Jerrie's adventure became a pressure-filled race. What should have been joyful turned into a grueling marathon.

Twenty-nine days. Twelve-hour flying days on five hours of sleep. Navigating by maps and stars. Utterly, completely alone.

The journey tested her beyond imagination.

She accidentally landed at a secret Egyptian military base and found herself surrounded by armed soldiers demanding to know who had sent her to spy.

An antenna wire caught fire over the Libyan desert—flames creeping toward her fuel tank at 10,000 feet with nowhere to land but sand.

In Saudi Arabia, an angry crowd refused to believe a woman had flown the plane solo. They searched the cockpit, certain a man must be hiding somewhere. Someone finally climbed up to peer inside and confirm: no man. Just her.

Still, they didn't believe it.

But she kept flying.

The Return

Twenty-nine days after that controller dismissed her over the radio, Jerrie Mock touched down in Columbus, Ohio.

She had circled the entire planet. 23,206 miles. Solo.

The first woman in history to do it.

Five thousand people flooded the runway. Cheering until their voices gave out. The governor rushed through the crowd to shake her hand. Reporters fought for interviews.

Standing before the roaring crowd, tears streaming down her face, she could barely speak:

"I don't know what to say. This is just wonderful."

For a moment, the world saw her. Really saw her.

The Forgetting

But fame didn't suit her.

"The kind of person who can sit in an airplane alone for 29 days is not the type of person who likes to be continually with other people," she explained.

She gave a few speeches. Wrote a book that few people read. Then quietly returned to her life—the dishes, the children, the ordinary days.

By 1969, financial struggles meant she could never afford to fly again.

The cockpit that had given her freedom—that had carried her around the entire world, that had proven every doubter wrong—became just a memory.

When asked about her historic achievement in later interviews, she downplayed it with characteristic humility:

"I just wanted to have a little fun in my airplane."

The Legacy That Wasn't

Jerrie Mock passed away on September 30, 2014, at age 88.

No major news outlets covered her death. No front-page tributes. No widespread remembrance.

The woman who proved every doubter wrong.

Who flew 23,206 miles solo when the world said she couldn't.

Who accomplished what her hero Amelia Earhart had died attempting.

Who did something only one woman in history had ever done.

She slipped away as quietly as she'd lived.

What We Remember

We remember Amelia Earhart. We write books about her. Make movies. Build museums. She's a household name—a symbol of female aviation, of courage, of breaking barriers.

And she deserves that recognition. She was brilliant, brave, pioneering.

But she didn't complete the journey.

Jerrie Mock did.

And we forgot.

We forgot the housewife who saved grocery money for flying lessons.

We forgot the woman who flew alone for 29 days straight.

We forgot the pilot who landed at a military base, caught fire over a desert, faced down armed crowds—and kept flying.

We forgot the first woman to actually do what Amelia Earhart died trying to do.

The Controller Was Wrong

On that April day in 1964, when Jerrie's wheels touched Ohio soil after circling the entire planet, one thing was crystal clear:

That tower controller who laughed and said "I guess that's the last we'll hear from her" had been spectacularly, gloriously wrong.

We heard from her, all right.

We heard her plane's engine roaring across five continents.

We heard the crowd of 5,000 cheering when she landed.

We heard her quiet voice saying, "I just wanted to have a little fun."

We heard her.

We just forgot to listen.

Jerrie Mock: 1925-2014

The first woman to fly solo around the world.

The housewife who accomplished what Amelia Earhart died attempting.

The pilot who proved the doubters spectacularly wrong.

The woman whose name should be as famous as Earhart's—but isn't.

Maybe it's not too late to remember.

To say her name.

To tell her story.

To make sure that tower controller's dismissive laugh doesn't get the last word.

She flew 23,206 miles to prove him wrong.

The least we can do is remember her name.


#JerrieMock #FirstWoman

Senin, 16 Maret 2026

Elizabeth Barret Browning

 


Her father forbade any of his 12 children to marry. She married in secret, went home, ate dinner like nothing happened, then disappeared forever.


London, 1840s.


Elizabeth Barrett was 39 years old and dying, or so everyone believed.


For years, she'd been trapped in her room at 50 Wimpole Street, an invalid confined to a sofa, surviving on morphine and laudanum. Her spine had been damaged in a horse accident at 15. Or maybe it was her lungs. Or her nerves. The doctors couldn't agree. But they all agreed she wouldn't last much longer.


The Tyrant


Her father, Edward Barrett Moulton-Barrett, controlled everything. A tyrant whose wealth came from Jamaican sugar plantations built on slavery, he ruled his twelve children with absolute authority.


His most rigid rule: none of them were permitted to marry. Ever.


He never explained why. He simply declared it, and that was enough.


The Poet


So Elizabeth wrote poetry instead. Extraordinary poetry that made her one of the most celebrated poets in England, more famous, at the time, than Tennyson.


But she wrote it from a prison of silk and morphine, watched over by a father who loved her brilliance but refused to let her live.


Then a letter arrived.


The Correspondence


"I love your verses with all my heart, dear Miss Barrett," wrote Robert Browning, a younger poet whose work she admired.


She wrote back.


That single exchange became 574 letters over 20 months. Robert wrote to her constantly, passionate, philosophical, playful letters that treated her not as an invalid but as an equal. As a woman whose mind was as alive as her body was supposedly dying.


He asked to visit. She refused. She was too ill, too reclusive, too ashamed of her weakness.


He persisted.


The Meeting


When they finally met in May 1845, something shifted.


Robert didn't see a dying woman in a darkened room. He saw Elizabeth, brilliant, fierce, trapped. He saw someone who needed to be freed.


He proposed. She said it was impossible. Her father would never allow it. And even if they could escape his control, she was too sick to be anyone's wife. She'd be a burden. A responsibility. A tragedy waiting to happen.


Robert's response: "You're the strongest person I know."


The Secret


They began planning in secret.


On September 12, 1846, Elizabeth Barrett walked to St. Marylebone Parish Church with her maid. Robert Browning met her there.


They married in an empty church with only two witnesses.


Then Elizabeth went home.


She walked back into 50 Wimpole Street, ate dinner with her family, went to her room, and acted like nothing had happened.


For a week, she maintained the fiction, the dutiful invalid daughter, too weak to leave her sofa.


Then, one night, she simply left.


The Escape


She took her loyal spaniel Flush, a few belongings, and Robert Browning's hand. They crossed the English Channel and disappeared into Europe.


Her father disowned her instantly. He returned all her letters unopened. He never spoke her name again.


When she tried to reconcile years later, he refused.


But Elizabeth? She discovered she wasn't dying after all.


The Transformation


In Florence, something miraculous happened. The sun. The warmth. The freedom from her father's house. And Robert, who treated her not as fragile porcelain but as the warrior she'd always been.


Her health improved, dramatically.


The woman who'd been bedridden for years began walking, traveling, living.


In 1849, at age 43, an age when doctors had long since written her off, she gave birth to their son, Robert Wiedeman Barrett Browning, called Pen.


And she wrote. God, did she write.


The Poetry


"Sonnets from the Portuguese" became some of the most famous love poems in the English language. Not because they were sweet, but because they were true.


"How do I love thee? Let me count the ways.

I love thee to the depth and breadth and height

My soul can reach..."


These weren't poems about being rescued. They were poems about discovering she'd never needed rescuing, just freedom.


The Revolutionary


Elizabeth didn't just write love poetry. In Italy, she became politically active, passionately supporting Italian unification.


She wrote Casa Guidi Windows about Italian revolution.

She wrote The Runaway Slave at Pilgrim's Point, a searing anti-slavery poem despite her family's wealth coming from plantations.


She was considered for Poet Laureate, nearly unheard of for a woman.


Robert never overshadowed her. He celebrated her work, championed her voice, stood beside her as an equal partner in art and life.


Fifteen Years


They had 15 years together. Fifteen years she was never supposed to have.


On June 29, 1861, Elizabeth Barrett Browning died in Robert's arms in Florence.


She was 55. She'd outlived every doctor's prediction by decades.


Her father had died three years earlier, still refusing to forgive her. But Elizabeth had stopped waiting for his forgiveness long before that.


What She Proved


Elizabeth Barrett Browning proved:


That sometimes the illness isn't in your body, it's in the cage you're kept in.

That the most radical act can be simply choosing to leave.

That love isn't about being saved, it's about being seen as you actually are, and choosing to live accordingly.


The Truth


She walked out of her father's house at 40 years old, supposedly too sick to survive without his protection.


She lived another 15 years, traveling, writing, raising a child, changing literature, supporting revolutions.


The most dangerous thing her father ever told her was that she was too weak to survive without him.


The bravest thing she ever did was prove him wrong.


Elizabeth Barrett Browning

March 6, 1806 – June 29, 1861

Poet. Revolutionary. Survivor.

She didn't need to be saved. She just needed to be free.

Minggu, 08 Maret 2026

Alone - Edgar Allan Poe

 


Edgar Allan Poe’s poem “Alone” reads like a quiet confession from someone who has always felt different from the rest of the world. From the very first line, Poe makes it clear that his experience of life has never been ordinary. While others seemed to share common joys, sources of happiness, and ways of seeing the world, he felt separated from them, as if his emotions and perceptions came from a completely different place. This sense of isolation is not something that appeared later in life; it has been with him since childhood. Poe suggests that even as a child he could not experience the world in the same simple way that others did, and this early difference shaped his entire identity.

The poem reveals that this loneliness is not just about being physically alone but about a deeper emotional and psychological distance. Poe speaks of loving “alone,” which suggests that even his strongest feelings were experienced in solitude. This line carries a quiet sadness, as if he recognizes that his heart has always been set apart from the hearts of others. It reflects the kind of loneliness that many sensitive or imaginative people feel when they cannot easily share their inner world with those around them.

As the poem moves forward, Poe begins to describe how the mysterious forces that shaped him came from both beauty and darkness in nature. He lists powerful natural images—storms, lightning, mountains, torrents, and the golden light of the sun. These images suggest that his personality was formed by intense experiences and deep emotions rather than by ordinary social influences. Nature becomes almost like a teacher or a mysterious power that molded his mind and spirit. The contrast between beauty and danger in these images reflects the dual nature of Poe’s imagination: it is drawn equally to wonder and to darkness.

The final lines of the poem introduce one of the most striking images. Poe describes a cloud in the sky that seemed to take the form of a demon in his view. While the rest of heaven remained clear and blue, he alone saw something frightening and mysterious. This moment perfectly captures the theme of the poem: the idea that the poet perceives things that others do not see. It suggests that his imagination transforms ordinary scenes into something strange and haunting. What appears peaceful to others may reveal hidden darkness to him.

In many ways, “Alone” feels like Poe explaining the origins of his own poetic voice. His sense of isolation, his fascination with beauty and terror, and his deep emotional sensitivity all appear in this short poem. These same qualities later shaped the haunting stories and poems for which he became famous. Rather than simply describing loneliness, Poe shows how being different from others can create a unique way of seeing the world—one that is both painful and creatively powerful.

The poem ultimately feels less like a complaint and more like a recognition of identity. Poe accepts that he has always been separate, shaped by mysterious forces that others might not understand. Yet this very difference is what gives his voice its depth and intensity. In that sense, “Alone” becomes not only a reflection on loneliness but also a quiet explanation of how a poet is formed.


P. S. 

Copied from one page on facebook