Bukan kebetulan, bila di Indonesia yang terpilih menjadi presiden adalah Prabowo Subianto, sedang di Amerika Serikat adalah Donald Trump. Keduanya berlatar belakang berbeda, tapi kok bisa memiliki gagasan dan kebijakan yang sama dalam mengelola anggaran negara. Mereka melakukan penghematan besar2an, dalam nyaris semua bidang.
Penghematan yang harus dimaknai sebagai rasionalisasi. Keduanya harus hadir secara bersama, karena disinilah arti penting kebijakan yang harus berdasar argumentasi yang logis.
Padahal bila melihat latar belakang pribadi keduanya berbeda, walau ujungnya adalah sama. Prabowo bermula dari militer, sempat dianggap "rising star", kemudian dia dipecat. Lalu loncat ke sektor ekonomi untuk "memperkaya diri". Istilah yang tidak tepat, karena pada dasarnya ia sudah kaya dari lahir, karena "trah keluarga" yang memang sudah makmur-sejahtera dari sejak dari era kakeknya.
Hal ini yang sebenarnya membedakan ia dengan siapa pun calon presiden di Indonesia. Tak ada yang memiliki rekam jejak sepanjang, sekaligus sekontroversial Prabowo. Ia anak begawan ekonomi, cucu pendiri bank rakyat, dan mantu seorang presiden. Jadi, ketika ia ngotot mencalonkan diri tanpa lelah menjadi presiden. Keterpilihannya adalah masalah waktu. Sesuatu yang diperlancar dan dipermudah, justru oleh perilaku bodoh, konyol, dan serakah PDI-P dengan Megawati-nya.
Ikwal Trump, pertanyaannya adalah kenapa ia bisa terpilih lagi? Realitasnya, pada Pilpres yang lalu semestinya ia bisa menang lagi, kalah pun sangat tipis dan mengandung unsur perdebatan tak kunjung habis. Ia dicurangi justru karena ia didukung oleh intelejen Rusia. Aneh tapi nyata. Penggantinya Joe Biden terbukti kemudian memerangi Rusia dengan melibatkan sekutu Eropa-nya. Hanya untuk mendukung seorang badut bernama Zeliensky dari Ukraina.
Konon sampai awal tahun 2025, bantuan untuk Ukraina sudah mencapai 100 M US Dollar. Suatu jumlah yang gila untuk ukuran negara super power yang makin banyak warganya tidur di jalanan, karena terusir dari rumahnya.
Di titik inilah, lalu muncullah program penghematan atau tepatnya rasionalisasi anggaran nyaris di seluruh penjuru dunia. AS hanyalah faktor pembuka, disusul oleh Jepang, lalu meluas ke seluruh penjuru Eropa dan tak terkecuali Indonesia. Di AS, konon yang paling menghebohkan tentu saja adalah penutupan USAID. Saya mengikuti secara cermat, sisi positif dan negatifnya.
Kita mulai dari sisi negatifnya dulu, konon banyak anggaran kemanusiaan yang berdampak nyata. Seperti di bidang kesehatan terutama di negara miskin, sperti pencegahan wabah penyakit menular atau tidak dibiayai USAID. Kebutuhan air minum untuk daerah kering di seluruh penjuru dunia, juga dibiayai oleh USAID. Pun pendidikan gratis, termasuk kampanye untuk perlindungan hak kaum dan kelompok minoritas, kampanyenya juga dibiayai USAID.
Tak terbayangkan, berapa banyak program kemunisiaan berikut lembaga pengampu nya tutup akibat kebijakan ini.
Sedang sisi positifnya adalah berkurangnya campur tangan politik luar negeri AS melalui lembaga2 cangkangnya yang beroperasi di seluruh dunia. Apa yang mereka sebut sebagai upaya "mendestabilisasi suatu rezim dengan jalan demokrasi". Intinya tak boleh ada sebuah negara yang boleh dipimpin oleh satu rezim yang terlalu lama berkuasa. Pun jika ia sudah sangat pro-AS.
USAID dalam hal ini tangannya memang berlumuran darah dimana2. Jangan lupa, dalam kasus Indonesia: Peristiwa Mei 1998 di Jakarta adalah salah satu yang paling pantas dicatat. Bermula dari runtuhnya rupiah, yang lalu keuntungan yang diperoleh dari permainan valas yang dilakukan oleh George Soros digunakan untuk memicu kerusuhan dimana2. Belakangan diketahui "modal kerja" Soros diperoleh dari bantuan dari USAID.
Padahal kalau dipikir kurang pro bagaimana Suharto terhadap AS. Ia lah tokoh yang menjadi kunci kejatuhan Sukarno, yang lagi2 adalah permainan kotor barat di Indonesia. Hanya karena dianggap kelamaan, ia dipaksa jatuh juga.
Di titik inilah, ide Trump tiba2 "seolah" bersatu dengan Prabowo. Karena bagaimana pun, Prabowo adalah salah satu korban atau tepatnya yang dikorbankan oleh Peristiwa Mei 1998.
Di mata saya, agak ajaib dan saya terkejut bahwa langkah Prabowo melakukan penghematan anggaran, justru ia lakukan setelah membentuk pemerintahan yang gemuk dan jauh dari kompetensi. Dua sisi yang tidak lumrah! Mustinya, ketika ia berhemat, ia membuat tim yang ramping dan kompeten! Itu mustinya, tapi tidak!
Tapi demikianlah, ilmu politik murni itu sekarang sudah punah, sebagaimana ilmu ekonomi murni. Hingga kemudian yang hadir adalah ilmu ekonomi-politik. Dua sisi yang harus hadir harus selalu bersamaan. Ketika ekonomi yang ambruk akan diperbaiki, maka stabilitas politik harus dijaga tetap tenang! Dalam hal ini, ia hanya mengekor ide Sukarno ketika, menghadapi kehancuran ekonomi dengan membentuk Kabinet Seratus Menteri.
Trump sebagaimana juga Prabowo, sedang mencoba membaca ulang trend yang terjadi sebelumnya dan menera apa yang seharusnya dilakukan.
AS sesungguhnya justru sedang mengalami masa pasang politik luar negeri yang sedang bagus. Di Eropa ia bisa menunjukkan diri sebagai penguasa dan pemerintah sekaligus. Ia bisa seenaknya mengatur sekutunya untuk tunduk, walau dengan resiko menghancurkan kondisi internal masing2 negara. di Timur Tengah, ia bisa sesumbar untuk merubah Gaza sebagai real estate internasional, setelah Israel bisa memegang kendali penuh atas Palestina.
Rezim Assad di Suriah yang selama ini jadi "slilit" berhasil dijatuhkan, jangan heran sebentar lagi Iran juga akan takluk. Saudi sudah meninggalkan mahzab ortodok wahabi-nya, ketika minyak sudah tak lagi populer. Ia mempercatik dirinya sebagai "surga dunia" dengan berbagai tawaran mimpi kemewahan. Lihatlah bagaimana ia membangun kota supra modern Iom dan liga sepakbola yang norak tapi bergelimang uang dan bintang.
Ketika semua sudah Amerika pada waktunya. Hingga tak lagi perlu USAID dan sejenisnya. AS akan menjadi "great again" dengan memperbaiki dirinya menyambut abad antariksa yang butuh duit luar biasa besar. Menjelaskan kenapa Elon Musk jadi tangan kanannya, hingga disebut sebagai "the real president".
Kembali ke Prabowo, sisi baiknya adalah ia memahami salah satu langkah pertama mengurangi korupsi adalah dengan memangkas anggaran. Anggaran yang selama ini memang tak perlu dan mendesak2 amat. Sesuatu yang menyakiti rakyat, yang selama ini hanya dinikmati oleh jajaran birokrasi. Perjalanan dinas yang tidak perlu, biaya makan minum yang makin tak terkontrol, acara2 kedinasan yang tak ada sangkut pautnya dengan pelayanan publik, berbagai proyek yang tak jelas kebermanfatannya.
Itulah sesungguhnya, penghematan dan rasionalisasi yang dijalankan Prabowo. Bukan melulu karena program tolol makan bergisi gratis untuk anak2 sekolah. Yang diprogramkan, dikampanyekan, tapi gak jelas dari mana anggarannya itu. Bukan melulu karena utang menggunung dan jatuh tempo. Bukan karena realitas ekonomi global melambat. Bukan juga karena tidak lagi terobsesi oleh kemajuan China, yang anehnya diikuti kesadaran butuh kemajuan lain di seluruh muka dunia.
Saya berharap langkah selanjutnya adalah pemberantasan korupsi yang makin masif. Yang tentu saja harus dimulai dari "pilar korupsi" yang tak tersentuh itu! Banyak masyarakat yang tidak tahu makna kasus Harun Masiku dan Hasto Kristiyanto itu apa? Dan kemana ujungnya, kok seolah2 digarap tapi digantung. Dan dijadikan mainan yang berlama-lama.
Sangat sederhana, sedang terjadi tawar menawar politik untuk mensahkan undang-undang perampasan aset. Kita tahu, satu2nya partai yang menolak? PDI-P. Semoga, dihukum atau tidak Hasto, UU itu segera disahkan!
Dunia sedang berubah, pun Indonesia. Setelah era Jokowi yang ngebut membangun infrastruktur, memang semestinyalah era Prabowo dimulai dari merekonstrukti sisi non-material. Dengan langkah pertama rehabilitasi mental birokrasi-nya. Tidak memanjakan dengan anggaran yang tak perlu2 amat. Syukur2, bila kelak dilakukan perampingan birokrasi secara besar2an dengan menyisakan manusia2 yang berintegritas. Bukannya malah memperpanjang masa dinas mereka yang bermental korup dan oportunis.
Trend dunia memang mengarah pada sisi anomali: mereka yang selama ini dilecehkan dan direndahkan, justru memperoleh kesempatan untuk mengkoreksi yang salah dan menguatkan hal yang sudah baik.
Dalam hal ini, Trump dan Prabowo memang berada pada panggung yang berbeda, tapi dengan semangat dan cara berpikir yang sama!
.
.
.
NB: Saya mengenal Prabowo, jauh waktu saat saya masih kuliah di UI. Saya termasuk angkatan pertama yang ditarik2 untuk masuk dalam lingkarannya. Bukan karena apa2, saya bekerja di lembaga, dimana direktur saya termasuk konsultan politik pertama Prabowo di sekitar awal 1990-an. Tentu saja saya tidak tertarik, walau tentu saja banyak yang terangkut di dalamnya.
Fadli Zon adalah salah satunya. Mengherankan bila ia bisa bertahan lebih dari 30 tahun tetap setia menemani Prabowo. Walau saya dengar tak sekali dua ia digamparin.
Ketika dalam beberapa kali kontestasi Pilpres, banyak teman2 dekat yang saya kenal baik menjadi pendukung Prabowo. Mereka berkali2 mendesak saya untuk mendukung Prabowo, tentu saya tolak. Karena saya melihat sisi baik Jokowi, dan saya masih tetap melihat sisi baiknya hingga saat ini. Sisi baik terakhirnya, ketika ia mengambil keputusan berat tapi rasional, untuk memberi peluang Prabowo sebagai Presiden. Dan bukan saja berhasil, tapi telak.
Lalu ketika saya saya menyadari bahwa salah satu masalah terbesar negeri terletak pada kekuatan yang selama ini menganggap dirinya sebagai pemegang otoritas nasionalisme dan penjaga demokras. Padahal keduanya justru digunakan untuk korupsi dan sekedar memperkaya diri. Maka saya merasa, walau secara generik itu adalah rumah terakhir saya, saya memilih untuk ikut rombongan yang "menghukum" partai ini.
Dan sejauh yang saya lihat, upaya menjatuhkannya berhasil, tapi untuk menyadarkannya gagal total.
Di usia renta saya secara fisik dan mental ini, saya memilih untuk berpikiran dan berprasangka baik. Selalu sedih, ketika mereka yang merasa memperjuangkan diri melalui saluran apa pun itu, justru melakukan kampanye anarkis secara tak mereka sadari. Setelah mengudarkan slogan Darurat Indonesia, Adili Jokowi, lalu muncul Indonesia Gelap, lalu terakhir trend "kabur saja dulu". Tentu saja membuat saya sedih.
Pilihan "kabur" sudah jelek, teks "saja" menunjukkan ketidak jelasan pilihan, sedang "dulu" menunjukkan ketidakyakinan!
Generasi muda yang bilang "kabur saja dulu", selamanya akan selalu kabur dari masalah. Selamanya jadi layang2, tampak indah tapi cuma jadi remah2 ketika ia putus dan jadi rayahan. Sebagai orang tua, yang menyadari pendidikan tinggi di Indonesia seburuk2nya tempat belajar, dan memilih mengkuliahkan anak2 di luar negeri. Tentu teks kabur saja dulu itu selain bodoh, konyol, juga sangat menyesatkan.
Di sini arti pilihan diksi dan kecerdasan literasi, setiap patah ucapan katamu. Apalagi tulisanmu adalah doamu. Saya meyakini, untuk semakin berdamai dengan segala hal baik, seburuk apa pun kondisinya. Berprasangka poitif dan membantu untuk tetap menjadi baik.
Bila saya bisa menyebarkan rasa welas asih, rasa cinta, peduli secara tulus, dan hormat secara sedehana. Menurut saya masih ada alasan dan harapan hidup yang lebih baik.
Bersikap hemat dan bertindak rasional adalah awal langkahnya.
=====================
Tulisan saya copy paste dari wall facebook mas Andi Setiono.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar