Minggu, 10 April 2011

Adakah Engkau di Surga sana oh Tuhan?


Aku menyeruput kopi panas dengan nikmatnya. Seperti hari-hari lainnya, kota Edington di musim gugur selalu dicekam dingin yang menusuk. Segelas kopi panas beserta setungkup hamburger sudah menjadi menu yang luar biasa di Bed & Breakfast yang aku tumpangi ini.  Sekarang aku berada di Skotlandia, wilayah utara Kerajaan Inggris Raya, di tahun 1903.

Dari bau harumnya yang khas aku sudah yakin bahwa biji kopi ini didatangkan dari kepulauan Nusantara. Lewat trading pedagang Inggris dan Belanda, kopi dari tanah ibu pertiwiku di bawa sampai ke mejaku. Sial, betapa jahatnya penjajahan. Sementara anak-anak bangsaku hidup dalam feodalisme dan kemiskinan, kekayaan tanahnya yang terbaik malah dinikmati orang luar.
Namun yang membuatku jauh lebih sedih adalah bahwa sampai sekarang masih berlangsung penjajahan dalam otak anak-anak negeriku. Sekalipun Indonesia telah merdeka 65 tahun, namun anak-anak bangsaku masih dijajah oleh isme-sme dari luar yang tidak sesuai dengan adab asli bangsaku. Isme-isme yang tidak berjejak pada keragaman dan keunikan anak-anak negeri ini. Isme-isme yang hanya membuat otak anak-anak bangsa ini berkiblat jauh ke barat, entah ke mekkah ataupun ke yerusalem. Isme=isme yang membuat garis marka yang rigid antara mukmin vs kafir, haram vs halal, umat yang telah diselamatkan vs umat yang belum diselamatkan. Tidak perlu lagi disebut-sebut tentang syahwat kekuasaan, kemunafikan, korupsi, dan ketidakjujuran yang melekat di dalam otak para politikus dan agamawan kita yang meluluhlantakan sendi-sendi kemanusiaan bangsa ini.  Aku menghela nafas panjang. Penat dan perih rasanya nurani ini jika mengingat-ingatnya.
Belum juga habis kopi ini, terdengar ada keributan di luar. Lelaki dan perempuan berhamburan disusul dengan beberapa polisi berkuda menuju suatu tempat tak jauh dari B&B tempat aku menginap. Aku tertarik untuk melihat apa yang tengah terjadi.

Ternyata baru saja sesosok mayat ditemukan. Seorang janda cantik dan kaya berumur 40 tahunan ditemukan tergeletak di atas sofa di rumah mewahnya. Tidak ditemukan bekas tikaman atau cekikan di tubuhnya. Begitu pula tetangga terdekatnya tidak mendengar suatu percekcokan antara si korban dengan siapapun dari tadi malam. Namun dari cara ia meninggal sudah jelas ia mati tidak wajar.

Polisi berusaha menjaga-jaga agar warga tidak mendekati TKP atau menyentuh apapun yang bisa dijadikan alat bukti. Tak lama kemudian muncullah seorang laki-laki kurus tinggi dengan Jaket selutut, dan bertopi aneh. Di bibirnya selalu terselip cangklong dengan asap yang mengepul tipis. Ia adalah Sherlock Holmes, detektif terkenal di Scotland Yard. Dengan sigap ia memakai sepasang sarung tangan karetnya, mengeluarkan buku catatan kecil dan bolpen, serta tidak ketinggalan kaca pembesar dan mulai meneliti si korban.

Ia memeriksa tingkat kekerasan jasad si korban, mencari tahu sudah berapa lama sang almarhumah menjadi jasad ini. Ia mencari tanda-tanda di tubuh si korban yang bisa mengindikasikan apa yang sesungguhnya terjadi saat sebelum kematian tiba. Ia melihat apakah ada yang aneh dengan letak perabotan di ruangan itu. Adakah barang yang jatuh? Adakah barang yang terhilang?  Adakah sidik jari tertinggal di tubuh si korban? Adakah sidik jari tertinggal di pintu? Di jendela? Apakah ada tanda-tanda kerusakan di pintu, jendela dsb. Adakah zat racun tersimpan di cangkir teh si korban yang belum selesai ia minum. Ia mewawancarai dua orang pelayan dan seorang tukang kebun yang tinggal di rumah sang korban. Ia menganalisa, mengumpulkan hipotesa, membandingkan hasil hipotesa itu dengan catatan-catatan yang telah ada dan menarik kesimpulan. Dengan hati-hati ia mencari kemungkinan-kemungkinan yang ada yang bisa membawanya pada sebuah kesimpulan.

Akhirnya setelah 2 jam investigasi berlalu, dengan dingin dan penuh keyakinan, ia mengatakan, “Kasus terpecahkan. Ini adalah pembunuhan ruang tertutup. Dan pelakunya adalah salah seorang pelayan sang janda dengan motif balas dendam pribadi. Ia menaruh sejenis racun cair di teh si korban karena si janda tersebut ternyata memiliki asmara terlarang dengan suami si pelayan. Dan dialah pelakunya.”  Telunjuk tangannya mengarah kepada salah seorang pelayan itu. “Mrs. Manning, andakah pelakunya?” Perempuan berumur 30 tahun itu menunduk malu dan takut. Ia mengangguk dan menangis. Kasus terselesaikan sudah.
Semua orang bertepuk tangan. Begitu pula aku. Dan sang Detektif melirik ke arahku dan mengedipkan matanya. Sementara asap dari cangklongnya mengalun di udara. Aku tersenyum.
Aku yang hidup 100 tahun setelah Sir Arthur Conan Doyle, tokoh real pencipta Detektif Sherlock Holmes,  merasa bahwa teknologi di jamanku hidup, yaitu sekarang, jauh lebih canggih dan mengesankan dibanding ketika Doyle hidup. Beruntunglah kita yang hidup di jaman post modern dimana ilmu pengetahuan berkembang pesat, baik dari segi teknologi, analisa psikologi, dan metoda2 penyingkapan kasus kejahatan yang dikembangkan oleh para kriminolog. Kita memiliki kamera pemantau, tes DNA, uji balistik jika kasus yang ditangani melibatkan peluru, deteksi ketahanan metal jika kasus itu melibatkan kecelakaan kendaraan, autopsy mayat, analisa kejiwaan dsb. Namun diluar perbedaan teknologi itu, pendekatan yang dilakukan untuk menyingkap suatu kasus adalah sama yaitu deduksi dan induksi.

Beruntunglah kita yang hidup dalam abad ketercerahan sains, sebab ilmu pengetahuan terus menerus memperluas cakrawala kita. Masa lalu yang dahulu nampak seperti misteri, sekarang semakin terbuka. Bagaikan detektif Sherlock Holmes yang tidak berada saat kejadian perkara namun ia mampu memecahkan kasus lewat investigasi material, begitu pula para saintis. Mereka tidak pernah hadir ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu, namun lewat investigasi material, pencarian materi2 yang mendukung, kemudian perumusan hipotesa dan korespondensi antara satu materi dengan materi lainnya, satu kasus dengan kasus lainnya, akhirnya mereka mampu menyusun suatu rangkaian penjelasan yang memungkinkan kita untuk mendekati apa yang benar2 terjadi di masa lalu. Dan apa yang terjadi rantai evolusi dan peradaban manusia.
Pencarianku akan makna hidup membawaku pada penelitian sejarah agama-agama, budaya, tata nilai, evolusi, spiritualitas dan ternyata itu semua bermuara di evolusi otak kita. 

Adakah engkau di surga sana oh tuhan? - Tidak, aku ada dalam otakmu.
Menurut para neurosaintis otak kita yang terdiri dari triliunan neuron ternyata adalah hasil evolusi selama berjuta-juta tahun. Secara fungsi otak dikelompokan menjadi 3 bagian utama, yaitu:

Lapisan pertama dan tertua : batang otak, disebut juga otak reptilian, karena fungsinya sama seperti otak banyak spesies reptile. Fungsi utama bagian ini menjalankan aktivitas dasar, sederhana & otomatis, seperti bernafas, detak jantung, sirkulasi udara, siklus metabolisme. Juga mengontrol daya flee or fight / kabur atau tempur.  Itulah kenapa ada sindiran ‘otak kadal’ bagi orang-orang yang cenderung suka memamerkan kekerasan fisik tapi ngacir kalau yang dihadapinya lebih jago dan kuat darinya.

Lapisan kedua : daerah limbik, bentuknya seperti helm yang mengelilingi batang otak. Jalur saraf yang lebih rumit ini memampukan otak si spesies untuk menjalankan kegiatan menyediakan makanan, perlindungan, ketrampilan bertahan hidup. Bagian otak ini menambahkan kesan-kesan emosi pada si spesies itu yang lebih luas dari pada flee or fight, seperti perasaan tertekan, lapar, senang, membedakan bebauan, membaca niat binatang lain lewat postur tubuh, gerak, tatapan mata, ekspresi wajah. Bagian Limbik ini ada pada binatang vertebrata. Limbik terdiri dari 2 hippocampus (kanan-kiri) yang berfungsi untuk merekam memori, dan Amygdala yg berfungsi merasakan emosi dan ingatan2 emosional. Sekarang kita memahami mengapa binatang2 seperti gajahm, beruang, kuda, zebra, dll mampu memperlihatkan emosi dan kasih sayang yang mendalam ketika merawat anak-anaknya dan memperlihatkan ekspresi bersedih manakala anak atau anggota klan nya dimakan singa atau mati. Emosi2 sedalam itu tidak dimiliki oleh binatang2 reptil. Kenapa? Karena otak mereka tidak memampukan mereka untuk merasakan emosi yang mendalam.

Lapisan ketiga, neokorteks, lapisan ini hanya dimiliki oleh mamalia, berfungsi untuk memberikan alasan, membuat perencanaan, memberikan respons emosi yang cocok. Dan pada spesies homosapiens, neokorteks ini berkembang menjadi system yang kompleks dan lebih besar yang memampukan mereka untuk membayangkan, mencipta, mengerti dan memanipulasi symbol. Kemampuan neokorteks ini yang dalam peradaban, menyediakan kita kemampuan untuk berbahasa, menulis, melukis, mengerti matematika, mengapresiasi seni, mengkonstelasikan konsep-konsep, merasionalisasikan emosi, mencari makna hidup dsb.

Neokorteks ini dalam otak manusia, yang bervolume lebih besar dari pada mamalia lainnya, memampukan kita untuk mengabstraksikan tata nilai apa yang baik dan tidak baik, bermoral dan tidak bermoral, jahat atau tidak , dan juga memampukan kita membayangkan kehidupan yang ideal, abadi, tiada kemalangan dan kematian, yang semua itu dikonsepkan berdasarkan materi yang ada di sekitar kita.

Dari evolusi manusia keluarlah hasrat2 untuk melakukan kebajikan, dan kemuliaan, dari evolusi manusia sendiri hadirlah keinginan2 dan keserakahan yang menelurkan kejahatan. Konsep2 kebaikan dan kejahatan inilah yang menciptakan agama dan tata nilai. Dan pencarian antara misteri keterhubungan antara eksistensi manusia secara personal dengan sesama dan alam, itulah yang menjadi hasrat mendasar spiritualitas.

Jadi adakah engkau di surga sana oh  tuhan ? Tidak, aku ada di dalam otakmu.

Pada mulanya adalah bertahan hidup
Dulu…dulu… dulu sekali pada waktu nenek moyang kita memutuskan untuk mengakhiri kebiasaan hidup lamanya yaitu bergelantungan di dahan2 pohon yang tinggi dan mulai ke hidup di atas tanah (inipun terpaksa dilakukan karena ada suatu kejadian alam yang membuat pasokan makanannya diatas pohon mulai menipis), mereka menyadari kalau mereka tidak bisa lari secepat cheetah, tidak punya tenaga sekuat gajah, tidak punya penglihatan setajam rajawali, tidak punya cakar setajam cakar singa, maka dengan sendirinya mereka berkelompok untuk bertahan hidup.

Dengan tumbuhan dan daun-daunan yang mereka dapat, dan daging dari hewan2 lain yang lebih kecil mereka bertahan hidup. Kita bisa lihat contoh nyata dari simpanze, aktivitas mereka kebanyakan tidak diatas pohon, tapi di atas tanah, dan kadang makan, semut, kutu, belatung bahkan memangsa monyet lain yang jadi musuh kelompok mereka.

Dengan pola makan yang baru dan bervariasi itu, yaitu gabungan antara tumbuhan dan daging dari hewan buruan, maka sedikit demi sedikit dalam rantai generasi yang begitu panjang, kebiasaan ini menambah kadar protein dalam otak mereka yang nantinya menambah volume tubuhnya, memperkuat rangka tubuhnya, volume otaknya, dan memperkuat jaringan2 sel di dalamnya untuk memampukan diri mereka beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Melalui perjalanan evolusi yang panjang dan berliku, sel-sel dalam otak spesies yang nantinya menjadi manusia ini, semakin diperkaya dengan pengalaman2 berburu, melarikan diri dari musuh, hubungan interpersonal dalam komunitasnya. Kehidupan di atas tanah, dan bukannya di atas pohon, sedikit demi sedikit merubah rangka tubuh mereka. Mereka jadi mampu berdiri lebih tegak, mampu mengkoordinasi tangan, kaki dan bibir yang memampukan mereka untuk berjalan lebih jauh, bergerak lebih anggun dan memiliki kemampuan baru, berbahasa verbal. Semua kekayaan baru ini  menanamkan ‘kode genetik’ dalam gen untuk generasi-generasi mendatang lewat cara berkelamin.


Tuhan – suatu konsep yang terus berevolusi

Bayangkan, pada jaman purba ketika manusia masih tinggal di gua2. Mereka merasa takut dan gentar akan alam ini. Mereka tidak sanggup mengalahkan ganasnya alam. Hujan yg lebat, guntur yang meraung-raung, kilat yang sabung menyabung. Dalam ketakutan, ketidak mengertian dan ketidakberdayaan mereka menganggap ada suatu kekuatan dibalik semua fenomena alam ini. Yang berkehendak sendiri-sendiri, lepas dan berkuasa atas alam dan manusia.  Kita menyebut keyakinan ini sebagai dinamisme. Keyakinan akan adanya suatu kekuatan-kekuatan otonom yang lepas berkehendak dibalik fenomena2 alam.

Baru sampai jaman manusia Neanderthal, manusia mulai menemukan konsep tentang adanya keberlanjutan hidup. Mereka percaya bahwa manusia yang mati, atau semua binatang yang mati, mempunyai kehidupan setelah kematian dalam suatu dunia antah-berantah. Para paleontolog menemukan situs-situs dimana manusia Neanderthal menguburkan kerabatnya yang telah mati. Dalam kuburan ini manusia didudukan persis dengan bayi di dalam kandungan, Karena mereka percaya bahwa kematian bukanlah akhir dari fase hidup melainkan suatu fase awal untuk suatu kehidupan berikutnya lagi. Dan mereka yang telah mati, tinggal bersama kita dalam dimensi yang lain. Mereka tinggal di hutan, di danau, bahkan dalam alat2 berburu dan berperang mereka. Ada keterhubungan erat antara mereka yang telah meninggal dan alamnya yang khusus dengan kita yang masih hidup di alam raga ini, yaitu diantaranya untuk menjaga kita keturunannya dalam menghadapi bahaya. Mereka menjadi karuhun, dan kita jadi cucu-cucu kesayangannya.

Keyakinan ini disebut spiritisme dan animisme. Sampai sekarang animisme dan spiritisme dipraktekan secara luas dalam kebudayaan dunia. Keyakinan akan keharusan untuk membuat sesajen sebelum membangun rumah / pabrik, berasal dari keyakinan ini.
Kemudian, setelah manusia2 menetap dalam suatu komunitas, di tepi pantai, di gunung, di hutan, di gurun, dsb. Manusia mulai menemukan paham baru, yaitu politheisme. Secara tidak sadar dinamisme dan animisme dipersonifikasikan jadi dewa-dewa lokal dimana mereka bernaung. Ada dewa pohon, dewa hutan, dewa sungai, dewa gunung, dewa gurun, dewa lembah. Dsb. Setiap tempat memiliki dewanya sendiri.
Semakin kompleks suatu komunitas, semakin banyak dewa-dewa sesembahan mereka, sebagai cermin dari pengharapan dan ketakutan mereka, ada dewi kesuburan, dewa peperangan, dewa kesembuhan, dewi percintaan dsb. Setiap aspek psikologis manusia yang sukar dijabarkan lewat uraian kata dipersonifikasikan dalam citra dewa-dewi.
Ketika komunitas2 lokal ini bertumbuh menjadi kerajaan-kerajaan, begitu pula dewa-dewa itu ditempatkan dalam suatu hierarki, dewa yang tertinggi menjadi dewa utama / raja contoh zeus, dewa indra, sedangkan dewa yang lebih kecil / inferior menjadi dewa2 suruhan / dewa2 perang.
Dalam pemahaman yahudi, kristen dan islam dewa utama itu adalah yahweh / allah bapa / allah swt dan dewa2 yang lebih rendah adalah para malaikatnya. Tidakkah anda menemukan kesejajaran antara konsep kerajaan dengan konsep ketuhanan?

-raja – dengan tuhan yang bertahta di surga,
-perdana mentri dengan Gabriel / Jibril
-kepala pasukan dengan Michael atau Mikail.
-dayang dengan para seraphim & kerubim?

Begitu pula surga selalu digambarkan sebagai istana penuh dengan air mancur dan bidadari berseliweran disana-sini. Tidakkah ini penggambaran kaum padang gurun yang merindukan tempat teduh yang melimpah dengan air dan pepohonan sejuk serta ekstasi ragawi?

Ketika kerajaan2 itu berperang dengan motif-motif politis dan geografis, mereka membawa serta dewa2 mereka. Dan dewa dari suku yg menang dalam peperangan menjadi dewa pemenang, dewa yang lebih superior dari pada dewa suku yang dikalahkan. Dalam hal ini maka mengkerucutlah dewa-dewa ini menjadi suatu hierarki yg lebih rigid. Itulah sejarah dari politheisme menjadi monotheisme. Namun ada kalanya justru dewa dari suku yang kalah justru dianut oleh suku yang menang. Namun demikian kasus seperti itu kecil. Biasanya apa bila dewa-dewi dari suku yang kalah lebih beragam dan kaya makna, maka dewa-dewi tersebut diasimilasi ke dalam pantheon dewa-dewi suku yang menang.

Dari politheisme, hanya perlu selangkah lebih lanjut menuju monotheisme, yakni dogma yang diusung oleh kekuasaan, yaitu kehendak politik para raja yang mendukung suatu agama tertentu. Agama sang raja haruslah jadi agama si rakyat. Bukankah ini terjadi bahkan sampai saat ini?

Jadi jelas bahwa penggambaran tuhan berasal dari konsep manusia sendiri tentang kehidupannya. Seberapa jauh manusia memahami alam, hidup dan keterhubungannya dengan alam dan sesama, maka sebegitulah pemahaman tuhan mereka. Maka dari itu tuhan selalu digambarkan berbeda-beda. Ada tuhan yang jijik dengan perempuan, itu karena budaya si komunitas pengusung keyakinan itu adalah budaya male-chauvinistik, budaya yang mengagung-agungkan lelaki dan merendahkan perempuan. Ada tuhan yang pemurka, dan menyuruh si nabinya menghabisi lawan-lawan politiknya. Itu karena komunitas si nabi sedang terpojok, sehingga tuhan yang dicerminkannya adalah tuhan pemurka. Ada tuhan yang menyukai sesajian hewan tertentu, semacam kambing dan domba. Ada tuhan yang lebih manusiawi dan senang tari-tarian, itu karena para pengusungnya adalah komunitas yang ceria.  

Jelas bahwa manusialah yang menemukan konsep tuhan. Bukan sebaliknya. Manusia-lah yang menyapa tuhan, bukan sebaliknya. Sebab jika kita mengandaikan ada suatu tuhan yang berfirman ini dan itu, seharusnya firmannya itu bisa diverifikasi. Mari kita datangi tuhan, apakah benar ia pernah berbicara kepada nabi ini dan itu dan memfirmankan demikian dan demikian.

Jika saya bisa gambarkan maka perspektif manusia akan konsep tuhan adalah bagaikan segi tiga terbalik yang terbuka bagian dasarnya (yang sekarang ada di atas).  Puncaknya, atau titik pertemuan dua garis, ada dibawah, dan itulah manusia. Sedang bagian yang di atas itulah konsep tuhan. Seberapa besar pengetahuan material dan kebijaksanaan si manusia /masyarakat tsb semakin luas derajat atau spectrum bagian bawahnya yang berarti semakin luas pula bagian atasnya. Sebaliknya, semakin kecil dan picik, sumpek dan dangkalnya semakin mengkerucut tajam dan sempit sudut spektrumnya dan semakin kecil pula horizon dibagian atasnya.

Selama ini pemahaman manusia beragama, terutama agama monotheistik, telah keliru karena menganggap pemahaman manusia akan alam bagaikan segitiga dimana titik pertemuan di atas adalah tuhan, sedang bagian dasarnya adalah manusia. Dan karena perspektif ini mengerucut ke atas maka semakin ke atas semakin sempit. Maka dari itu tidaklah mengherankan kita melihat dalam agama dogmatik, semakin ia merasa dekat kepada tuhan, seseorang semakin ia sempit pikirannya karena ia sudah merasa di atas dan berhak mengatur-atur orang di bawah.

Dalam terang pemahaman di atas adalah jelas bagi kita bahwa tuhannya agama adalah idea. Tuhan bukan sesuatu di luar sana, di atas sana yang bertitah ini dan itu. Tuhan ada di dalam pemahaman di otak kita. Dan seberapa jauh dan lembut pemahaman tuhan itu, tergantung dengan seberapa manusiawinya kita, seberapa dalamnya keteduhan batin kita, seberapa luas pemahaman kita tentang alam dan sesama mahluk.   

Jadi tuhan itu tidak ada secara materi. Ia bukan sesuatu atau seseorang di atas sana, yang bertahta di surga, yang meminta dipuja-puji oleh manusia dan malaikat. Sebab kalau tuhan berpribadi macam itu ada, maka ia adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas kejahatan manusia ciptaannya sendiri, serta bertanggung jawab atas kekacauan dan kekejaman yang terjadi dalam peradaban manusia dalam sejarah peperangan agama2.

Tuhan yang dipahami oleh manusia adalah konsep untuk menunjukan adanya nilai2 kebaikan dan keburukan. Jika ia adalah konsep / abstraksi maka yang terpenting bukan konsepnya itu sendiri, melainkan makna idea dibalik itu. Anda boleh memakai konsep ini atau itu, atau tanpa konsep agama sama sekali, yang penting anda mendapatkan makna hidup dalam kehidupan ini.

Itulah kenapa note saya sebelumnya, saya katakan bahwa saya merindukan Indonesia baru dengan beragam pemikiran, baik itu dinamisme, animisme, politheisme, monotheisme, agnotisme, atheisme  dsb. Asalkan mereka diikat dengan adab, dan nilai2 kemanusiaan yang menghargai hidup. Biarlah setiap insan  berdialektika dalam memaknai hidupnya. Ia memilih apa yang ia anggap layak dipercayai sepanjang itu tidak meniadakan hak2 orang lain untuk meyakini dan tidak meyakini sesuatu.

Konsep agama yang diusung oleh seseorang sebenarnya merefleksikan persepsi orang tersebut akan dirinya, alam, dan keterhubungan kesagalaan yang ada. Jikalau itu hanya refleksi atau   abstraksi dari persepsi maka tidak ada kebenaran obyektif di sana. Sebab kebenaran obyektif memerlukan verifikasi yang didasari oleh metode-metode keilmuan yang bersifat empiris dan  rasional. Adakah agama yang mampu menjawab tantangan pembuktian empiris?

Pada jaman lalu, manusia mempercayai bahwa alam semesta dibagi menjadi 3 lapisan besar, lapisan atas yaitu surga / arsy dimana tuhan bertahta, lapisan tengah yaitu bumi dimana manusia hidup, dan lapisan bawah adalah alam kematian di mana roh-roh orang yang telah mati dan dianggap tidak layak masuk surga – disiksa di sana.  Sementara di antara surga dan bumi para malaikat / dewa dan iblis sibuk berperang memperebutkan pengaruh atas manusia.

Dalam worldview yang sesederhana itu, maka mitos2 seperti kejatuhan adam dan hawa, pengusiran dari firdaus, bencana air bah, rencana pembangunan menara babel oleh Namrud, pengiriman tulah2 ke Mesir, kenaikan Musa dan Elia ke surga, kebangkitan dan kenaikan Yesus, isra miraz Muhammad, perjalanan Zoroaster ke surga, kunjungan Buddha dan murid2nya ke surga 33 langit bisa dipahami.

Namun dalam pemahaman manusia modern, dimana cakrawala pengetahuan kita lebih luas, masih bisakah kita mempercayai kisah2 ini sebagai kejadian factual dan historis? Bukankah kejadian itu akan menimbulkan pertentangan dari hukum2 fisika, kimia dsb karena jasad kita tidak memungkinkan untuk melintasi langit. Apa lagi kita tahu kalau di atas hanyalah ruang hampa luas.

Kisah-kisah diatas hanya bisa dipahami sebagai mitos, dimana dari kisah2 itu si penutur kisah menyampaikan tujuan dan pemahamannya berdasarkan kepentingan ideologi, budaya, politik dsb.

Keyakinan akan adanya suatu pribadi adikodrati yang bertahta di atas sana dan mengatur umat manusia dari awal sampai akhir, serta mengangkat nabi2 tertentu dan memberi sabda berbentuk kitab2 tertentu dan memuncak pada pewahyuan kitab tertentu dan figur nabi atau juru selamat tertentu – tentu saja mengandung kontradiksi baik secara idea maupun secara realitas. Karena pemahaman umat manusia yang terus maju dengan cakrawala pengetahuan yang lebih luas tidak memungkinkan adanya suatu titik kulminasi pewahyuan di belakangnya. Mestikah kita terus menoleh kebelakang untuk mencari semua jawaban dari pertanyaan kita sementara kompleksitas hidup dan pengetahuan umat manusia jaman itu tidak lebih rumit jaman sekarang?

Pada jaman2 lalu inti dari agama adalah agar kehidupan manusia dapat tertata, terikat dengan hukum-hukum positif dalam komunitas tersebut dan mengambil makna hidup. Dan itu wajar jika disikapi dengan dewasa. Artinya kita sadar bahwa tidak ada yang mutlak dalam kepercayaan2 tsb. Kenapa? Karena seiring dengan pengetahuan manusia akan alam, dirinya, sesamanya dan keterhubungan di antara faktor2 tersebut, maka kebathinan manusia pun akan bertambah pula.

Dari perspektif agama, ketika pemahaman manusia berubah dan semakin maju, agama pun harus mau membuka diri dan jujur dengan segala kelemahan dan keterbatasan dan kenaivannya. Sebab kalau tidak, maka ia sendiri harus bersiap-siap ditinggalkan oleh manusia2 yang cerdas.

Keyakinan yang masih membangga-banggakan akan adanya tuhan di langit yang memberikan tiga agama langit, yang masih mempercayai bahwa wahyu dari allah di langit itu memuncak pada pribadi nabi tertentu, kitab tertentu dan agama tertentu, atau juru selamat tertentu, masih layakkah kita pertahankan? 

Kita lebih memerlukan kemanusiaan, kejujuran dan intelektualitas daripada kepercayaaan2 buta yang dalam rekam jejak sejarah, sudah jelas-jelas menorehkan diskriminasi, penindasan, kekerasan dan darah.

Sejarah pemahaman konsep tuhan adalah sejarah pemahaman manusia itu sendiri tentang alam, dirinya dan sesama. Dengan begitu maka ini mengundang dekonstruksi, rekonstruksi, dan reinterpretasi.

Tuhan adalah tuhan yang ber-evolusi, seiring evolusi (otak) manusia.



Apa yang ada di balik simbol-simbol

Jikalau idea-idea dalam kisah-kisah agama adalah symbol, seperti halnya surga, neraka, keabadian, dsb maka sebenarnya symbol-simbol ini mengacu pada apa?

Dalam note saya yang pertama saya tuliskan seperti ini:

Kami para pencari kebenaran yang mempelajari banyak ilmu secara interdisipliner, menyadari bahwa agama hanya sekumpulan dogma dan symbol-simbol tertentu yang mengacu kepada ‘suatu makna’ di balik itu. “sesuatu”  ini yang sukar dijelaskan oleh kata-kata yang gamblang.  Namun para agamawan begitu mudahnya mem-bypass dan menjadikan ritual, dogma sebagai kebenaran final, kebenaran dalam dirinya, sehingga berkubang di situ dan tidak mampu menempus makna di balik itu.

Jadi apa makna di balik symbol-simbol agama itu?  Saya telah jawab bahwa makna di balik simbol2 itu sukar untuk dijelaskan dengan kata-kata gamblang. Itulah mengapa Buddha lebih baik berdiam diri manakala ia ditanyai tentang adanya tuhan yang berpribadi, prima causa, asal muasal semesta dsb. Jikalau jaman sekarangpun dengan cakrawala pengetahuan alam yang lebih luas manusia sukar menjawabnya, apalagi manusia 2500 tahun yang lalu?
Namun dalam note yang akan datang akan saya sedikit paparkan pemahaman saya tentang hal ini.

Conquest of the Universe – mungkinkah masih ada waktu bagi kita?
Pada penghujung abad ke-15 masyarakat Eropa dikejutkan dengan ditemukannya dunia baru oleh Christopher Columbus. Seperti kita tahu bahwa kejatuhan kekaisaran Roma Byzantine yang kristen kepada dinasti Utsmaniah yang islam dan pemblokiran jalur2 perdagangan eropa ke Asia memaksa para pelaut eropa untuk mencari rute-rute perdagangan baru.  Penemuan dunia baru ini membuktikan bahwa bumi tidak seluas yang mereka kira. Bagi orang Eropa saat itu batas paling selatan adalah Tanjung Harapan di Afrika selatan dan batas paling timur adalah kerajaan Cina. Segera setelah penemuan dunia baru tersebut, maka terjadilah gelombang migrasi bangsa eropa ke benua Amerika. Pula semakin bergejolak peperangan antara protestan dan katolik di benua Eropa semakin banyak imigran merangsek masuk ke benua Amerika. Dan semakin berdarah-darahlah sejarah peradaban penghuni asli benua itu. Entah berapa banyak jiwa dan suku bangsa India yang punah karena keberingasan tentara spanyol, Inggris dan Portugis.

Dalam film 1492, the conquest of Paradise, Vangelis sang composer menggubah lagu yang begitu dinamis dan penuh misteri berjudul Conquest of Paradise. Nada-nada yang sederhana, hentakan tambur, tempo yang dinamis dan penuh emosi menggambarkan harapan, ketakutan, tantangan, ancaman kegagalan dan kematian para pengarung lautan.

Begitu pula dengan sejarah evolusi dan kesadaran manusia. Penuh ketegangan dan ancaman. Seringkali manusia melangkah yang salah dan menganggapnya benar. Dan harga yang harus dibayar dari kebodohan itu seringkali teramat sangat mahal, yaitu nyawa. Sejarah agamapun memperlihatkan hal yang serupa.

Ke depan anak cucu kita akan mengarungi wilayah2 baru dalam semesta tak terbatas ini. Pertanyaannya adalah mampukah anak-anak manusia bertahan sampai ke jaman itu sementara apa yang kita lihat sekarang dunia selalu berada di ujung tanduk? Dan salah satu factor pemicunya adalah masalah agama. 

Negara-negara Timur Tengah yang selalu dalam keadan tegang adalah negara2 yang paling berpotensi untuk membawa ancaman kepunahan kepada dunia. Sudah jadi rahasia umum bahwa konsentrasi senjata terbesar dunia ada di Timur Tengah. Dengan kemampuan teknologi nuklir Iran yang ada pada saat ini, adalah mudah bagi mereka untuk mengubah reactor nuklir untuk listrik ini menjadi teknologi senjata penghancur massal. Demikian pula sudah bukan rahasia umum bahwa Israel, Pakistan dan India dicurigai memiliki senjata nuklir. Fakta ini memicu negara2 Arab untuk berlomba2 menumpuk senjata sebagai pengimbang. Mengapa Arab Saudi, Mesir, Syria, Yordania dan Turki begitu dekat dengan Amerika Serikat? Salah satunya karena mereka takut dengan Iran. Persaudaraan islam yang digembar-gemborkan pada dunia adalah persaudaraan semu. Karena pada hakekatnya mereka memiliki kepentingan sendiri2 yang berbeda-beda. Tidak ada lawan, kawan, dan persaudaraan keagamaan yang abadi. Yang ada adalah kepentingan yang abadi.

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi apabila krisis kemanusiaan dan politik Arab – Israel terus memanas dan menyulut peperangan besar. Dan kita di Indonesia, tentu saja akan terbawa-bawa secara emosional, karena secara budaya dan ideologi agama Indonesia sudah jelas keberpihakannya.  Tak bisa dibayangkan chaos yang akan terjadi di negeri ini apabila saat kehancuran itu tiba.

Saya ingin kita melihat bahwa ada hal yang salah dengan agama2. Ada yang irrasional dengan agama2. Semua ini saya tulis agar anak bangsa bisa melihat akar permasalahannya yaitu keyakinan yang bertumpu pada mitos. Dan sungguh tidak layak bagi umat manusia untuk berperang dan saling membenci hanya demi mitos.

Padahal ke depan umat manusia masih punya banyak tantangan untuk ditanggapi. Ada bentangan alam semesta yang maha luas untuk dijelajahi. Ada lembaran pengetahuan baru dalam alam semesta ini yang menunggu disibak.

Wahai kaum islam, kristen dan yahudi, untuk apa terilusi dengan tanah Yerusalem yang tandus, dan situs-situs keagamaan berselubung mitos yang kita sudah tahu bahwa tidak ada kebenaran mutlak di sana? Untuk apa kita mempertaruhkan masa depan manusia demi mitos?

Dalam benak pemeluk 3 agama ini, mereka percaya nubuatan/ramalan akhir zaman, yaitu peperangan besar-besaran yang memperebutkan Yerusalem. Padahal setelah kita tahu bahwa tidak ada sesuatu entitas di atas sana yang memberikan pengetahuan masa depan. Karena semua pengetahuan itu didapatkan oleh manusia sendiri, maka nubuatan itu adalah self fullfiled prophecy atau nubuatan yang dibuat sendiri, dipercayai dengan buta oleh sendiri dan dijadikan nyata oleh sendiri. Ironisnya hampir 56% atau  hampir 4  milyar manusia di dunia ini  harus terseret-seret secara iman dan kultur dalam mitos2 ini. Buat saya itulah malari – malapetaka yang dicari-cari sendiri.

Tidak ada pusat alam semesta, jadi tidak ada titik episentrum rohani dalam dunia ini, entah di Yerusalem, Mekkah, Benares, Gangga, Vatikan, atau Himalaya.

Tidak ada puncak pewahyuan dalam bentuk kitab atau sesosok nabi terakhir atau sesosok juru selamat manusia.  Semua itu hanya interpretasi sekelompok orang yang dijadikan iman mereka sendiri dan dipaksakan untuk diyakini umat manusia di segala tempat dan disegala jaman. 

Bagi kita yang memahami ini, apa masih mau kita dijajah oleh mitos-mitos tersebut?

Pada saat anak2 bangsa di negeri ini terikat dengan mitos-mitos dalam kitab ‘suci’, ingin mendirikan kilafah, ingin menggoalkan undang-undang syariah, berlomba-lomba mendirikan islamic center, serambi medinah  atau megachurch , justru para saintis di negeri-negeri barat mencari cara memelihara keberlangsungan kehidupan bumi dan ras manusia. Oh betapa konyol dan inferiornya kenaifan agama, tapi pongahnya duh gak  ketulungan.

Lihatlah alam semesta yang luas untuk dijelajahi. Mengapa memperebutkan kebodohan hanya demi mitos yang terbukti hanya bikinan manusia masa lalu saja?

Kapan kita akan bertanggung jawab untuk hari esok, apabila dalam benak kita masih digelayuti hantu2 irrasionalitas dan emosionalitas dalam berkeyakinan?

Ingat bahwa spiritualitas sebenar-benarnya tidak memaksudkan manusia melihat apa yang ada di seberang sana – di alam sesudah kematian, namun mencari makna terdalam dari kehadiran kita kini dan di sini, dalam ruang dan waktu ini, dalam kehidupan yang hanya sekali saja.

Spiritualitas sejati bukan tentang romantisme psikologis tentang kebenaran agama2 tertentu, bukan pula suatu bentuk pelarian kekanak-kanakan dari penderitaan hidup. Bukan pula tentang kesaksian pengalaman Out Of Body Experience, yang bisa saja hanyalah katarsis dari si pikiran.

Spiritualitas sejati adalah perjalanan rohani dan intelektualitas dalam memaknai hidup ini, kini dan di sini, yang menyadarkan akan keterhubungan kita dengan sesama, dengan alam, dengan kehidupan, dengan misteri dari kesegalaan ini.

Silahkan membuka page ini dan rasakan lagu Conquest of Paradise sebagai perjalanan evolusi kesadaran dan pengetahuan manusia di hamparan semesta yang tak terbatas.


Selasa, 15 Februari 2011

Kronika Kronis Anakronisme Anarkis

Sekedar ingin berbagi tulisan seorang online buddy di lapak sebelah. Betapa telah terjadi kesalahkaprahan tentang pemahaman kata ANARKIS. :) Untuk postingan yang asli, klik saja tautan di atas.

Pak Beye,

Membicarakan Anarkisme tak sesederhana mengolah dan menikmati mi instan, namun begitu janganlah enggan mempelajarinya apabila Anda merasa turut berkepentingan membawa kronika Anarkisme ke tengah masyarakat. Setidak(-tidak)nya, bukalah Wikipedia dan rajin-rajinlah merunut labirinnya hingga kenal para bijak penggagas Anarkisme dan jalan anarki di dalamnya. Ini demi Anda agar tak ditertawai dunia tatkala tanpa angin dan badai menghendaki pembubaran organisasi massa yang bersikap anarkis (Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rabu 9 Pebruari 2011). Sebab sekali lagi pak, Anarkisme bukanlah ideologi semacam mi instan rasa kepalsuan.

Demikian surat terbuka saya kepada Anda, semoga cukup mampu mengajak Anda kembali mempelajari ilmu-ilmu sosial dan filsafat. Namun saya menyilakan Anda apabila ingin terus membaca tulisan ini. Oh ya pak, saya menulis ini dengan semangat Anarkisme dan diiringi lagu valentine berirama punk. Semoga suka.

Anarkisme

Pengertian paling sederhana dari Anarkisme adalah sebuah paham anti pemerintahan, namun awam cenderung berhenti di sini, dan atau melanjutkan pemahaman mereka pada salah satu pilihan gerakan anarki yang menyatakan perjuangan dengan jalan kekerasan, perusakan, dan pembunuhan. Sebagaimana yang disampaikan Buenaventura Durruti Dumange (1896 - 1936), seorang tokoh utama dalam gerakan Anarkisme di Spanyol;

"Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan".

Namun begitu, sesungguhnya Durruti hanya mengarahkan jalan kekerasan tersebut kepada negara dan Kapitalisme. Di beberapa bagian saya dapat menyepakati pemikiran Durruti dan memahami pilihan kekerasannya. Bukankah di sisi lain isu anti kekerasan juga dimanfaatkan penguasa untuk membatasi gerak para aktivis agar tak merusak hak milik mereka? Dipakai untuk memukul balik atas nama menjaga stabilitas? Dan memberi jarak aman antara penguasa dan yang dikuasai? Bagi saya kekerasan - ataupun penghujatan - yang ditujukan kepada kelompok yang lebih berkuasa adalah sikap perlawanan atau setidaknya upaya pembelaan, sedang kekerasan dan pelecehan penguasa kepada kaum lemah adalah bentuk sikap fasis. Kekerasan menemu nilai jihadnya ketika diarahkan untuk melawan penjajah Belanda oleh pejuang kemerdekaan, namun menemu nilai jahatnya ketika diarahkan untuk membunuh para Ahmadi oleh kaum Islam garis kekerasan. Kekerasan pejuang kemerdekaan adalah kekerasan yang diijinkan Anarkisme, sedang kuasa kekerasan kaum fundamentalis Islam kepada pihak yang lemah dalam kasus Ahmadiyah ditolak karena amat fasistik. Musuh utama Anarkisme adalah Fasisme, karenanya amatlah lucu - untuk tak menyebut "Dungu", membubarkan organisasi anarki karena perbuatan yang dilakukan oleh kaum fasis.

Anarkisme Durruti sejatinya bukan berarti melulu kesalahan, namun kekerasan kekerasan tetaplah bukan isu eksklusif bagi sebagian besar penganut Anarkisme dan berbagai variannya. Coba simak apa yang ditulis Alexander Berkman (1870 - 1936), seorang pemikir Anarkisme ternama asal Rusia;

"Anarkisme berarti bahwa Anda harus bebas. Bahwa tidak ada seorangpun boleh memperbudak Anda, menjadi majikan Anda, merampok Anda, ataupun memaksa Anda. Itu berarti bahwa Anda harus bebas untuk melakukan apa yang Anda mau, memiliki kesempatan untuk memilih jenis kehidupan yang Anda mau serta hidup di dalamnya tanpa ada yang mengganggu, memiliki persamaan hak, serta hidup dalam perdamaian dan harmoni seperti saudara. Berarti tidak boleh ada perang, kekerasan, monopoli, kemiskinan, penindasan, serta menikmati kesempatan hidup bersama-sama dalam kesetaraan"

Anakronisme

Tapi isu kebebasan, kebersamaan, dan kesetaraan dalam Anarkisme seperti ini tak mampu mengalahkan pamor kekerasan Anarkisme Durruti. Kata kunci 'Kekerasan' Durruti akhirnya menjadi bumerang dengan tenaga tambahan dari kaum kapitalis untuk menyerang Anarkisme. Sehingga wajah anarki dibuat luka menjelma seolah monster berbahaya bagi peradaban.

Wajah asli Anarkisme yang damai tiba-tiba sirna oleh anakronisme. Anakronisme adalah pemelintiran makna dan Anarkisme telah dipelintir 180 derajad. Ajaran Anarkisme Damai Pierre-Joseph Proudhon (1809 - 1865), seperti tak pernah ada, anjuran Mikhail Bakunin (1814 - 1876) atas penolakan eksploitasi seolah tak terdengar, gagasan akan kebebasan kemanusiaan dari Prince Peter Kropotkin (1842 - 1921) seakan sirna, pemikiran kesetaraan gender dari Emma Goldman (1869 - 1940) terabaikan, juga gerakan perlawanan melalui media oleh Errico Malatesta (1853 - 1932) terkalahkan oleh kisah kekerasan lapangannya, dan seterusnya. Anarkisme bukam sekadar hantu yang bergentayangan di langit Eropa, tapi mahluk luka yang merangsek ke segala penjuru dunia. Anarkisme adalah Zombie yang tak henti disambit dengan anakronisasi para musuh ideologisnya.

Di Indonesia Anarkisme disambut dengan baik karena memiliki banyak kesamaan dengan filosofi dan tradisi Nusantara.  Sebutlah misalnya moto 'Do It Yourself (DIY)' kaum anarki untuk menolak bantuan penguasa sejalan dengan semangat 'Swadesi' juga 'Berdiri Di Atas Kaki Sendiri (Berdikari)', bentuk perlawanan 'Disobey' atau pembangkangan dapat disetarakan dengan aksi menolak bayar pajak oleh Kaum Samin pimpinan Suro Sentiko, semangat 'Kolektivo' tentu dapat disejajarkan dengan tradisi 'Gotong-royong', paham anarki dalam menjauhi teknologi perusak kemanusiaan yang penolakannya sudah lama dipraktikkan oleh Suku Badui, jalan damai anarki pun menemui padanan dengan 'Ahimsa', dan seterusnya. Maka tak pelak seorang Sukarno amat menyukai dan banyak terinspirasi semangat ini. Bersama tulisannya di Harian Pikiran Rakyat pada tahun 1923, Sukarno menyambut Anarkisme.

Namun bersama kekuasaannya, Orde Baru (Orba) menyambit Anarkisme. Sangat bisa dimaklumi karena Anarkisme adalah sistem sosial di wilayah kiri yang tegas berhadapan dengan tiga unsur utama pembangun Orba; Kapitalisme, Fasisme, dan Feodalisme. Tapi memang bagaimanapun ideologi tak pernah mati, terlebih ideologi yang tercipta dari semangat muda. Bara pembakar semangatnya bisa dari apa saja; musik, fesyen, bahasa, olah raga, seni rupa, dan seterusnya. Iming-iming bidadari surga tak ada dalam kamus bara bakar semangat mereka. Komunitas anarki ada di mana-mana di Nusantara. Saya membayangkan sebuah Anarchonesia.

Sampai waktunya tiba, revolusi ada di depan pintu istana dan mengetuknya dengan cinta.

Jumat, 08 Oktober 2010

Merenungkan Sejarah Alquran

MERENUNGKAN SERAJAH ALQURAN
Oleh Luthfi Assyaukani

Pengkajian sejarah Alquran bukan hanya dimaksudkan untuk mengungkap dimensi-dimensi tersembunyi yang selama ini tak terpikirkan oleh umat Islam, tapi juga merupakan modal intelektual untuk memahami kitab suci yang hingga hari ini terus menjadi sumber inspirasi hukum dan moral kaum Muslim. Saya ingin berangkat dari sebuah pijakan bahwa kajian ilmiah tidaklah merusak akidah. Kajian ilmiah juga tidak bertentangan dengan semangat dasar Islam yang mendukung kebenaran dan menjunjung tinggi kebebasan.
Sebagian besar kaum Muslim meyakini bahwa Alquran dari halaman pertama hingga terakhir merupakan kata-kata Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatim, baik kata-katanya (lafdhan) maupun maknanya (ma' nan). Kaum Muslim juga meyakini bahwa Alquran yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam.

Keyakinan semacam itu sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam. Hakikat dan sejarah penulisan Alquran sendiri sesungguhnya penuh dengan berbagai nuansa yang delicate (rumit), dan tidak sunyi dari perdebatan, pertentangan, intrik, dan rekayasa.

Alquran dalam bentuknya yang kita kenal sekarang sebetulnya adalah sebuah inovasi yang usianya tak lebih dari 79 tahun. Usia: ini didasarkan pada upaya pertama kali kitab suci ini dicetak denga percetakan modern dan menggunakan standar Edisi Mesir pada tahun 1924. Sebelum itu, Alquran ditulis dalam beragam bentuk tulisan tangan (rasm) dengan teknik penandaan bacaan (diacritical marks) dan otografi yang bervariasi.

Hadirnya mesin cetak dan teknik penandaan bukan saja membuat Alquran menjadi lebih mudah dibaca dan dipelajari, tapi juga telah membakukan beragam versi Alquran yang sebelumnya beredar menjadi satu standar bacaan resmi seperti yang kita kenal sekarang.

Pencetakan Edisi Mesir itu bukanlah yang pertamakali dalam upaya standarisasi versi-versi Alquran. Sebelumnya, para khalifah dan penguasa Muslim juga turun-tangan melakukan hal yang sama, kerap didorong oleh keinginan untuk menyelesaikan konflik-konflik bacaan yang muncul akibat beragamanya versi Alquran yang beredar.

Tapi pencetakan tahun 1924 itu adalah ikhtiyar yang luar biasa, karena upaya ini merupakan yang paling berhasil dalam sejarah kodifikasi dan pembakuan Alquran sepanjang masa. Terbukti kemudian, Alquran Edisi Mesir itu merupakan versi Alquran yang paling banyak beredar dan digunakan oleh kaum Muslim.

Keberhasilan penyebarluasan Alquran Edisi Mesir tak terlepas dari unsur kekuasaan. Seperti juga pada masa-masa sebelumnya, kodifikasi dan standarisasi Alquran adalah karya institusi yang didukung oleh --dan menjadi bagian dari proyek-- penguasa politik. Alasannya sederhana, sebagai proyek amal (non-profit), publikasi dan penyebaran Alquran tak akan efektif jika tidak didukung oleh lembaga yang memiliki dana yang besar.

Apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia mencetak ratusan ribu kopi Alquran sejak tahun 1970-an merupakan bagian dari proyek amal yang sekaligus juga merupakan upaya penyuksesan standarisasi kitab suci. Kendati tidak seperti Uthman bin Affan yang secara terang-terangan memerintahkan membakar seluruh versi (mushaf) Alquran yang bukan miliknya (kendati tidak benar-benar berhasil), tindakan penguasa Saudi membanjiri pasar Alquran hanya dengan satu edisi, menutupi dan perlahan-lahan menyisihkan edisi lain yang diam-diam masih beredar (khususnya di wilayah Maroko dan sekitarnya).

Agaknya, tak lama lagi, di dunia ini hanya ada satu versi Alquran, yakni versi yang kita kenal sekarang ini. Dan jika ini benar-benar terwujud (entah kapan), maka itulah pertama kali kaum Muslim (baru) boleh mendeklarasikan bahwa mereka memiliki satu Alquran yang utuh dan seragam.

Edisi Mesir adalah salah satu dari ratusan versi bacaan Alquran (qiraat) yang beredar sepanjang sejarah perkembangan kitab suci ini. Edisi itu sendiri merupakan satu versi dari tiga versi bacaan yang bertahan hingga zaman modern. Yakni masing-masing, versi Warsh dari Nafi yang banyak beredar di Madinah, versi Hafs dari Asim yang banyak beredar di Kufah, dan versi al-Duri dari Abu Amr yang banyak beredar di Basrah.Edisi Mesir adalah edisi yang menggunakan versi Hafs dari Asim.

Versi bacaan (qiraat) adalah satu jenis pembacaan Alquran. Versi ini muncul pada awal-awal sejarah Islam (abad pertama hingga ketiga) akibat dari beragamnya cara membaca dan memahami mushaf yang beredar pada masa itu. Mushaf adalah istilah lain dari Alquran, yakni himpunan atau kumpulan ayat-ayat Allah yang ditulis dan dibukukan.

Sebelum Uthman bin Affan (w. 35 H), khalifah ketiga, memerintahkan satu standarisasi Alquran yang kemudian dikenal dengan "Mushaf Uthmani," pada masa itu telah beredar puluhan --kalau buka ratusan-- mushaf yang dinisbatkan kepada para sahabat Nabi. Beberapa sahabat Nabi memiliki mushafnya sendiri-sendiri yang berbeda satu sama lain, baik dalam hal bacaan, susunan ayat dan surah, maupun jumlah ayat dan surah.

Ibn Mas'ud, seorang sahabat dekat Nabi, misalnya, memiliki mushaf Alquran yang tidak menyertakan surah al-Fatihah (surah pertama). Bahkan menurut Ibn Nadiem (w. 380 H), pengarang kitab al-Fihrist, mushaf Ibn Mas'ud tidak menyertakan surah 113 dan 114. Susunan surahnyapun berbeda dari Alquran yang ada sekarang. Misalnya, surah keenam bukanlah surah al-An'am, tapi surahYunus.

Ibn Mas'ud bukanlah seorang diri yang tidak menyertakan al-Fatihah sebagai bagian dari Alqur'an. Sahabat lain yang menganggap surah "penting" itu bukan bagian dari Alquran adalah Ali bin Abi Thalib yang juga tidak memasukkan surah 13, 34, 66, dan 96. Hal ini memancing perdebatan di kalangan para ulama apakah al-Fatihah merupakan bagian dari Alquran atau ia hanya merupakan "kata pengantar" saja yang esensinya bukanlah bagian dari kitab suci.

Salah seorang ulama besar yang menganggap al-Fatihah bukan sebagai bagian dari Alquran adalah Abu Bakr al-Asamm (w. 313 H). Dia dan ulama lainnya yang mendukung pandangan ini berargumen bahwa al-Fatihah hanyalah "ungkapan liturgis" untuk memulai bacaan Alqur'an. Ini merupakan tradisi popular masyarakat Mediterania pada masa awal-awal Islam.

Sebuah hadis Nabi mendukung fakta ini: "siapa saja yang tidak memulai sesuatu dengan bacaan alhamdulillah [dalam hadis lain bismillah] maka pekerjaannya menjadi sia-sia."

Perbedaan antara mushaf Uthman dengan mushaf-mushaf lainnya bisa dilihat dari komplain Aisyah, isteri Nabi, yang dikutip oleh Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitabnya, al-Itqan, dalam kata-kata berikut: "pada masa Nabi, surah al-Ahzab berjumlah 200 ayat. Setelah Uthman melakukan kodifikasi, jumlahnya menjadi seperti sekarang [yakni 73 ayat]." Pandangan Aisyah juga didukung oleh Ubay bin Ka'b, sahabat Nabi yang lain, yang didalam mushafnya ada dua surah yang tak dijumpai dalam mushaf Uthman, yakni surah al-Khal' dan al-Hafd.

Setelah Uthman melakukan kodifikasi dan standarisasi, ia memerintahkan agar seluruh mushaf kecuali mushafnya (Mushaf Uthmani) dibakar dan dimusnahkan.

Sebagian besar mushaf yang ada memang berhasil dimusnahkan, tapi sebagian lainnya selamat. Salah satunya, seperti kerap dirujuk buku-buku 'ulum al-Qur'an, adalah mushaf Hafsah, salah seorang isteri Nabi, yang baru dimusnahkan pada masa pemerintahan Marwan ibn Hakam (w. 65 H) beberapa puluh tahun kemudian.

Sebetulnya, kendati mushaf-mushaf para sahabat itu secara fisik dibakar dan dimusnahkan, keberadaannya tidak bisa dimusnahkan dari memori mereka atau para pengikut mereka, karena Alquran pada saat itu lebih banyak dihafal ketimbang dibaca. Inilah yang menjelaskan maraknya versi bacaan yang beredar pasca-kodifikasi Uthman. Buku-buku tentang varian-varian bacaan (kitab al-masahif) yang muncul pada awal-awal abad kedua dan ketiga hijriah, adalah bukti tak terbantahkan dari masih beredarnya mushaf-mushaf klasik itu.

Dari karya mereka inilah, mushaf-mushaf sahabat yang sudah dimusnahkan hidup kembali dalam bentuk fisik (teks tertulis).

Sejarah penulisan Alqur'an mencatat nama-nama Ibn Amir (w. 118 H), al-Kisai (w. 189 H), al-Baghdadi (w. 207 H); Ibn Hisyam (w. 229 H), Abi Hatim (w. 248 H), al-Asfahani (w. 253 H) dan Ibn Abi Daud (w. 316 H) sebagai pengarang-pengarang yang menghidupkan mushaf-mushaf klasik dalam karya masahif mereka (umumnya diberijudul kitab al-masahif atau ikhtilaf al-masahif). Ibn Abi Daud berhasil mengumpulkan 10 mushaf sahabat Nabi dan 11 mushaf para pengikut (tabi'in) sahabat Nabi.

Munculnya kembali mushaf-mushaf itu juga didorong oleh kenyataan bahwa mushaf Uthman yang disebarluaskan ke berbagai kota Islam tidak sepenuhnya lengkap dengan tanda baca, sehingga bagi orang yang tidak pernah mendengar bunyi sebuah kata dalam Alquran, dia harus merujuk kepada otoritas yang bisa melafalkannya. Dan tidak sedikit dari pemegang otoritas itu adalah para pewaris varian bacaan non-Uthmani.

Otoritas bacaan bukanlah satu-satunya sumber yang menyebabkan banyaknya varian bacaan. Jika otoritas tidak dijumpai, kaum Muslim pada saat itu umumnya melakukan pilihan sendiri berdasarkan kaedah bahasa dan kecenderungan pemahamannya terhadap makna sebuah teks. Dari sinilah kemudian muncul beragam bacaan yang berbeda akibat absennya titik dan harakat (scripta defectiva). Misalnya bentuk present (mudhari') dari kata a-l-m bisa dibaca yu'allimu, tu'allimu, atau nu'allimu atau juga menjadi na'lamu, ta' lamu atau bi'ilmi.

Yang lebih musykil adalah perbedaan kosakata akibat pemahaman makna, dan bukan hanya persoalan absennya titik dan harakat. Misalnya, mushaf Ibn Mas'ud berulangkali menggunakan kata "arsyidna" ketimbang "ihdina" (keduanya berarti "tunjuki kami") yang biasa didapati dalam mushaf Uthmani. Begitu juga, "man" sebagai ganti "alladhi" (keduanya berarti "siapa"). Daftar ini bisa diperpanjang dengan kata da arti yang berbeda, seperti "al-talaq" menjadi "al-sarah" (Ibn Abbas), "fas'au" menjadi "famdhu" (Ibn Mas'ud), "linuhyiya" menjadi "linunsyira" (Talhah), dan sebagainya.

Untuk mengatasi varian-varian bacaan yang semakin liar, pada tahun 322 H, Khalifah Abbasiyah lewat dua orang menterinya Ibn Isa dan Ibn Muqlah, memerintahkan Ibn Mujahid (w. 324 H) melakukan penertiban. Setelah membanding-bandingkan semua mushaf yang ada di tangannya, Ibn Mujahid memilih tujuh varian bacaan dari para qurra ternama, yakni Nafi (Madinah), Ibn Kathir (Mekah), Ibn Amir (Syam), Abu Amr (Bashrah), Asim, Hamzah, dan Kisai (ketiganya dari Kufah). Tindakannya ini berdasarkan hadis Nabi yang mengatakan bahwa "Alquran diturunkan dalam tujuh huruf."

Tapi, sebagian ulama menolak pilihan Ibn Mujahid dan menganggapnya telah semena-mena mengesampingkan varian-varian lain yang dianggap lebih sahih. Nuansa politik dan persaingan antara ulama pada saat itu memang sangat kental. Ini tercermin seperti dalam kasus Ibn Miqsam dan Ibn Shanabudh yang pandangan-pandangannya dikesampingkan Ibn Mujahid karena adanya rivalitas di antara mereka, khususnya antara Ibn Mujahid dan Ibn Shanabudh.

Bagaimanapun, reaksi ulama tidak banyak punya pengaruh. Sejarah membuktikan pandangan Ibn Mujahid yang didukung penguasa itulah yang kini diterima orang banyak (atau dengan sedikit modifikasi menjadi 10 atau 14 varian). Alquran yang ada di tangan kita sekarang adalah salah satu varian dari apa yang dipilihkan oleh Mujahid lewat tangan kekuasaan. Yakni varian bacaan Asim lewat Hafs. Sementara itu, varian-varian lain, tak tentu nasibnya. Jika beruntung, ia dapat dijumpai dalam buku-buku studi Alquran yang sirkulasi dan pengaruhnya sangat terbatas.

***

Apa yang bisa dipetik dari perkembangan sejarah Alquran yang saya paparkan secara singkat di atas? Para ulama, khususnya yang konservatif, merasa khawatir jika fakta sejarah semacam itu dibiarkan diketahui secara bebas.

Mereka bahkan berusaha menutup-nutupi dan mengaburkan sejarah, atau dengan memberikan apologi-apologi yang sebetulnya tidak menyelesaikan masalah, tapi justru membuat permasalahan baru. Misalnya, dengan menafsirkan hadis Nabi "Alquran diturunkan dalam tujuh huruf" dengan cara menafsirkan "huruf" sebagai bahasa, dialek, bacaan, prononsiasi, dan seterusnya yang ujung-ujungnya tidak menjelaskan apa-apa.

Saya sependapat dengan beberapa sarjana Muslim modern yang mengatakan bahwa kemungkinan besar hadis itu adalah rekayasa para ulama belakangan untuk menjelaskan rumitnya varian-varian dalam Alquran yang beredar. Tapi, alih-alih menjelaskan, ia malah justru mengaburkan.

Mengaburkan karena jumlah huruf (bahasa, dialek, bacaan, prononsiasi), lebih dari tujuh. Kalau dikatakan bahwa angka tujuh hanyalah simbol saja untuk menunjukkan "banyak," ini lebih parah lagi, karena menyangkut kredibilitas Tuhan dalam menyampaikan ayat-ayatnya.

Apakah kita mau mengatakan bahwa setiap varian bacaan, baik yang berbeda kosakata dan pengucapan (akibat dari jenis penulisan dan tatabahasa) merupakan kata-kata Tuhan secara verbatim (apa adanya)? Jika tidak terkesan rewel dan simplistis, pandangan ini jelas tak bertanggungjawab, karena ia mengabaikan fakta kaum Muslim pada awal-awal sejarah Islam yang sangat dinamis.

Lalu, bagaimana dengan keyakinan bahwa Alquran dari surah al-Fatihah hingga al-Nas adalah kalamullah (kata-kata Allah) yang diturunkan kepada Nabi baik kata dan maknanya (lafdhan wa ma'nan)? Seperti saya katakan di atas, keyakinan semacam ini hanyalah formula teologis yang diciptakan oleh para ulama belakangan. Ia merupakan bagian dari proses panjang pembentukan ortodoksi Islam.

Saya cenderung meyakini bahwa Alquran pada dasarnya adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi tapi kemudian mengalami berbagai proses "copy-editing" oleh para sahabat, tabi'in, ahli bacaan, qurra, otografi, mesin cetak, dan kekuasaan. Proses-proses ini pada dasarnya adalah manusiawi belaka dan merupakan bagian dari ikhtiyar kaum Muslim untuk menyikapi khazanah spiritual yang mereka miliki.

Saya kira, varian-varian dan perbedaan bacaan yang sangat marak pada masa-masa awal Islam lebih tepat dimaknai sebagai upaya kaum Muslim untuk membebaskan makna dari kungkungan kata, ketimbang mengatribusikannya secara simplistis kepada Tuhan. Seperti dikatakan seorang filsuf kontemporer Perancis, teks --dan apalagi teks-teks suci—selalu bersifat "repressive, violent, and authoritarian." Satu-satunya cara menyelamatkannya adalah dengan membebaskannya.

Generasi awal-awal Islam telah melakukan pembebasan itu, dengan menciptakan varian-varian bacaan yang sangat kreatif. Jika ada pelajaran yang bias diambil dari sejarah pembentukan Alquran, saya kira, semangat pembebasan terhadap teks itulah yang patut ditiru, tentu saja dengan melakukan kreatifitas-kreatifitas baru dalam bentuk yang lain.

aslinya di: Merenungkan Sejarah Alquran
Luthfi Assyaukanie. Dosen Sejarah Pemikiran Islam di Universitas Paramadina, Jakarta, dan Editor Jaringan Islam Liberal.



Tentang Quran, Konsep Kelengkapan, dan Superioritas Budaya

 Tentang Quran, Konsep Kelengkapan, dan Superioritas Budaya
Oleh: Ulil Abshar Abdalla

ISLAM adalah agama yang bisa kita kategorikan sebagai “agama berkitab suci” (scriptured religion). Semula kitab suci ini bersifat oral atau teks lisan yang tidak dituangkan dalam bentuk tulisan, tetapi pada perkembangan belakangan kitab suci itu “diresmikan” dalam bentuk dokumen tertulis. Apa yang disebut dengan “kitab suci” umumnya adalah teks tertulis, dan karena itulah dalam bahasa Inggris disebut sebagai “scripture” atau tulisan.

Dalam Islam, kitab suci utama, sebagaimana kita tahu semua, adalah Quran, istilah Arab yang secara harafiah artinya adalah “bacaan. Di samping Quran, ada kitab suci lain yang keududukannya bisa disebut sebagai tafsir atau penjelasan atas Quran, dan disebut hadis atau sunnah. Hadis adalah istilah Arab yang secara harafiah artinya adalah “omongan” atau “ujaran”. Sementara “sunnah” artinya tindakan yang dibiasakan sehingga menjadi suatu tradisi. Baik hadis atau sunnah adalah ujaran, tindakan atau penetapan (taqrir, confirmation) yang berasal dari Nabi Muhammad.

Kalau mau, kita bisa menyebut Quran sebagai Kitab Suci Perdana (primary Scripture), sementara Hadis atau Sunnah adalah Kitab Suci Kedua. Sebagai teks, jelas hadis lebih banyak jumlahnya ketimbang Quran. Dari segi isi dan tema, hadis memiliki cakupan pembahasan yang jauh lebih luas ketimbang Quran. Oleh karena itu, penggambaran bahwa hadis atau sunnah semata-mata sebagai “penjelas teks Quran” sebetulnya tidak tepat. Hadis dan sunnah tidak sekedar menjelaskan Quran. Dalam banyak hal, hadis juga membuka tema baru yang sama sekali tidak ada dalam Quran.

Contoh yang sederhana, dalam Quran tidak kita temukan pembahasan tentang jenis-jenis kegiatan manusia dalam perdagangan atau sejenisnya. Yang kita baca dalam Quran hanyalah penegasan umum yang tertuang dalam sebuah ayat yang terkenal, “wa ahallal-Lahu al-bai’a wa harrama al-riba”, Tuhan membolehkan perdagangan, dan mengharamkan riba. Dalam Quran tidak disebutkan sejumlah transaksi-transaksi lain yang kita kenal melalui hadis dan kemudian dikembangkan lebih lanjut dalam disiplin pengetahuan yang disebut fiqh atau hukum Islam. Transaksi itu misalnya: syirkah (kongsi dagang), mudarabah (permodalan), musaqah/muzara’ah (penggarapan tanah), salm (biasa diterjemahkan sekarang sebagai “future trading”), hawalah (penjualan surat hutang), dsb.

Itu hanya contoh-contoh transaksi yang disebutkan dalam hadis tetapi tidak kita temukan dalam Quran. Contoh-contoh itu saya pakai untuk menunjukkan bahwa hadis atau sunnah tidak semata-mata menjelaskan Quran, tetapi juga membawa tema baru yang tidak disebutkan di sana. Cakupan hadis lebih luas ketimbang Quran.

BAIK Quran dan sunnah bisa dikategorikan sebagai “foundational text”, teks dasar yang menjadi fondasi Islam. Karena kehidupan umat Islam terus berkembang, dan isu-isu baru yang dihadapi oleh mereka juga terus bermunculan, sementara itu tidak semua hal dan isu ada jawabannya dalam Quran dan sunnah, maka dibutuhkan “teks baru”. Teks itu, untuk mudahnya, kita sebut saja sebagai “interpretational text”, teks-teks tafsiran yang tentu didasarkan pada kedua teks fondasi di atas. Ribuan teks diproduksi atau ditulis oleh ulama, sarjana, dan intelektual Muslim sejak abad pertama Hijriyah hingga sekarang. Selama umat Islam ada, kegiatan untuk memproduksi teks-teks tafsiran ini tak akan berhenti.

Tafsir Quran, misalnya, ditulis oleh sarjana Islam sejak dahulu hingga sekarang, dalam berbagai bahasa, dan dengan berbagai ragam pendekatakan. Imam Ghazali, salah satu sarjana besar Islam dari abad ke-12 Masehi, menganalogikan Quran dengan samudera luas yang tak pernah kering. Analogi ini, sebetulnya, bisa kita pakai pula untuk kitab-kitab suci agama lain. Semua kitab suci dalam agama-agama manapun adalah seperti samudera luas yang tak bertepi. Dalam setiap agama, kitab suci selalu menjadi sumber inspirasi dan tafsiran yang tak kering-keringnya. Dalam agama Yahudi atau Kristen, teks-teks tafsiran atas kitab suci kedua agama itu terus diproduksi hingga sekarang. Dalam setiap agama, kitab suci selalu menjadi “foundational text”, teks dasar yang kemudian melahirkan sejumlah “interpretational text” yang jumlahnya terus berkembang, nyaris tanpa henti. Selama agama bersangkutan masih menjadi “a living religion” atau agama yang hidup, bukan “dead religion” (agama yang sudah mati), maka kegiatan memproduksi teks-teks tafsiran itu tak akan pernah berhenti.

Jika kegiatan penafsiran dalam suatu agama yang kemudian dituangkan dalam “interpretational text” itu terus berjalan, maka itu pertanda bahwa agama bersangkutan masih merupakan agama yang hidup dan aktif. Begitu kegiatan penafsiran berhenti, atau malah dihalang-halangi karena dikhawatirkan akan melahirkan pandangan-pandangan baru yang “menyimpang”, maka itu pertanda adanya perkembangan yang tak sehat dalam agama bersangkutan.

SALAH satu gagasan yang populer di kalangan umat Islam adalah konsep tentang Quran sebagai kitab suci yang lengkap dan sempurna . Konsep “kesempurnaan/kelengkapan” ini menjadi kian penting pada saat umat Islam merasakan adanya semacam “ancaman peradaban” yang datang dari luar saat ini. Kalau kita telaah tradisi penafsiran Quran pada periode klasik (yaitu antara abad ke-8 hingga ke-12 Masehi, periode di mana kegiatan intelektual dalam dunia Islam mencapai puncak kreativitasnya), sebetulnya konsep “kelengkapan/kesempurnaan” itu tidak terlalu mendapatkan perhatian yang khusus. Saat itu, sebagai sebuah peradaban, Islam sedang naik daun dan kemudian mencapai titik apek tertinggi. Karena sebagai peradaban Islam berada pada posisi yang dominan, maka konsep kelengkapan dan kesempurnaan tidak terlau ditonjol-tonjolkan oleh sarjana Islam ketika itu. Sebagai peradaban, Islam memang sudah unggul, jadi, kenapa pula mesti dikatakan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, dan Quran adalah kitab yang lengkap?

Abad ke-20 menyaksikan perkembangan yang lain sama sekali. Umat Islam mundur dalam semua lapangan kehidupan. Sebagai peradaban, dunia Islam kalah jauh di banding dengan peradaban Barat. Dengan kata lain, sebagai peradaban, Islam disalip oleh peradaban lain. Bahkan, belakangan, ada perasaan bahwa umat Islam berada dalam ancaman dari luar. Sebuah buku yang ditulis oleh seorang cendekiawan Muslim Mesir, Dr. Muhammad Husain Mu’nis, menyandang judul seperti ini, Hushununa Muhaddah Min Dakhiliha (Benteng Kita Terancam Dari Dalam). Pada periode sebelum revolusi Iran pecah pada 1979 dulu, salah satu istilah yang populer adalah “gharb zadegi” atau “west-toxification” atau keracunan kebudayaan Barat. Di kalangan umat Islam revivalis (contoh yang bagus adalah PKS atau golongan tarbiyah), ada istilah populer, yaitu “al-ghazw al-fikri” atau serbuan pemikiran.

Istilah-istilah itu menandakan satu hal: bahwa dunia Islam merasa diancam oleh suatu “musuh besar” yang datang dari luar. Musuh dari luar itu kemudian “meracuni” pemikiran anak-anak Islam sehingga dalam tubuh umat Islam muncul juga apa yang sering disebut sebagai “musuh-musuh dalam selimut”. Ancaman dari dalam inilah yang dengan baik digambarkan oleh judul buku yang ditulis oleh Dr. Mu’nis di atas. Keadaan ini menciptakan mentalitas-serangan atau “siege mentality” yang ciri-cirinya, antara lain, adalah menguatnya dorongan untuk menegaskan identitas diri. Penegasan identitas terjadi karena adanya dorongan untuk menciptakan semacam “benteng” sebagai perlindungan diri dari serangan luar. Di sinilah, konsep tentang “kesempurnaan dan kelengkapan” Islam dan Quran muncul ke permukaan sebagai sarana simbolik untuk melindungi identitas umat.

Tak ada yang mengherankan dalam proses tersebut. Itu adalah proses yang wajar dalam semua masyarakat umat manusia. Di mana-mana, saat suatu masyarakat terancam, tentu mereka akan membuat “self-defense mechanism,” mekanisme pertahanan-diri. Pertahanan itu bisa bersifat inderawi, misalnya pertahanan militer, tetapi juga bisa simbolik, dalam bentuk pertahanan budaya. Konsep tentang kelengkapan dan kesempurnaan Quran adalah salah satu bentuk “pertahanan budaya” yang dimobilisasi oleh umat Islam untuk menangkal serangan budaya dari luar.

MESKIPUN wajar, ada beberapa akibat negatif dari dari gagasan tentang kelengkapan dan kesempuraan itu. Salah satunya adalah sikap-sikap eksklusivistik atau tertutup terhadap golongan-golongan di luar agama sendiri, bahkan golongan dalam agama yang sama tetapi memiliki pandangan yang berbeda. Kenapa konsep tentang kelengkapan ini kemudian membuahkan sikap ketertutupan? Ini adalah pertanyaan yang menarik untuk ditelusuri lebih jauh. Esai pendek ini jelas tidak memadai untuk menejelaskan gejala kejiwaan semacam itu. Mungkin butuh artikel tersendiri yang panjang dan mendalam untuk menjelaskan kecenderungan tersebut.

Namun, secara umum dan mungkin agak spekulatif, dapat dikatakan bahwa anggapan tentang kelengkapan dan kesempurnaan suatu budaya bisa membawa akibat lain, yaitu rasa superior budaya. Perasaan superior atau unggul bisa menyebabkan seseorang atau golongan tertentu memiliki rasa “cukup diri” (self sufficiency) secara kebudayaan, sehingga tak perlu belajar dari golongan lain. Jika saya atau kami sudah cukup, kenapa mesti mengambil dari yang lain? Dari sanalah, sikap tertutup itu muncul ke permukaan.

Tidak dalam semua kasus tentunya rasa superior membuat seseorang atau golongan tertutup dan eksklusif. Dalam kasus lain, seseorang atau golongan dengan penuh keyakinan membuka diri pada dunia luar justru karena dia merasa unggul dan di atas angin. Ini terjadi pada periode Islam klasik, saat peradaban Islam mencapai titik apek atau puncak. Pada periode itulah, umat Islam dengan tanpa khawatir dan was-was membuka diri pada peradaban lain, menyerapnya, dan mengolahnya kembali menjadi budaya milik sendiri, tanpa merasakan adanya ancaman yang datang dari luar.

Pada zaman di mana umat Islam merasakan ancaman dari luar di segala sektor kehidupan, terutama sektor kebudayaan, perasaan superior itu bukan mendorong keterbukaan, sebaliknya ketertutupan. Ini tercermin dalam hal-hal kecil seperti larangan untuk mengucapkan ucapan selamat hari raya kepada golongan dari agama lain, atau bahkan ketakutan bahkan untuk sekedar mengucapkan “al-salamu ‘alaikum” kepada mereka.

Literatur polemis yang mencoba membuktikan keunggulan Islam dan kesalahan ajaran-ajaran agama lain juga banyak bermunculan akhir-akhir ini. Yang kadang terjadi dalam perjumpaan antara umat Islam dengan umat lain adalah bukan perjumpaan dialogis, tetapi perjumpaan polemis. Yang saya maksud dengan perjumpaan polemis adalah perjumpaan yang hanya ditandai oleh usaha untuk “self-justification” atau menjustifikasi diri sebagai lebih benar dari sistem kepercayaan lain. Dalam konteks inilah kita berhadapan dengan “fenomena Deedat”, yakni fenomena debat Islam-Kristen yang dilakukan oleh seorang polemis kondang dari Afrika Selatan, Ahmad Deedat. Sikap serupa juga muncul dari kalangan di luar Islam, seperti kita saksikan dari sejumlah literatur polemis yang ditulis oleh kalangan Kristen evangelis di Amerika, misalnya.

Pandangan lain yang menurut saya kurang sehat yang muncul dari gagasan tentang kelengkapan/kesempuraan Quran ini adalah gagasan tentang “kemanunggalan tafsir” (uniformity of interpretation). Pandangan ini menganggap bahwa Quran adalah teks yang tembus pandang, transparan, jelas sekali, sehingga maknanya tidak mengandung ambivalensi. Quran dianggap sebagai kitab dengan tafsir tunggal, tidak mengandung kemungkinan banyak tafsir. Jika suatu ayat dikutip dalam sebuah diskusi, maka ayat itu diandaikan akan menghentikan perbedaan dan menyelesaikan masalah sebab tafsirnya satu dan tidak mengandung kemungkinan tafsir lain.

Pandangan semacam ini berbahaya, sebab ujungnya adalah memaksanakan satu tafsir yang diikuti oleh pihak tertentu kepada pihak-pihak lain. Secara historis, gagasan ini juga tidak benar dan tidak terbukti sama sekali, sebab dalam sejarah tafsir kitab suci Islam, tidak pernah kita temui ketunggalan tafsir. Sarjana Islam sejak dahulu mendekati Quran dengan berbagai pendekatan, dan setiap pendekatan membawa tafsir yang berbeda. Pendekatan filsafat terhadap Quran akan membawa tafsir yang berbeda dengan pendekatan mistik, hukum, teologi, atau kesejarahana. Dalam sejarah tafsir Quran, kita mengenal berbagai corak tafsir beragam.

Karena Quran dipandang sebagai teks dengan tafsir yang tunggal, maka kecenderungan lain juga muncul, yaitu menyesatkan tafsir yang dianggap berbeda dari tafsir ortodoks yang telah dianggap baku, pakem, dan mencerminkan satu-satunya kebenaran. Fenomena “menyesatkan” yang akhir-akhir ini sering kita lihat di kalangan umat Islam, menurut saya, akibat lanjutan dari cara gagasan tentang kelengkapan/kesempurnaan Quran itu.

JIKA demikian, apakah gagasan tentang kelengkapan/kesempurnaan itu salah? Jelas tidak. Hanya saja, konsep tentang kelengkapan/kesempurnaan itu harus ditafsir ulang agar tidak menimbulkan sikap-sikap keagamaan yang kurang tepat. Apakah yang dimaksud dengan kelengkapan dan kesempurnaan di sana? Apakah Quran dianggap sebagai kitab suci yang sempurna dalam pengertian memuat segala hal, dan memberikan jawaban atas segala-rupa masalah? Ataukah kelengkapan di sana artinya adalah kelengkapan dalam aspek akidah, etika pokok, dan norma umum?

Dalam pandangan saya, jika konsep kelengkapan Quran dipahami dalam pengertian yang pertama, yaitu Quran memuat segala hal dan menjawab segal hal, jelas tidak benar . Dengan membaca Quran secara sekilas saja, kita akan tahu bahwa banyak hal yang tidak dimuat dalam Quran. Contoh yang sederhana adalah perdebatan soal status rokok: boleh atau tidak, haram, halal, atau makruh (tidak dianjurkan)? Fatwa terakhir yang dikeluarkan oleh Muhammadiyah, salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, menyatakan bahwa merokok adalah haram. Tetapi, di lingkungan Muhammadiyah sendiri, fatwa itu tidak disetujui oleh semua kalangan, apalagi di luar Muhammadiyah.

Kalau kita merujuk kepada Quran, jelas tidak ada jawaban mengenai status rokok. Yang ada hanyalah norma umum yang tertuang dalam sebuah ayat yang populer, “wa la tulqu bi aidikum ila al-tahlukah,” jangan menjerumuskan diri kalian ke dalam tindakan yang membawa kerusakan. Ayat ini hanya memuat norma umum saja, dan tidak bisa langsung dan serta-merta dipahami sebagai deklarasi tentang haramnya merokok. Contoh ini hanya untuk memperlihatkan bahwa Quran tidak memuat semua hal, dan tidak menjawab semua masalah. Oleh karena itu, jika yang dimaksud dengan gagasan kelengkapan Quran adalah bahwa kitab suci itu memuat segala hal, sempurna dalam pengertian yang harafiah, maka jelas anggapan itu tidak benar. Contoh status rokok di atas adalah ilustrasi yang baik.

Kesempurnaan Quran harus dipahami dengan cara lain, yakni kesempurnaan pada aspek akidah dan norma umum. Norma-norma umum inilah yang kemudian dikembangkan lebih jauh oleh para sarjana Islam menjadi norma khusus. Salah satu contoh bagus sebagai ilustrasi adalah ayat yang sering dikutip, yaitu “wa amruhum shura bainahum,” dan urusan mereka dibicarakan secara musyawarah di antara mereka sendiri. Ayat ini hanya mengandung norma umum tentang pujian terhadap tindakan musyawarah. Ayat ini tidak secara khusus mendukung atau menolak, misalnya, konsep demokrasi, terutama demokrasi parlementer. Quran sendiri tidak memuat jawaban yang sifatnya khusus tentang demokrasi. Karena itu, ada banyak perbedaan di kalangan Islam sendiri, apakah demokrasi sesuai dengan ajaran Islam atau tidak. Ada kalangan, jumlahnya sangat sedikit, yang berpandangan bahwa demokrasi tidak Islami. Salah satu yang berpandangan seperti ini adalah pemikir asal Pakistan, Abul Ala al-Maududi. Kalangan aktivis Hizbut Tahrir juga mempunyai pandangan yang serupa.

Tetapi, sebagian besar umat Islam berpandangan bahwa Islam dan demokrasi tidak saling bertentangan, bahkan demokrasi dianggap sebagai perwujudan dari etika musyawarah (syura) yang dengan tegas disebut dalam Quran di atas.

Pemahaman tentang kelengkapan yang kedua ini lebih bersifat terbuka dan juga membuka diri pada perbedaan. Kelengkapan Quran bukan pada aspek norma khusus, tetapi norma umum. Sementara itu, terjemahan norma umum yang terdapat dalam Quran pada situasi kongkrit harus dilakukan sendiri oleh sarjana Muslim. Proses penerjemahan itu disebut dengan ijtihad atau penalaran berdasarkan akal, konteks, dan kerangka etika umum Quran/sunnah, berikut tradisi penalaran/penafsiran yang sudah berkembang sejauh ini dalam Islam. Dalam proses penerjemahan itu, jelas akan terjadi perbedaan di kalangan umat Islam sendiri. Norma umum dalam Quran hanyalah panduan umum saja; terjemahannya dalam situasi yang kongkret tidak serta merta mudah, dan juga tidak serta merta menimbulkan kesatuan pandangan. Dalam contoh rokok dan demokrasi di atas kita melihat bagaimana norma umum dalam Quran dipahami secara berbeda-beda oleh berbagai-bagai kalangan dalam Islam saat mereka harus menjawab suatu kasus atau situasi kongkrit.

Selebihnya, yang harus dibangun adalah etika perbedaan (adab al-ikhtilaf). Karena perbedaan dalam menerjemahkan etika umum Quran tidak terhindarkan, maka tidak selayaknya masing-masing pihak yang berbeda saling “adu” kleim kebenaran, dan menyesatkan pihak lain yang berbeda. Sikap saling-menyesatkan, bahkan lebih jauh lagi meng-kafir-kan, jelas tidak sehat dalam rangka membangun iklim pemikiran-kebudayaan yang dialogis dalam tubuh umat Islam. Etika syura atau musyawarah yang dianjurkan dalam Quran mengajarkan agar perbedaan disikapi secara positif. Terjemahan sikap yang positif terhadap perbedaan adalah “diskursus” atau saling bercakap dan bertukar pikiran dan ujaran. Itulah yang disebut dengan praktek syura atau musyawarah sebagaimana dikehendaki oleh Quran. Sudah tentu, dalam diskursus itu, bisa terjadi proses saling kritik, koreksi, oto-kritik, dan sebagainya.

Inilah tafsiran tentang kelengkapan dan kesempurnaan Quran yang menurut saya lebih sehat, sebab tidak mengandaikan rasa superioritas yang pada akhirnya mengarah kepada sikap tertutup

Senin, 27 September 2010

Agnostik

Dari Agnostik

Oleh Bertrand Russell, 1953.
Diterjemahkan oleh Setya A. Sis, 1999

Apakah orang agnostik itu Atheis?

Tidak. Seorang atheis, seperti halnya penganut Kristiani, mempercayai bahwa ia dapat mengetahui ada atau tidak adanya Tuhan. Penganut Kristiani mengatakan bahwa ia dapat mengetahui Tuhan itu ada; kaum atheis menyatakan bahwa kita dapat mengtahui Tuhan itu tidak ada. Orang agnostik menunda pengambilan keputusan, dengan menyatakan bahwa tidak cukup bukti untuk menegaskan atau menolak adanya Tuhan. Pada saat bersamaan, orang agnostik mungkin mengatakan bahwa eksistensi Tuhan meskipun bukan tidak mungkin, sangat kecil kemungkinan adanya; ia mungkin menyatakan begitu kecil kemungkinan adanya Tuhan, maka Tuhan pada kenyataannya tidak cukup bermakna untuk dipakai sebagai bahan pertimbangan. Dalam hal demikian, Tuhan disingkirkan tak jauh berbeda seperti dalam atheisme. Sikapnya adalah mirip seperti filsuf yang teliti terhadap dewa-dewa Yunani Kuno. Apabila saya disuruh membuktikan bahwa Zeus dan Poseidon dan Hera dan dewa-dewi Olympia lainnya tidak ada, maka saya pasti kebingungan dalam memberikan argumen yang memadai. Orang agnostik akan berpendapat bahwa Tuhan orang Kristiani sama kecil kemungkinan adanya dengan dewa-dewi Olympia; dalam hal demikian, untuk mudahnya ia sama dengan orang atheis.

Oleh karena Anda menolak "hukum Tuhan", otoritas apa yang Anda terima sebagai pedoman hidup?

Orang agnostik tidak menerima "otoritas" apapun sebagai mana halnya yang diterima oleh orang beragama. Dipercayai bahwa orang harus memikirkan sendiri masalah pedoman hidup. Tentu saja, ia akan mengambil keuntungan dari pengalaman orang lain, tetapi harus dipilihnya sendiri orang-orang yang dianggapnya bijak, dan sama sekali tidak akan menganggap bahwa apapun yang dikatakannya tak boleh dibantah. Teramati bahwa apa yang ditentukan oleh "Hukum Tuhan" itu selalu berubah setiap saat. Injil mengatakan bahwa wanita tiak boleh kawin dengan saudara laki-2 dari suami yang telah meninggal, dan bahwa dalam keadaan tertentu wanita harus kawin dengannya. Jika anda kebetulan seorang janda tak beranak dan masih ada ipar yang belum kawin, maka logikanya anda tak boleh menghindari "hukum Tuhan."

Bagaimana Anda mengetahui baik dan buruk? Apakah yang dianggap Dosa oleh orang agnostik?

Orang agnostik tidak begitu pasti sebagaimana yang diyakini penganut Kristiani terhadap apa yang disebut baik dan buruk. Tidak akan diklaim seperti yang diklaim penganut Kristiani di masa lalu bahwa orang yang tak setuju dengan perintah mengenai theologi yang absurd harus menerima hukum mati yang menyakitkan. Hukum mati demikian ditentang, dan lebih hati-hati mengenai tuduhan moral.

Kata "dosa" dianggap bukan sebagai ide yang ada gunannya. Tentu saja diakui bahwa sebagian macam tindakan adalah patut dan sebagian lagi tidak patut, tapi diyakini bahwa hukuman untuk tindakan yang tidak patut hanya diterapkan jika dimaksudkan untuk menghindari atau memperbaiki, bukan karena hukuman itu memang dianggap baik dan dengan pikiran bahwa orang jahat harus menderita. Kepercayaan inilah yang ada dalam hukuman balas dendam sehingga orang menerima idee neraka. Ini adalah bagian merugikan yang telah diakibatkan oleh adanya ide "dosa".

Apakah orang agnostik melakukan apapun asal dikehendakinya?

Dalam satu hal tidak, dilain hal siapapun akan melakukan apa yang dikehendakinya. Kalau misalnya Anda begitu membenci seseorang sampai Anda mau membunuhnya: Kenapa tidak? Anda akan menjawab: "Sebab agama mengatakan bahwa pembunuhan adalah dosa." Namun dalam kenyataan statistik, orang-orang agnostik tidak lebih cenderung melakukan pembunuhan dari pada orang lain, dan kenyataannya kecenderungan mereka memang lebih kecil.1 Mereka mempunyai motif sama untuk tidak melakukan pembunuhan sebagaimana orang lain. Jauh dalam lubuk hatinya, motif paling kuat adalah takut dihukum. Namun dalam keadaan tanpa hukum, seperti demam menambang emas, segala macam orang akan melakukan kejahatan, meski dalam keadaan normal mereka adalah orang-orang yang taat pada hukum. Bukan hanya karena adanya hukuman, tapi juga ada rasa tidak nyaman mengetahui hal menakutkan itu, dan rasa sepi karena mengetahuinya, untuk menghindari kebencian orang, anda harus memakai topeng meski dengan teman terdekat anda sekalipun. dan dan ada lagi yang sering disebut "conscience": Jika anda pernah berangan-angan untuk membunuh, anda akan takut pada ingatan yang mengerikan saat-saat terakhir tubuh korban anda tak bernyawa. Semua ini benar, ya, tergantung pada kehidupan anda dalam masyarakat yang taat hukum, tetapi banyak sekali alasan-alasar non agama/sekuler yang dipakai untuk menciptakan dan dan mengabadikan masyarakat demikian.

Saya katakan ada alasan lain mengapa siapapun akan melakukan apa yang diinginkannya. Tak seorangpun kecuali orang tolol yang menuruti segala keinginan, tetapi apa yang menahan keinginan in check adalah selalu merupakan meinginan yang lain. Keinginan anti-sosial seseorang dapat di kendalikan oleh keinginan untuk menyenangkan Tuhan, tapi dapat juga dikendalikan oleh keinginan untuk menyenangkan teman-temannya, atau mendapatkan respek penghormatan dari masyarakatnya, atau agar dapat mencitrakan dirinya sendiri tanpa rasa jijik. Namun jika tak memiliki keinginan-2 tersebut, maka satu-2 nya aturan abstrak moralitas tak akan dapat meluruskan orang itu.

Bagaimanaka anggapan orang agnostik terhadap Injil?

Orang agnostik menganggap Injil tepat sebagaimana yang dianggap oleh seorang administrator yg bijak. Tidak dianggapnya sebagai wahyu illahi; akan dianggapnya sebagai legenda sejarah awal, dan tak lebih akurat dari pada yang tertulis dalam Homer; dianggapnya ajaran moral yang terkandung didalamnya kadang baik, tapi kadang sangat buruk. Misalnya, Samuel memerintahkan Saul dalam perang untuk tidak saja membunuh tiap laki-laki, wanita, dan anak-anak lawan, tapi sampai semua biri-biri dan ternak sapinya. Namun demikian Saul tetap membiarkan biri-biri dan ternak sapi hidup, dan untuk hal ini kita disuruh mengutuknya. Saya tak pernah mampu menyenangi Elisha karena mengutuki anak-anak yang mengolok-oloknya, atau mempercayai (yang dinyatakan Injil) bahwa Dewa yang baik hati akan mengirimkan beruang jadi-jadian untuk membunuh anak-anak tersebut.

Bagaimanakah anggapan orang agnostik terhadap Jesus, Kelahiran oleh Sang Perawan, dan Trinitas yang Suci?

Karena orang agnostik tidak percaya Tuhan, tak dapat dipercayai bahwa Jesus adalah Tuhan. Kebanyakan orang-orang agnostik menghargai kehidupan dan ajaran Jesus sebagaimana ditulis dalam Injil, tetapi tidak harus melebihi penghargaan terhadap orang lain. Ada yang menempatkan Jesus sama dengan sang Buddha, sebagian dengan Socrates dan dan lainnya dengan Abraham Lincoln. Mereka juga tidak menganggap apa-apa yang dikatakannya tidak boleh dibantah, oleh karena orang Agnostik tidak menerima suatu otoritas sebagai hal yang absolut.

Orang Aganostik Menganggap Kelahiran Sang Perawan sebagai satu doktrin yang diambil dari mitologi pagan/kafir, dimana kelahiran demikian bukan hal yang aneh (Zoroaster dikatakan terlahir dari seorang perawan; Ishtar, the dewi Babylon, yang disebut sebagai the Holy Virgin/Perawan Suci). Mereka tak dapat memberikan kepercayaannya kepada hal tersebut, ataupun kepada doktrin Trinitas, karena keduanya tidak mungkin tanpa adanya kepercayaan pada Tuhan.

Dapatkah orang agnostik menjadi penganut Kristiani?

Kata " Kristiani" mempunyai berbagai makna dalam waktu yang berbeda. Selama berabad-abad sejak jama Kristus, kata itu berarti orang yang percaya apada Tuhan dan keabadian dan serta bahwa Kristus adalah Tuhan. Tetapi kaum Unitarians menyebut diri mereka penganut Kristiani meski tidak percaya akan keIlahian Kristus, dan banyak orang saat ini menggunakan kata "Tuhan" dengan arti yang kurang pas dibandingkan dengan arti jaman sebelumnya. Banyak orang yang sekarang mempercayai Tuhan tidak lagi bermakna person/manusia, atau trinitas dari person, namun hanya berupa kecenderungan kabur atau kekuatan atau maksud dan tujuan immanent dalam evolusi. Lebih jauh lagi, orang lain mengartikan "Kristianitas" hanyalah sebuah sistem etika yang dibayangkan sebagai karakter penganut Kristiani saja, karena mereka tidak peduli dengan masalah kesejarahan.

Dalam buku yang baru diterbitkan, ketika saya katakan bahwa apa yang diperlukan dunia adalah "cinta, cinta Kristiani, atau kepedulian/compassion," banyak yang menyangka hal ini menunjukkan adanya perubahan dalam pemikiran saya, meski kenyataannya mungkin saya katakan hal yang sama kapanpun. Jika yang Anda maksudkan "Penganut Kristiani" berarti orang yang mencintai tetangganya, yang sangat bersimpati terhadap penderitaan, dan yang sangat menginginkan agar dunia bebas dari kebuasan dan kebencian yang jaman sekarang ini diabaikan, maka jelas Anda mendapat justifikasi untuk menyebut saya seorang Kristiani. Dan dalam hal ini, saya kira anda akan dapat menemukan lebih banyak "penganut Kristiani" diantara orang-orang agnostik dibandingkan dalam kalangan orthodoks. Namun menurut saya, Saya tak dapat menerima definisi demikian. Selain penolakan lainnya, namapaknya agak kasar bagi orang Yahudi, Buddhis, Muslim, penganut non Kristianilainnya , yang sepanjang sejarah ditunjukkan oleh sejarah, paling tidak cenderung untuk melakukan moralitas diklaim dengan arogan oleh penganut Kristiani sebagai unik milik agama mereka sediri.2

Saya kira juga bahwa siapapun yang menyebut diri penganut Kristiani di jaman-jaman awal, dan sebagian besar orang yang melakukannya sampai saat ini, akan menganggap bahwa kepercayaan pada Tuhan dan immortalitas adalah essensial bagi penganut Kristiani. Dengan dasar ini, saya menyebut saya sendiri sebagai penganut Kristiani, harus saya katakan bahwa orang agnostik tak dapat menjadi penganut Kristiani. Namun jika kata "Kristianitas" ternyata digunakan secara umum dulunya hanya berarti sejenis moralitas, maka jelaslah mungkin bagi seorang agnostik untuk menjadi penganut Kristiani.

Apakah Orang agnostik menolak bahwa manusia punya Jiwa?

Pertanyaan ini tidak mempunyai arti yang tepat kecuali kita diberi definisi dari kata "jiwa". Saya kira yang dimaksudkan secara kasar adalah sesuatu nonmaterial yang berada dalam seluruh hidup seseorang bahkan, bagi yang mempercayai immoralitas, sepanjang waktu-waktu yang akan datang. Jika yang begitu maksudnya maka orang agnostik mungkin tidak akan percaya bahwa manusia mempunyai jiwa. Tetapi akan segera saya tambahkan bahwa hal ini tidak berarti orang agnostik pasti penganut materialis. Banyak orang-orang agnostik (termasuk saya sendiri) sangat ragu pada tubuh sebagaimana ketidak tahuan mengenai jiwanya, namun ini adalah cerita lama untuk mempertimbangkan metafisik yang sulit ini. Baik jiwa maupun materi harus saya katakan adalah simbol yang mudah dalam satu diskursus, sebenarnya bukan sesuatu yang eksis.

Apakah orang agnostik percaya Akhirat, Surga atau Neraka?

Pertanyaan mengenai apakah orang akan hidup setelah mati adalah pertanyaan mengenai bukti mana yang memungkinkan. Riset fisika dan spiritualisme dianggap oleh banyak orang dapat memberikan buktinya. Orang agnostik dengan demikian tidak mempunyai pandangan mengenai kelangsungan jiwa kecuali dianggapnya ada bukti yang serba sedikit-pun. Menurut pandangan saya sendiri, saya anggap tidak ada alasan memadai untuk mempercayai bahwa kita akan hidup lagi setelah mati, namun saya terbuka untuk percaya jika ada bukti yang memadai.

Surga atau neraka adalah hal lain lagi. Percaya pada adanya neraka terikat pada adanya kepercayaan bahwa hukuman pembalasan artas dosa adalah hal yang baik, sangat terpisah of dari tujuan pencegahan atau perbaikan yang mungkin dapat diberikan. Orang agnostik hampir tak percaya akan hal ini. Sehubungan dengan surga, barangkali ada bukti yang dapat diraba dengan eksistensinya melalui spiritualisme, namun kebanyakan orang-orang agnostik menganggap tidak ada bukti demikian, dan oleh karenanya tidak mempercayai adanya surga.

Apakah anda tak pernah takut pada pembalasan Tuhan karena menolak-Nya?

Tentu tidak. Saya juga menolak Zeus dan Jupiter dan Odin dan Brahma, namun hal ini tidak menyebabkan kebingungan/keraguan bagi saya. Saya perhatikan bahwa sebagian besar dari ummat manusia tidak percaya tuhan Tuhan dan tidak menderita hukuman yang nyata karenanya. dan jika memang ada Tuhan, saya kira Tuhan itu tidak akan merasa tak nyaman karena ditolak eksistensinya.

Bagaimana Orang Agnostik menerangkan keindahan dan harmoni Alam?

Saya tak tahu dimana ketemunya "keindahan" dan "harmoni". Dalam kelompok kerajaan binatang, binatang-binatang itu saling memakan. Kebanyakan dari mereka terbunuh dengan kejam oleh binatang lain atau mati pelan-pelan karena kelaparan. Menurut saya sendiri, saya tak bisa melihat keindahan luar biasa atau harmoni dalam diri Cacing Pita. Janganlah dikatakan bahwa binatang ini dikirim sebagai hukuman atas dosa-dosa kita, sebab binatang itu lebih banyak terdapat pada binatang lain dibandingkan manusia. Saya kira si penanya sedang memikirkan keindahan langit yang penuh bintang. Akan tetapi harus diingat bahwa bintang kadang meledak dan menghancurkan tetangga sekitarnya menjadi asap yang gelap. Keindahan, dalam segala hal adalah subyektif dan hanya ada di mata orang yang memandangnya saja.

Bagaimana Orang Agnostik menjelaskan mukjizat dan wahyu lain dari Tuhan YME?

Orang-orang agnostik beranggapan tidak ada bukti "mukizat" dengan arti kejadian-kejadian yang bertentangan dengan Hukum Alam. Kita tahu bahwa penyembuhan dengan iman dapat terjadi dan sama sekali bukan mukjizat. Di Lourdes, penyakit tertentu dapat disembuhkan dan lainnya tidak dapat disembuhkan. Yang dapat tersembuhkan dapat saja disembuhkan oleh dokter manapun terhadap pasien yang beriman. Menurut catatan mukjizat lain, seperti Joshua yang memerintahkan Matahari agar diam, orang agnostik menolaknya dan menganggap hanya legenda dan menunjukkan bahwa semua agama penuh dengan legenda yang begitu. Sama banyaknya mukjizat yang ada pada dewa-dewa Yunani dalam cerita Homer seperti halnya Tuhan Kristiani dalam Injil (dan Islam – sasis).

Banyak nafsu rendah dan jahat yang ditentang agama. Jika Anda meninggalkan prinsip-prinsip keagamaan, dapatkan umat manusia terus eksis?

Adanya nafsu rendah dan jahat tak dapat ditolak, tapi tak saya temui bukti dalam sejarah bahwa agama agama-agama telah menentang nafsu-nafsu tersebut. Sebaliknya, malah disucikan, dan memungkinkan orang untuk mentolerirnya tanpa rasa sesal. Hukuman kejam lebih umum terjadai dalam Kristiani dibandingkan tempat lainnya. Apa yang nampak dapat membenarkan hukum mati adalah kepercayaan dogmatis. Keramahan dan toleransi hanya terjadi sejalan dengan berkurangnya kepercayaan dogmatis. Dalam jaman kita sekarang, agama baru yang dogmatis, yakni komunisme telah muncul. Untuk itu, sebagai mana terhadap sistem dogma lainnya, orang agnostik ditenentangnya. Ciri hukum-menghukum komunisme jaman ini persis seperti Ciri hukum-menghukum Kristianitas di abad dahulu. Dengan berlangsungnya waktu, Kristianitas kurang cenderung menghukum, ini adalah hasil kerja para penganut berfikir bebas yang menjadikan penganut dogmatis berkurang ke-dogmatisannya. Jika mereka tetap dogmatis seperti jaman dulu, mereka akan tetap menganggap benar membakar orang yang tak percaya. Semangat toleransi yang dianggap oleh penganut Kristiani modern sebagaimana Kristiani, pada kenyataannya merupakan produk moderasi yang memperkenankan ketidak-jelasan dan mencurigai kepastian absolut. Saya kira siapapun yang meneliti sejarah tanpa memihak akan menuju kesimpulan bahwa agama-agama telah mengakibatkan penderitaan dari pada yang telag diselamatkannya.

Apakah arti hidup bagi Orang Agnostik?

Saya cenderung menjawabnya dengan pertanyaan lain: Apa maksudnya "arti hidup" ? Saya kira itu adalah apa yang dimaksudkan sebagai tujuan umum. Saya tidak menganggap bahwa hidup itu ada tujuannya. Cuma asal terjadi saja. Tetapi tiap individu memiliki tujuan hidup tertentu, dan tak ada alasan dalam agnostisisme untuk meninggalkan tujuan-tujuan hidup ini. Tentu mereka tidak pasti yakin akan dapat mencapai hasil yang diusahakannya; namun anda akan menganggap gila jika seorang tentara menolak tugas bertempur sampai ia yakin pasti menang. Orang yang memerlukan agama untuk menekankan tujuan hidupnya sendiri adalah orang yang ketakutan, dan saya tidak dapat menanggapnya pula sebagai orang yang mencari jalan aman, meski mengakui juga bahwa kekalahan bukan merupakan hal yang tak mungkin.

Apakah penolakan terhadap agama berarti penolakan terhadap perkawinan dan kesetiaan?

Lagi, hal ini akan dijawab dengan pertanyaan: Apakah orang yang mempertanyakan ini percaya bahwa perkawianan dan kesetiaan dapat meningkatkan kebahagiaan di dunia, atau apakah ia mengaanggap bahwa perkawinan dan kesetiaan itu, meski menyebabkan kseusahan di dunia, dipakai sebagai alat mencapai surga? Orang yang mengambil pandangan terakhir jelas tak dapat mengharapkan agnostisisme akan menyebabkan menurunnya moralitas, namun harus kita akui bahwa moralitas adalah sebab utama adanya kebahagiaan umat manusia dalam kehidupannya di dunia. Jika sebaliknya ia mengambil pandangan pertama yaitu bahwa ada argumen yang membumi untuk perkawinan dan kesetiaan, harus juga diyakininya bahwa argumen-argumen ini mesti meyakinkan juga bagi orang agnostik. Orang agnostik dengan demikian tidak mempunyai pandangan berbeda mengenai moralitas seksual. Akan tetapi kebanyakan akan mengakui bahwa, ada argumen yang shahih untuk menentang toleransi terhadap nafsu seksual tanpa kendali. Namun demikian, akan mendasarkan argumen ini pada sumber-sumber membumi yang jelas dan bukan berdasarkan digaan perintah keilahian.

Apakah keimanan karena logika saja merupakan kepercayaan yang berbahaya?

Bukankan logika tidak sempurna dan tidak memadai tanpa hukum spiritual dan moral? Tak seorangpun yang mau memakai otak meski ia agnostik, "hanya mengimani logika saja". Logika berkaitan dengan kenyataan, sebagian teramati, sebagian lagi disimpulkan. Pertanyaan apakah ada kehidupan masa depan dan pertanyaan apakah ada Tuhan berkaitan dengan kenyataan, dan orang agnostik percaya bahwa pertanyaan-pertanyaan itu harus diselidiki mirip dengan pertanyaan, "Apakah akan ada gerhana rembulan besok?" Namun kenyataan saja tidak cukup untuk menentukan tindakan, karena tidak diberitahukan apa tujuan yang harus kita capai. Dalam wilayah tujuan-tujuan, kita memerlukan hal lain selain logika. Orang agnostik menemukan tujuan dalam hatinya sendiri dan bukan dalam perintah dari luar. Coba kita ambil contoh: Misalkan Anda ingin bepergian dengan kereta api dari New York ke Chicago; Anda akan menggunakan logika untuk mengetahui kapan kereta api berangkat, dan orang yang mengira bahwa ia punya kemampuan mengetahui atau intuisi yang menyuruhnya agar menyesuaikan dengan jadwal akan dianggap agak bodoh. Namun tak ada jadwal yang akan memberitahu bahwa pergi ke Chicago adalah bijaksana. Jelas dalam menentukan apakah hal itu bijaksana, ia mesti memperhitungkan fakta-fakta lain; namun dibalik segala fakta, ada tujuan yang dianggapnya cocok untuk diusahakan, dan bagi orang agnostik sebagaimana orang-orang lain, hal-hal ini termasuk dalam wilayah yang bukan wilayah logika, meski tidak harus bertentangan sama sekali dengan logika. Wilayah yang saya maksudkan adalah emosi dan perasaan dan keinginan.

Apakah anda menganggap semua agama sebagai bentuk takhayul atau dogma? Agama-agama mana yang Anda hormati, dan mengapa?

Semua agama besar dan terorganisir yang mendominasi umat manusia sedikit banyak mengandung dogma, tetapi "agama" adalah kata yang maknanya tidak pasti. Sebagai contoh Confucianism dapat disebut agama, meski tidak mengandung dogma. Dan dalam beberapa bentuk kepercayaan Kristen, elemen dogma diperkecil sampai minim.

Dari agama-agama besar sepanjang sejarah, Saya lebih cenderung Buddhisme, terutama dalam bentunya yang paling awal, sebab agama itu yang melibatkan hukuman paling minim.

Komunisme, seperti agnostisisme bertentangan dengan agama. Apakah orang-orang agnostik itu komunis?

Komunisme tidak menentang agama. Hanya menentang agama Kristiani saja, sebagaimana yang ditentang oleh agama Islam (Mohammedanism sic.). Komunisme, paling tidak dalam bentuk yang diciptakan oleh pemerintah Soviet dan Partai Komunis, adalah suatu sistem dogma baru yang maut dan banyak melibatkan penghukuman. Oleh karena itu, tiap orang agnostik asli mesti menentangnya.

Apakah orang-orang agnostik menganggap sains dan agama tak mungkin bersahabat?

Jawabannya kembali pada apa yang dimaksud dengan "agama". Jika hanya berarti sistem etika, agama dapat akrab dengan sains. Jika hanya berarti sistem dogma, yang dianggap sebagai mutlak benar, maka hal itu tidak cocok dengan semangat ilmiah/sains yang menolak diterimanya kenyataan tanpa bukti, dan juga menganggap bahwa kepastian mutlak jarang sekali tercapai.

Bukti apa yang dapat meyakinkan Anda bahwa Tuhan itu ada?

Saya kira jika saya dengar suara dari langit yang memprediksi segala sesuatu yang akan terjadi pada diri saya dalam waktu 24 jam mendatang, termasuk kejadian-kejadian yang sangat tidak mungkin, dan dan jika hal-hal itu terjadi betul, barangkali saya dapat diyakinkan paling tidak terhadap adanya intelegensia superhuman. Dapat saya bayangkan bukti-bukti lain sejenis yang mungkin dapat meyakinkan saya, namun sampai kini setahu saya tak ada bukti demikian.

Ryan Breedon untuk Philosophy for Everyone/ Filsafat untuk Siapapun,
24 Agustus 1997.

Diterjemahkan oleh Setya A. Sis, 1999